Akhirnya, aku sedikit waktu
untuk menulis lagi. hampir satu bulan ini sangat sibuk. ada beberapa hal yang
harus dibereskan segera terutama menyangkut dokumen untuk menikah. ya! benar,
menikah. sesuatu yang tak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya. sesuatu yang
sepertinya mustahil aku rasakan sebagai perempuan. pada akhirnya, setelah semua
fase kehidupan, aku memilih untuk mengikatkan diri pada pernikahan.
Inilah tantangannya. sedari
kelas 3 SMP sampai lulus kuliah, aku hidup hanya bersama ibu. bertemu kembali
dengan bapak di tahun 2022. sambil menyembuhkan juga mengampuni segala
ketidakpeduliannya kepadaku. bulan ini dan mungkin seterusnya, aku tetap harus
berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dengannya. sebagai anak perempuan
bungsu, aku butuh restu dan perannya menikahkanku nanti. meski sangat sulit
bahkan jika hanya meminta kartu identitas. meski sudah dibujuk dengan nominal.
keras! sangat keras. dan aku menyerah. memasrahkan semua kepada petugas yang
membantu proses berkas kami.
Syukurlah, semua dipermudah.
pada akhir tahun nanti, semoga tidak ada halangan kami berdua akan menikah.
tanpa perayaan, tanpa dekorasi, tanpa kursi pelaminan, tanpa kehadiran bapak
sebagai wali. bukan tanpa alasan, aku lebih memilih ijab kabul yang khidmat
dihadiri keluarga dan teman dekat saja. karena aku sudah tahu, bahwa aku tidak
suka menjadi pusat perhatian. aku tidak suka menyapa orang-orang random, semua
energiku akan habis. membagikan makanan bagi beberapa teman dan tetangga, juga
jamuan berupa kue kecil dan buah kepada tamu tertentu rasanya sudah cukup.
karena kami sama-sama perantauan, menikah di tanah orang membuat kami sadar
arti berjuang dari garis paling bawah.
Lalu, suatu malam kami
memutuskan untuk foto latar biru. ini juga sesuatu yang tidak pernah aku bisa
bayangkan sebelumnya. apa kalian tahu? saat kuliah dulu, menengok beberapa
tahun ke belakang sebelum bersamanya adalah bahwa pernikahan itu sesuatu yang
memenjarakan. kita dipaksa tunduk oleh aturan yang dibuat manusia itu sendiri
demi melanjutkan hidup. tapi, cara pandangku berubah total saat aku sudah yakin
dengan pilihanku. semoga hanya maut yang dapat memisahkan. bukan dengan
cara-cara yang tidak direstui takdir. bukan sepenuhnya bahagia, ada juga
perasaan sedih karena aku akan menjadi istri orang dan belajar mengambil peran
baru. termasuk, mulai hidup terpisah dengan ibu. sebisanya, aku akan tetap
berada di sisi ibu. menyayanginya seperti biasanya.
Aku berdoa dari lubuk hati paling dalam. sebagai seorang hamba yang pernah memelihara trauma. dari keras dan kasar dunia menghajar. dari tubuh yang dipenuhi luka namun perlahan sembuh. dari beberapa waktu lalu baru belajar arti pengampunan. semoga semua rencana berjalan lancar. ibu dan bapak sehat serta panjang umur. kami dilimpahi rezeki dan juga keharmonisan hubungan kami terjaga. semoga pernikahan ini menumbuhkan bibit suka-cita. semoga keinginan kami membangun tempat tinggal segera terealisasi. semoga kami diberkahi dengan keturunan dan cinta yang cukup untuk anak-anak kami kelak. semoga kami bisa menjadi orang tua yang bisa mengayomi dan memberikan pendidikan yang baik serta kasih sayang yang berlimpah di kemudian hari. Semoga kami bisa menjalankan petualangan yang stabil ini dalam ikatan yang diridhoi oleh alam Semesta ~

0 comments:
Post a Comment