Berlinang

Ada banyak hal yang sekiranya membuatku tidak nyaman akhir-akhir ini.

Orang di sekitar, hubungan keluarga, juga pekerjaan yang disertai prasangka yang berkabut. aku beritahu garis besarnya, bahwa aku adalah orang yang sangat perasa. aku bisa mencium aroma kebencian yang tersimpan dari jarak jauh. entah itu hanya intuisi atau apa, ada bagian diriku yang merasa tidak nyaman apabila seseorang mulai menaruh perasaan tidak menyenangkan terhadapku.

Ketahuilah, bahwa aku selalu menjaga ucapanku agar tidak menyakiti orang di sekitarku. tapi apa kau tau balasannya? mereka melanggar batasku, menganggapku lemah, masih muda dan tak berdaya. mereka merendahkanku dan melucuti harga diriku. aku tidak melawan dan berusaha memaafkan dalam diam. biar Tuhan yang membalas, begitu kataku dalam hati.

Aku tahu perjalanan menuju hati orang lain itu susah. sebagaimana hubungan antara kami berdua menuju jenjang serius mengalami banyak badai dan ombak. pada akhirnya, aku harus menyesuaikan diri.

Aku tahu banyak kalimat tidak menyenangkan yang ku dengar dengan sendirinya. membuatku merasa malu, sedih bahkan menangis dalam hati. mungkin kekasihku menyadarinya. lalu segera menghiburku dengan mengalihkan ke topik lain. sekiranya, jika sudah merasa diterima aku pasti bahagia.

Tapi? penolakan-penolakan itu? sangat membuatku terpukul. kalimat yang bagaikan pisau tajam dari orang yang seharusnya dihormati justru sangat menyakiti. sesusah ini memiliki hati yang sensitif dan penuh melankolia. rasanya aku ingin menutup wajahku dengan kedua telapak tangan lalu lari sejauh mungkin dari kerumunan yang bernama keluarga besar.

Sejujurnya, aku tidak pandai menempatkan diri di antara hingar-bingar. membuatku terlihat seperti orang yang kehilangan arah. tapi selama dia di sampingku, merangkul lenganku dan menenangkan hatiku. sungguh, aku butuh itu. aku butuh perisai, aku butuh pelindung. dari kata-kata jahat dan prasangka buruk manusia.

Ini seperti badai yang mulai deras hantamannya. mungkin aku harus mulai terbiasa pada keadaan. menghadapinya dengan kepala dingin dan hati yang tenang. sekuat apapun badai itu, sedahsyat apapun guncangannya. semua akan berlalu.

Aku juga sadar tidak mampu menyenangkan semua orang, bahkan jika ada seseorang yang membenci kita tanpa alasan maka dia akan tetap membenci apapun yang kita lakukan. jadi, biasakanlah wahai diri.

Pada akhirnya dia sadar

Bahwa tidak bisa menyenangkan semua orang. tidak bisa membuat orang lain menyukai dirinya. jadi dia membiarkannya. termasuk menerima prasangkanya dan berkata lalu kenapa?

Lagipula dia mulai terbiasa. membiarkan semua hal berjalan yang semestinya. toh, hidup hanya sementara saja bukan?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram