Mungkin aku tidak pernah belajar dari masa lalu. bersikap baik dan jujur di tempat kerja itu tidak dibutuhkan. mengapa orang yang bekerja keras, jujur, rajin dan tanda kutip "penurut" dan pendiam dalam hal ini diartikan baik, tidak dihargai di dalam dunia kerja. kerap mendapatkan masalah, tidak tahu cara membela diri. dan justru dirundung dengan cemohan. tidak jarang menanggung pekerjaan di luar tupoksi mereka. sepertinya, orang seperti ini, terlihat begitu kaku dan mengikuti semua aturan. akan tetapi malah, terlibat dengan banyak permasalahan. ada saja tudingan dan pembicaraan yang tidak enak didengar. aku sepertinya tidak belajar dari kesalahan.
Bahwa, terlalu terbuka pada orang-orang di tempat kerja itu justru mematikan. mereka akan memanfaatkan kebaikan kita, menggunjing di belakang, menuduh dengan segala macam ketidakmungkinan yang berenang di kepala mereka. mungkin beberapa orang tidak mau ambil pusing, tapi yang dipertanyakan adalah. mengapa mereka yang tidak becus dalam melakukan pekerjaan justru mendapat pujian dan jarang sekali terlilit masalah tapi justru ketika aku tidak ada niat untuk berbuat culas sedikitpun malah terlibat dalam segudang masalah.
Ini menjadi tanda tanya besar. apa semesta bekerja mengawasi setiap tindak tanduk pada pekerjaan kita? atau membiarkan lepas saja semestinya. ini sangat ganjil dipikirkan, bahkan untuk di nalar sekalipun. aku tidak bisa menerima ketidak-adilan yang terkesan memaksa ini. aku butuh rasa aman dan tenang. jika memang menjadi jahat dan arogan bisa dihargai, aku mungkin akan memilih itu mulai dari sekarang. menjadi baik, jujur, penurut, rela berkorban adalah sesuatu yang sia-sia. perasaan curiga dan waspada dirasakan orang lain terhadap kinerjaku yang sungguh sudah totalitas dalam mengembannya. aku sangat sedih, aku marah, aku frustasi, aku ingin menangis. begini rasanya tidak dipercayai dan tidak dihargai. kalau boleh saja aku mendapatkan jawaban atas kegelisahan ini, aku pasti akan merasa lega.
Dulu, di tempat lama juga seperti itu. aku selalu tidak enakan pada orang lain, berkorban perihal keuangan, memaklumi keegoisan dan sifat manipulatif rekan kerja, tidak pernah gosip, tidak pernah berhutang, penuh dedikasi dan rajin masuk setiap hari. memaksimalkan pendapatan, bahkan datang lebih awal untuk membersihkan tempat kerja, tidak pernah curang dan sering berbagi makanan dengan teman kerja. lalu apa yang kudapat? fitnah keji dari mulut kotor yang munafik. rasanya aku tidak akan pernah bisa memaafkan perlakuan jahat mereka kepadaku waktu itu.
Rasanya aku benar-benar terdzolimi saat dituduh dan tidak seorang pun percaya atau membelaku. rasanya duniaku runtuh saat rekanku sendiri mulai mengucilkanku. rasanya aku sangat menderita dan bahkan tidak memiliki kesempatan mengetahui di mana salahku. pada akhirnya aku menyerah dan memilih pergi dengan luka dan dendam yang membara. ternyata, diam-diam aku memendamnya. aku begitu merasa sakit dengan ketidak-adilan itu. aku meninggalkan semua perasaan sakit itu di belakang dan memilih lembar baru. sampai saat ini, aku bersumpah tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat itu. aku tidak sudi memaafkan orang-orang yang memfitnah dan memanfaatkan diriku. demi langit dan bumi, sampai sekarang aku masih meminta pada semesta agar membalas semua kebusukan mereka dengan caranya sendiri.
