Pada tubuhku, yang terlalu lama
aku biarkan bekerja sendirian. untuk menutupi luka yang tak sempat ku
sembuhkan. aku mencoba meraihmu kembali. merawatmu dari tempat paling enggan
aku selami. satu hal yang kini aku genggam dan pelajari adalah nyali. sebuah
keberanian membuka mata, melihat wajah trauma yang sesungguhnya. memeluknya
diam dan lama, seperti ini bentuk penolakan yang aku besarkan sejak belia.
patah dan rapuh. kusut dan lusuh. kesadaran yang membuatku terenyuh, dengan
penuh ragu kemalangan minta dibasuh.
Apa yang tidak kumiliki selama
ini? ini adalah tentang keberanian. satu hal yang tidak diajarkan oleh orang
terdekatku. aku begitu patuh dan lugu. menaati semua aturan dan berjalan lurus
ke depan. temanku yang sesungguhnya adalah kesendirian. aku penasaran bagaimana
rupa dari keberanian. hal-hal yang menantang yang hanya aku lihat dari balik
layar hp seperti mendaki gunung, berenang, belajar mengendarai mobil, jangan
terlalu muluk belajar bawa motor sendirian di padatnya jalan raya saja aku
tidak berani. apa lagi? mewarnai rambut? berteriak ketika marah dan emosi.
tidak menangis saat berdebat, berani menegur orang lain apabila melukai diri
kita. ah keberanian tidak pernah aku jadikan prinsip hidup sehingga aku selalu
tertinggal dan terbelakang.
Ada
banyak hal yang ingin aku coba lakukan. sayangnya, aku tidak punya cukup
keberanian untuk mencobanya. terlalu panjang pikiran ke depan, tentang
persiapan, tentang caranya, dan tentang risiko di dalamnya. aku tidak mau
merumitkan pikiranku sendiri hanya karena ingin mencoba ini dan itu. aku tahu
batasku dan sebaiknya pedoman itu aku bawa jika terus ingin hidup. tidak apa,
jika hal yang menantang sekaligus menguras adrenalin itu tidak pernah aku
cicipi. tapi bolehkah yang sederhana saja? seperti berani marah juga berani
tidak disukai. karena tubuhku sudah mencoba. kepribadianku sudah berusaha.
untuk hubungan antar manusia, menjadi baik tidak ada salahnya. namun untuk
banyak petualangan di luar sana, menjadi pengamat juga tidak apa-apa.
Tapi
ini cukup meresahkan bukan? di mana aku harus menyatakan bahwa aku menyimpan
keberanian untuk keberlangsungan hidupku. untuk kesehatan ragaku, untuk
keamanan mentalku. dari mana aku harus mengakui bahwa terkadang keberanian juga
bisa menjerumuskan pada kematian dan kekacauan. tidak selamanya keberanian itu
baik, terkadang kau harus mengerti batas tubuh dan mampumu sampai di mana.
jangan hanya karena ego dan pengakuan belaka menjunjung tinggi keberanian namun
akhirnnya mengacaukan keseimbangan. aku tidak sedang membuat pembelaan,
terkadang aku juga merasa minder karena begitu banyak kaum muda di luar sana
melewati tahap ketakutan versi mereka. itu hebat dan luar biasa.
Aku
ingin sedikit api keberanian menyala dalam diriku. tapi itu artinya melanggar
norma yang berlaku? atau tetap patuh pada aturan alam? aku masih mencari
jawaban yang logis. dari persepsiku bahwa selama itu tidak bertentangan dengan
keseimbangan kehidupan itu masih wajar dilakukan bukan? aku boleh marah ketika
orang lain sengaja menyakitiku bukan? aku boleh berteriak apabila ada orang
yang menggangguku bukan? aku boleh meluapkan kesedihan dengan merengek menangis
bukan ? karena selama ini pelampiasan atas segala emosiku adalah dengan diam.
mencerna setiap peristiwa dengan sendirinya tanpa memiliki sedikitpun
keberanian berkompromi dengan orang lain.
Bagaimana
memahami ini? pikiranku begitu rumit
memikirkan konsekuensi dari perbuatanku. bagaimana dampaknya terhadap orang
lain? bagaimana posisiku setelah ini? apakah dia akan membenciku? risiko apa
yang akan aku terima setelah perbuatan ini? bagaimana aku memperbaikinya lagi?
ah begitu banyak pikiran keluar kendali sehingga membuatku bingung sendiri.
itulah di mana keberanian enyah dari anganku.
Aku
tidak ingin tubuhku terluka, sungguh. sudah begitu banyak sayatan yang tak bisa
sembuh hingga sekarang. sepertinya alam bawah sadarku begitu terpukul dan
mencegah agar hal yang sama tidak terulang kembali. aku sudah membangun tembok
yang begitu tinggi agar tidak ada nyali yang keluar dan tidak ada keberanian
yang masuk. jika itu mengancam keselamatan diriku, aku tidak akan membiarkannya
lewat begitu saja. pada akhirnya aku memilih tetap terasing di kesunyian.
Mungkin
kalian salah satu dari orang sepertiku. atau justru mengutuki orang dengan
prinsip hidupku. ku beritahu rahasia kecil. aku tidak punya banyak keberanian
yang bisa aku bagi pada seluruh aktivitas di banyak bidang. ada beberapa saja
tapi itu aku totalitaskan. itu membuatku jauh lebih fokus dan terkendali. jadi,
tidak punya keberanian bukan kesalahan bukan? kita hanya perlu porsi untuk
membaginya. terlihat seperti pengecut namun itulah cara teraman untuk hidup
damai dan tenang.
Terima kasih sudah membaca tulisan kecil ini. semua ini aku tulis untuk mengingatkan betapa penting dan berharganya tubuhku. betapa indah anugerah Semesta menghidupi nyawaku. aku akan menjaganya. aku akan merawatnya dan menyembuhkannya dari trauma. aku berjanji akan menerima sepenuhnya. dari keberanian yang pernah aku lakukan. dari keberanian yang tetap aku sembunyikan. memaknai ulang kehidupan dengan penuh kesadaran.

0 comments:
Post a Comment