Memang seperti apa bentuk
hidup yang sempurna itu?
Dua puluh delapan tahun berwujud manusia, ada
begitu banyak rahasia yang hanya bisa terungkap oleh kuasa sang waktu. kita
semakin tua, lambat dan kurang bertenaga. tubuh kita mulai menunjukkan
perubahan sebagai fisik orang dewasa. aku merasakannya, bagaimana diriku sudah
mulai belajar banyak menerima. ah, ternyata ada hal yang benar-benar atas kuasa
semesta. ada hal yang masih bisa diusahakan, ada hal yang bisa diubah, ada hal
yang sudah paten.
Mencari sudut pandang baru sepertinya akan
begitu keras mengakar pada pemahaman yang sudah berpuluh tahun diadopsi. ini
pekerjaan sia-sia bagi sebagian diri yang malas berkembang. menekuni apa yang
sudah terbiasa dilakukan jauh lebih mudah dibanding memulai semua dari awal.
kita pernah patah dan dibuang, maka dari itu sudah cukup rasa sakit karena
tubuh menolak hal itu terulang.
Tapi satu hal yang aku percayai. tidak ada
kebaikan yang sia-sia. hukum tabur tuai itu nyata. sebagaimana rasa setiamu
akhirnya berbuah manis. bukti akan rasa percaya dan niat hidup bersama. sebuah
perasaan haru yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. ternyata aku
sebuah tujuan, aku sama berartinya dengan orang-orang yang ku kagumi. aku sama
berharganya untuk diperjuangkan. aku merasa nyata, tidak merugi dimiliki dan
memilih orang yang memilihku sejak awal.
Tiga tahun bukan hubungan yang sebentar. doa dan
air mata, jatuh bangun bersama. entah sudah berapa kali kami saling memaafkan.
sudah berapa kali dia melihatku menangis dan merengek seperti anak kecil karena
masalah sepele. sudah berapa kali kami berdiam diri karena masing-masing
memangku gengsi. justru dirinyalah yang paling mengalah. dirinya yang kerap
mengakui salah. aku tidak perlu orang di sekitarnya menyukaiku, asalkan dia tetap
berada di pihakku. membelaku, menyayangiku, menghargaiku, memperjuangkanku dan
mencintaiku.
Aku patut bersyukur sebab dari awal ini adalah
tipe hubungan yang mana ibuku mendukungku. aku tidak pernah berpacaran. dari
ibu jalan ini berasal, dari tempat yang tak diduga. perlahan dia mendekatiku
dan entah kenapa, hatiku terbuka untuknya. akhirnya, kami bisa saling menyatu.
semoga semua doa yang dirapal itu menemukan rumahnya. supaya kami bisa pulang
ke rumah yang sama. tempat lelah bersandar, tempat peluk berlabuh.
Setelah ini aku akan meninggalkan sifat lamaku
yang egois. aku akan bersama seseorang yang sudah memberikan jiwa dan raganya
untuk menjadi bagian dari kehidupanku. entah apa yang dilihatnya dari diriku,
aku hanya merasa ini sangat mengharukan. aku akan membiarkannya menggandeng
tanganku. membimbing dan mengarahkanku sebagaimana posisinya sebagai leader.
sesekali, mungkin aku yang akan meraih tangannya. mengajaknya keluar dari gua
tempatnya menyendiri setelah tenang. tidak selamanya ia kuat dan baik-baik
saja. ada kalanya dia rapuh seperti kelopak bunga yang jatuh di rerumputan. aku
tahu betul, pria adalah mahluk tangguh dengan maskulinitas tinggi. namun, di
balik itu semua ia tetaplah manusia yang memiliki sisi lain yang disembunyikan.
ia takut mengatakannya pada dunia, karena takut dianggap lemah.
Aku tahu itu, tidak masalah. karena aku bersedia mengulurkan tanganku untuknya. sebagaimana yang dilakukannya setiap waktu kepada diriku yang kerap kehilangan arah
Aku tahu apa yang aku rasakan. mencintai dengan
jiwa, intusi dan juga doa adalah cara terbaik yang bisa dilakukan seorang
wanita ketika hatinya tulus terbuka. tapi ini bukan kelemahan, justru kekuatan
spiritual yang diam namun berani bahkan tanpa diminta sekalipun. kehadiranku
bukan hanya dari raga semata tapi roh terbangun di antara kesadaran. namun saat aku lelag terjaga seorang diri,
energy pun bisa menjauh. badai mulai berdatangan bukan karena mengutuk tapi Semesta
menata ulang keseimbangan.
Sebagaimana yang pernah ku katakana pada tulisan
pertamaku bahwa ;
“Bukankah cinta adalah keseimbangan? antara
pikiran dan perasaan, hati dan logika, emosional dan rasional. sebab rasa itu
bukan sebuah pelampiasan. bukan permainan pada kalah atau menang. tetapi juga
bukan emosi yang terus berkecamuk. yang membuat banyak perumpamaan layaknya
tokoh dalam tulisan. bukan idealism yang tertuang pada buku-buku pergerakan.
bukan pula kalimat indah yang banyak tertera pada kata bijak di luar sana.
bukan romantisme dalam imajinasi apalagi ilusi belaka. karena rasa itu tetap
tinggal jika ada komitmen di dalamnya”
Namun dari siapa?
Dari kita; dua energi yang memilih terikat menjadi sepasang. dua orang yang memilih merajut takdir. dan dua perbedaan yang mengukir keseimbangan. karena tujuan yang sama, karena keinginan yang juga sama. semoga doa yang menjelma menjadi benteng dan perisai tetap berdiri kokoh di antara badai yang menimpa. doa ini tiada merugi sebab percayalah, Semesta selalu mendengarnya ~

0 comments:
Post a Comment