Gelombang Theta

Apa kau suka tidur? apa kau sering mengantuk? apa kau lebih memilih tidur daripada keluar dengan teman-teman? selamat. kau memasuki gelombang di ambang dewasa. sebagaimana hidup mendewasakan seseorang lewat penderitaan yang berdampingan dengan kebahagiaan. tidur adalah salah satu metode survive yang aku gunakan untuk melembutkan hatiku. mengurangi penatku, memecah stress di kepalaku. juga memadamkan euforia yang bergejolak sendu.

Entah kenapa tidur terasa menyenangkan apabila tubuh benar-benar lelah. seperti case sepulang kerja, aku bisa berjam lamanya tidur untuk melepas penat. karena timbul tenggelam pada masalah memuakkan, padahal aku lupa bahwa semua itu akan berlalu. aku tidur bukan untuk lari. percuma, hal itu akan memburu dan menggentayangi di mimpi. aku tidur bukan untuk bersembunyi. dia akan menemukanku di tempat paling sunyi. aku tidak tidur untuk menghibur diri. kenapa? di dalam mimpi sesuatu bahkan menyadarkanku untuk tetap bangun. jadi untuk apa memotong dan menghubungkan dari awal kembali ?

Tapi bahkan ketika tidur. kekhawatiran tidak bisa lenyap jika kita belum menemukan ketenangan di dunia nyata. apa kau senang tidur dalam keadaan penuh masalah? bukankah hal itu akan mengikutimu sampai di dunia mimpi? itu tidak enak bukan?  kita seperti dilingkupi dengan atmosfer ketakutan. lebih seram dari apapun yang disebut dengan hantu. ia seperti bayangan yang siap menerkam tanpa belas kasihan. karena itulah, kadang beberapa orang justru takut untuk tidur. bukan karena takut untuk istirahat tapi takut untuk menemui bayangan itu di sana. berjumpa dengan mereka ketika menutup mata adalah rencana buruk untuk bertahan hidup.

Seperti itulah kesedihan lama menggema. ada pelukan yang kosong menunggu tuannya. menunggu segala sesal diraih dengan bijaksana. percobaan menghukum diri dengan tidur apa kau pernah mendengarnya? pernah di tahun 2019 akhir hingga 2022 awal aku melakukan hal itu. masa itu begitu getir. aku terlambat lulus dari kebanyakan kawanku. berkutat dengan skripsi yang terus direvisi. dengan ilusi perasaan yang tidak nyata sambil menyusun prasangka bahwa aku sedang dicintai. ah, muda sekali hatiku sewaktu itu. masih polos dan lugu menanggapi kebaikan seseorang sebagai perasaan disukai. aku terus menunggu dengan amarah dan air mata. pada akhrinya aku memiliki keberanian untuk pergi. sewaktu itu aku menghukum diriku dengan terus tidur di siang hari. akibatnya, berat badanku turun drastic waktu itu. antara pikiran yang kacau, pola makan yang berantakan juga jam tidur yang semena-mena.

Rasanya aku lebih bisa menerawang jauh ke belakang. melihat kembali bagaimana diriku yang belia berdiri di sana. berambut pendek dengan baju merah tersenyum manis. suatu hari aku juga akan menjadi orang tua. semoga yang kulimpahkan kepada anakku adalah kehidupan yang tenang dan cukup juga bahagia. semoga ia bisa tidur lelap tanpa gangguan dan runyamnya pikiran yang seharusnya dipikirkan orang dewasa. 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram