Bahkan jika sebagian dari diriku tidak ingin
mengakuinya, tapi tahun ini terasa mendebarkan. aku tidak pernah membayangkan bahwa
suatu hari akan menikah. mengingat trauma yang menancap di hidupku begitu
dalam. tapi lihatlah, bagaimana Semesta bekerja. dari sini aku sungguh percaya,
bahwa setiap orang mempunyai ‘waktunya’.
Lihatlah, menengok ke belakang. melihat semua
kesakitan yang pernah kurasakan. bahkan aku pernah di titik begitu membenci
diriku sendiri. sebagaimana aku membiarkan orang lain menyakitiku dengan
perkataan maupun perbuatan mereka. diam-diam ku bangun kebencian pada tubuhku,
tempat nyawa yang Semesta berikan bersemayam.
Di suatu hari yang cerah, aku melihat diriku
yang sudah cukup usia sebagai orang dewasa tidak tertarik pada dunia luar. aku
hanya bisa menangis dan merasa tersisihkan dari kehidupan sosial. ah,
aku bisa melihatnya menangis diam-diam sebab dirinya juga ingin tahu rasanya
jatuh cinta, mencintai dan dicintai. dia juga ingin merasakan apa arti pelukan
dan apa itu dirayakan. aku bisa merasakan bagaimana pedihnya hatinya saat
orang-orang mulai berbicara mengenai hubungan sementara ia menangisi dan
meratap diri kenapa tidak ada yang mencintainya sama sekali?
Bagaimana jika aku tidak
mulai membuka hati?
Mungkin penderitaan dan
kesepian akan selamanya menyelimuti.
Pada akhirnya aku sadar, yang membuatku begitu
sedih selama ini adalah aku selalu menutup pintu hatiku dan enggan membukanya
pada siapapun. aku menutup mata dan hanya melihat dunia dari sisiku. aku tidak
peduli pada urusan mahluk lain di luar sana tapi aku membutuhkan kasih sayang
mereka. egois, benar bukan?
Bulan ini genap tahun ketiga kami bersama. jauh,
penuh liku, warna juga cerita. satu hal yang akhirnya aku rasakan adalah
bagaimana menjadi apa adanya. hati yang juga terbuat dari kelembutan itu
mendampingi kerasnya hatiku. membuatku percaya bahwa aku juga layak dicintai
sebagai manusia. bahwa aku juga berhak mendapatkan cinta yang setara. bahwa
ketidaksempurnaan-ku ada yang menerima, juga kurangku ada yang melengkapinya
Aku rasa sudah banyak bercerita tentangnya. dari
awal aku menulis adalah untuk menuangkan segala gundah gelisah yang tidak bisa
aku sampaikan dengan sesama manusia. aku tahu mereka mendengarkan, aku tahu
mereka menyimak, aku tahu mereka bernalar, tapi tetap saja aku suka menulis
karena itu terasa lebih melegakan. bukankah setiap orang punya caranya sendiri
mengusir perasaan cemas dan ketegangan?
Ah, titik Temu. bagaimana
bisa kalimat takdir terhubung dengan daratan itu benar terjadi?
Mengira semua itu hanya kiasan belaka. ternyata
di alam Semesta ini ada pola yang selalu terhubung dengan benang merah antar
satu sama lain. sehingga, ketika membayangkan hal yang mustahil dan menuangkannya
kepada media, kau akan mendapatinya pada realita. ketahuilah bahwa aku suka
berkhayal sedari kecil. membayangkan beberapa peristiwa terjadi di masa depan.
mengembara pikiran pada rencana yang masih berupa sketsa khayalan. aku suka
membawa ketidakmungkinan itu menuju tempat tak terbatas.
Jangan tanya mengapa aku bisa mempunyai seorang
kekasih. itu karena pada kehidupan yang sunyi dan penuh tangisan, aku menatap
langit dengan mata berkaca-kaca dan berdoa dengan hati yang tulus agar suatu
hari Semesta mempertemukanku dengan titik temu. melangitkan keinginan tentang
segala kemustahilan yang saat itu aku sendiri tidak percaya akan
mendapatkannya.
Semua ini membawaku tahu arti mencintai dan
dicintai. arti diterima dan menerima, arti mengasihi dan dikasihi. arti
memaafkan untuk membentuk kembali. arti toleransi dan memaklumi. arti berjalan
beriringan dan mengambil keputusan. tahu bagaimana menjadi orang dewasa yang di
hati masih penuh jiwa kekanakan.
Semoga penantianmu tidak sia-sia. semoga sukacita segera mengembara. semoga kekosongan lekas terisi dengan cinta. semoga dendam terlepaskan dan hati yang bersih terlahir kembali. semoga hal-hal baik turut menyertai perjalananmu menuju bahagia ~
0 comments:
Post a Comment