Sekiranya doa kita akan jauh berlayar.
Menembus ombak, bumi, angin
juga langitnya yang kekal. apa yang sedang diusahakan semuanya tinggal
diserahkan.
Pada Pemilik yang hakiki.
Saat masih belia, seperti remaja pada umumnya.
aku mendamba keluarga utuh yang bahagia. semua orang menyebutnya keluarga
cemara. walau aku tau, dari sisa serpihan itu tidak akan lagi terbentuk yang
namanya satu juga kerukunan. di dalam labirin pikiranku, Ibu dan Bapak
sebaiknya berpisah saja. daripada bentrok dan saling menyakiti satu sama lain.
namun tetap saja, kepalaku yang keras ini masih mendambakan keluarga yang damai
sejahtera, juga aman dan mapan tentunya.
Sampai kini, aku sudah hampir di kepala tiga.
cita-cita itu masih terkubur di alam bawah sadarku. tapi mungkin sebaiknya
tetap terkubur seperti itu, sampai suatu hari aku berani menatap mata Bapak dan
meminta restu untuk menikah. ya, beberapa bulan lagi tentunya.
Bagaimana dengan Ibu? harus ku katakan, bahwa
pasanganku sangat beruntung mendapatkan calon mertua sekaligus sosok Ibu
selembut Ibuku. beliau tidak menuntut apapun selain kesetiaan dan tanggung
jawab juga cinta yang cukup untuk putrinya.
Itu bukan berarti Bapak tidak baik. aku percaya,
dia melepaskan putrinya yang akan berkeluarga dengan hati yang berat. namun meminta
seseorang menjaganya, karena tugasnya gagal melindungi putrinya dari kejamnya
dunia.
Setelah ini, setelah rencana panjang dibuat dan cinta terus
dirawat. hati disirami dengan kesejukan dalam kebersamaan. kalaupun impian
gadis belia tentang keluarganya sudah lama terkubur. di satu hari yang lain,
cinta kasih terlahir dari keretakan yang indah.
Ini doa kecil di saku usia. saat tidak lagi muda dan beranjak menjadi orang dewasa. agak sulit karena arah ini seakan berkabut. tapi doa ini selalu terselip di antara jutaan bintang di langit mimpi.

0 comments:
Post a Comment