Kenapa aku menulis ini? itu karena aku seperti mengulang pola itu. itulah sebabnya aku seperti tidak belajar di masa lalu. aku membiarkan orang-orang menyakitiku, berkata kasar kepadaku, memfitnahku, berpikir buruk tentangku. sebegitu sulitnya menjunjung prinsip di tempat kerja. sebegitu besarnya harga yang harus dibayar untuk menjadi idealis di tengah kepalsuan yang ada. aku tidak marah, aku hanya bertanya. mengapa? menjadi jujur dan baik di tempat kerja itu tidak baik sedikitpun untuk diri kita? bagaimana jika itu memang sifat asli kita, yang tenang dan penurut seperti air mengalir? bagaimana jika setiap kali memberontak justru membawa bencana? di mana air mata bercucuran dan tubuh yang bergetar membuat tak sadarkan diri? bagaimana jika justru meluapkan amarah justru membuat kita semakin dijauhi dan dikucilkan karena kita tidak pandai mengutarakan perasaan.
Ketidak-adilan ini terus berlangsung. orang-orang bodoh yang memiliki banyak uang, mendapat kuasa dengan cara yang instan. ketika kita penuh dedikasi dan kejujuran hanya dianggap sebagai beban dan sumber masalah pada pekerjaan.
Ah semesta, bisakah kau menunjukkan kepadaku. apa arti menjadi baik dan jujur seumur hidupku? aku hanya mendapatkan perlakuan semena-mena. aku terus disalahkan untuk kedunguan dan obsesi orang-orang yang fatal. aku muak dan sungguh ingin berteriak kencang! biadab! persetan! sialan! bajingan!!
Dalam hatiku teriris, rasanya dikuliti hidup-hidup. setiap kata menusuk, setiap balasan menancap kuat di dada. menimbulkan rasa sakit tak terkira. menjadi karyawan biasa demi menyambung hidup, tanpa kuasa hanya etika. tanpa ambisi, tanpa prestasi sangatlah tertekan. hidup hanya menerima garis sebagaimana ditakdirkan. selebihnya dipenuhi prasangka dan bias trauma. aku sekarang menangis, karena merasa tidak ada yang bisa memahami bagaimana perasaanku saat ini. jadi saat ini, pelajaran yang bisa kuraih adalah hal apa yang paling tidak berguna di tempat kerja? bersikap baik, jujur dan penurut! camkan!! dunia kerja penuh kepalsuan dan kemunafikan! setiap dinding memiliki mata dan telinga, dan mereka yang bertahan adalah? yang paling manipulatif juga pandai berdusta di antara semua!
Amarahku, dendamku, sakit hatiku. aku menguncinya rapat-rapat, aku menunggu giliran semesta sendiri yang membukanya lalu boom!! dia akan membalas dengan cara yang sempurna. sampai keganjilan ini mereda, tidak akan pernah aku mengampuni mereka. camkan!
Namun, untuk saat ini. demi ketenangan batinku sendiri, aku akan melupakannya. aku akan menghapus peristiwa menyakitkan hari ini demi kedamaian jiwaku. aku percayakan pada hukum alam semesta, aku akan melupakan sembari menunggu kabar. bagimana mereka harus membayar setiap sakit yang aku rasakan. aku tidak akan membalas dengan cara manusia, sebab aku tahu akan kalah dan tidak tega. aku akan membiarkan semesta mengambil perannya. membalas perbuatan keji mereka satu-persatu sampai aku percaya, semesta benar-benar tidak meremehkan setiap perbuatan manusia.
Demi langit dan bumi, aku akan menyaksikannya. dengarlah semesta bicara; saat kau dizalimi dengan perbuatan maupun kata-kata, diam adalah kuburan paling tenang di antara semua pemberontakan yang ada. tapi dalam hatimu selalu percaya, semesta punya caranya sendiri untuk membalas mereka.

0 comments:
Post a Comment