Berjalan Lebih Lambat

Boleh tidak aku berjalan lebih lambat? menjernihkan pikiran dari situasi rumit yang mengusik ketenangan? dari keputus asaan yang mencengkeram. dari omong kosong perihal kebijaksanaan. dari tuntutan kedewasaan. boleh tidak aku berjalan lebih lambat? diberikan pengertian yang halus dan lembut? dirangkul ketika sedang keruh. boleh tidak aku tidak ditinggalkan? tetap didampingi saat badai menghantam.

Apa tuntutanku terlalu banyak? bukankah aku sudah mengalah dari segala versi ego perempuan? tidakkah itu terhitung sebagai pengertian. aku sudah menyudahi kepentinganku, memprioritaskan posisi orang lain sesuai kesanggupan. namun tetap saja aku dikutuk sebagai pembuat onar. sebegitu jahatnya pandangan orang yang membenci kita dari lubuk hati terdalam.

Bolehkah aku berjalan lebih lambat? menerima garis yang sudah ditetapkan. kehidupan tidak memanjakanku begitu saja. ada perih, ada pahit juga getir yang kerap aku rasakan. aku sudah terlalu jauh kehilangan diri sendiri. menggantungkan kebahagiaan dan keberuntungan di pundak orang lain. akhirnya apa? tak lain hanyalah memanen kekecewaan.

Sendirian seperti ini, tidak ada arti yang cukup untuk mendefinisikan cinta pada diri sendiri. aku sudah lama terjebak pada perasaan memulai namun tidak pernah mengakhiri. semua bertubi menuntut hasil luar biasa. pada akhirnya, kekalahan ini hanya menjadi cambukan keras pada diriku sendiri. seperti sedang menjalani hukuman, aku terus kesepian dan tersisihkan di sepanjang jalan. aku harap bisa menghapus perasaan tidak berdaya ini, menyelesaikan apa yang sudah aku mulai tanpa harus terus mengulang lagi dan lagi.

Bolehkah aku berjalan lebih lambat? bukankah kehidupanku sebentar lagi akan berubah? jadi aku sangat takut tidak menyukai peran baruku karena disuruh terburu-buru. tapi aku juga lelah memikirkan peranku di mata orang lain. buruk, egois, kekanakan, dan ratusan kata sifat lainnya yang tentu saja jarang kusadari. tapi bolehkah aku berjalan lebih lambat? memaafkan diri sendiri yang tidak cukup baik atau layak dibanggakan dari segi apapun. jauh dari kata cantik, langsing, cerdas, atau bahkan kaya. memaafkan sebab tak cukup pemahaman menyelami kehidupan sebagai orang dewasa. memaafkan diri karena terlalu banyak terluka ketika muda. sehingga sangat rapuh dan tidak mudah percaya pada siapa saja. maafkan diri karena tidak mendapatkan keutuhan dalam keluarga, juga menerima apa yang disebut takdir oleh semesta.

Bolehkah aku berjalan lebih lambat? tidak banyak membuat waktu terbuang. sambil menatap sekitar penuh makna dan kehangatan. mencintai dan dicintai oleh lebih banyak pelukan. bukan sempurna yang kumaksud, bukan juga kemewahan penuh intrik. namun berjalan dengan keapa-adaan yang nyata. sekali lagi, berjalan lebih lambat agar terisi kekosongan diri karena terlalu terburu mengejar standar ideal manusia.

0 comments:

Post a Comment

My Instagram