Sedang kuusahakan tempat itu.
tempat bernama tubuhku, beserta jiwa yang hidup di dalamnya. karena membenci diri sendiri sangat
melelahkan. di mana setiap ada cermin aku ingin menghindarinya. melihat semua hal berantakan. rambutku,
wajahku, kulitku, jemariku, kakiku, juga bentuk tubuhku. rasanya, aku tidak
memiliki apapun yang istimewa. begitu pandanganku pada diri sendiri.
orang-orang merasa nyaman mengenakan apapun karena sudah berdamai dengan bentuk
tubuh mereka. aku juga ingin seperti itu. menerima apa adanya diriku dengan
segala ketidaksempurnaannya.
Tapi ada satu hal yang benar-benar
menyadarkanku. sehingga kuusahakan tempat ternyaman untuk diriku pulang dengan
berterima. dia sudah di sana, tanpa pernah menunggu apakah aku bahagia atau
sedih. dia mencintaiku setiap waktu, menjaga diriku tetap sadar dan hidup. dia
adalah jantung. tidak peduli apakah dunia menindasku, mengutukku, menghakimiku,
menghukumku, mengucilkanku. jantung tetap setia berdetak, karena semesta masih
memperbolehkanku untuk hidup.
Bukankah jantung adalah organ
yang begitu istimewa? karenanya kita hidup. karenanya juga kita bisa dinyatakan
tidak lagi hidup. ia terus mencintai dalam diam bahkan ketika aku sudah lupa
bagaimana cara mencintai diriku sendiri. dia terus berdetak, mengantarkan
usiaku di ambang kepala tiga. dia tetap di sana, memastikan dan menjaga keberlangsungan
hidupku.
Ada satu hal yang tidak
kuberikan kepada diriku sendiri. pada jantungku, pada tubuhku, pada rambutku,
pada kulitku. sesuatu bernama kasih sayang. yang kerap dan terbiasa kuberikan
pada orang lain tapi tidak kuberikan pada diriku. aku tidak sadar bahwa selama
ini mengemis validasi dengan menghamburkan kepunyaan namun sangat minim
perhatian ke dalam.
Aku sibuk menerka bagaimana
pandangan dunia terhadapku. berpikir mungkin aku adalah mahluk yang sangat
tidak menarik bahkan untuk sekadar dipertimbangkan. tanpa pernah mau menyelami
dalam ragaku. tanpa pernah mau merawat tumbuh mekarku. aku hanya berkutat pada
kesedihan dan ketertinggalan. sesungguhnya, aku hanya perlu melihat ke dalam
bukannya sibuk memoles permukaan. jika ada banyak retak seharusnya diperbaiki.
bukan malah dikutuk juga dihindari. jika ada banyak luka seharusnya disembuhkan
bukan dibiarkan.
Mungkin aku kurang mengasihi diriku sendiri. terlalu keras tapi sering mengasihaninya. tidak menyayanginya dan terlalu meremehkannya. aku tidak berbuat banyak untuk kebaikan diri tapi justru membiarkan tubuhku bekerja terlalu keras. aku ingin bertanggung jawab pada diriku sekali lagi. tentang raga yang sudah dipercayakan sebagai rumah untuk roh di dunia fana ini. jadi, dengarlah dan mari terhubung menjadi manusia kembali ~

0 comments:
Post a Comment