Di
tempatku berdiri, aku mengagumi yang namanya kestabilan. sesuatu yang kusukai
dan mungkin akan selalu kubutuhkan. jauh dari drama, dari tekanan, dari
kebisingan dan mungkin benturan tak terduga. mungkin yang selama ini kucari
adalah bagaimana aku percaya bahwa seseorang bisa memberikan kestabilan itu.
tiga tahun setengah bukan waktu yang sebentar. ada begitu banyak gejolak dan
gelombang yang menghantam. ego laki-laki memang sangatlah tinggi, tapi jika di
perempuan yang tepat? percayalah dia akan selalu bisa meredam egonya dan
mengontrol emosinya.
Aku
tahu bahwa hidup berjalan dinamis. tapi yang aku inginkan adalah kestabilan itu
tetap ada. akhir-akhir ini aku melihat perubahan besar pada caranya menghadapi
diriku ketika marah dalam diam. saat amarah itu kupendam dan tidak
kulampiaskan, dia justru memeluk dan menjabarkan kesalahannya. tanpa diminta, dia
tahu segala apa yang mengganjal hatiku. perasaan sesak dan sakit akhirnya
mencuat keluar bersama dengan air mata mengucur deras. dia tetap memelukku
walau tanganku terus menyakiti dirinya.
Terang
saja, aku mungkin tidak suka cara ini karena akan meruntuhkan pertahanananku.
aku jadi menangis dan menjelaskan hal sepele yang membuatku terasa lemah di
hadapannya. perempuan kuat dan mandiri ini akhirnya runtuh di hadapan orang
yang bisa mengimbangi energy. aku akui, dia memahamiku luar dan dalam. mungkin
aku saja, yang jarang mempertimbangkan pikirannya. padahal, dia sudah bekerja
keras memberiku apa yang aku mau. di akhir tangisan itu, setelah semua mereda;
padahal aku yang salah, aku yang marah, tapi dia yang meminta maaf.
Ah!
betapa lembutnya hatinya. dia tau menempatkan energinya. mengimbangi posisiku
yang membutuhkan sandaran dan dukungan. sejauh ini apa aku bisa berada di
posisinya? yang kutahu bahwa dia tidak pernah berkata bahwa aku sedih, aku
dalam masalah, aku pusing, aku capek. apa aku harus belajar memahaminya? dia
yang tidak mungkin bercerita apa yang mengganjal dalam hatinya. aku ingin
membuatnya berbicara, tentang apa yang ada di hatinya. tanpa menyinggung, tanpa
berkelahi tanpa menyentil harga dirinya sebagai pria. aku juga ingin memahami
luka-lukanya. penyebab amarahnya, hatinya bersedih atau menangis diam-diam. aku
ingin tahu perasaan terdalamnya, apa yang dia butuhkan. apa yang ingin dia
capai, apa yang sedang direncanakan. aku ingin tahu agar aku bisa meringankan
beban di pundaknya.
Tidakkah kalian berpikir pria semua sama? ada hal-hal yang cukup mereka pendam karena merasa itu tanggung jawabnya. mereka tidak ingin merepotkan orang lain. mereka menghidupi seumur hidupnya namun terkadang sangat jarang mempedulikan dirinya sendiri. mereka adalah perisai. sifat alami mereka adalah melindungi segala yang dicintai dan dikasihinya. jadi janganlah heran apabila mereka selalu menjadi garda terdepan dalam keluarga. apa perempuan tidak boleh menggantikan perannya? menurutku, selama ada pria lebih baik peran itu diemban saja oleh mereka. bukan karena tidak mampu, tapi melindungi dan membimbing sudah menjadi kodrat mereka. aku percaya perempuan harus bisa mengimbangi energy maskulin mereka pada tempatnya ~

0 comments:
Post a Comment