Apa kau pernah menyalahkan
kejadian di masa silam? mungkin karena masa remajamu penuh trauma. atau masa
kanak-kanakmu hidup dalam keterbatasan. atau bahkan orang tuamu sering
bertengkar, kejadian tidak menyenangkan di sekolah. masa puber tanpa hubungan
asmara dan kau tidak pernah pandai merawat tubuhmu sendiri. ah! ini seperti
krisis identitas di usia menjelang kepala tiga. padahal, inginku sederhana.
menikmati hidup yang tenang dan pelan saja sambil berani menerima seapa adanya
diri ini. terlalu tinggi ekspektasi yang ingin aku selami.
Apa tidak ada alasan rasa
itu tumbuh besar pada kemarahan yang terbuka dan juga dalam pengasingan yang
dingin. ku emban tiap derita dengan diam. mungkin saja anganku terlalu luas
memandang dunia. mungkin masalahnya dalah bagaimana aku memandang diriku
sendiri. bukankah dari sini harusnya ku perbaiki? karena dunia tahu sendiri kan
bagaimana kejamnya manusia. mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan
haknya bahkan dengan cara-cara yang tidak terhormat. sebelum peristiwa menjadi
keramat, semoga ucapan bisa menjadi obat.
Diri yang melepuh seiring
berjalannya waktu. jadilah lembut sekaligus kuat. aku tau hatimu mudahh
tersentuh dan menangis karena hal sepele.
inilah hal yang aku benci dari diriku sendiri. karena menangis aku
menjadi pribadi yang suka memendam emosi. aku tidak bisa meluapkan amarahku.
aku tidak bisa mengungkapkan kekesalanku, menyalurkan emosiku bahkan takut
bergaul karena dalam benakku percaya, mereka tidak akan suka gadis culun dan
cengeng sepertiku. tapi tahu kan? siapa yang paling menerima segala bentuk
ketidaksempurnaan itu? benar. ibu. aku berhutang berimu maaf dan terima kasih
sebab belum bisa menjadi anak yang bisa dibanggakannya.
Ibu, biarkan
aku mencintaimu dengan caraku yang keras dan berdarah. maaf, sebab tumbuhku tak
selembut matamu yang hangat. namun ada kalimat yang cukup menghiburku; bahwa
menjadi perfectionist itu baik, namun sebagai manusia biasa, kamu tidak perlu
mengatur alam semesta. mereka sudah punya cara untuk bekerja.
Hidupku, banyak sedihnya. banyak sunyi-senyap.
banyak amarahnya, yang meledak seperti bom waktu. sedikit tawa serta banyak
tangisnya. keberadaanmu seperti lagu - lagu sendu yang menyayat nadiku. seperti
kemalangan yang ingin terus kupeluk. seperti bunuh diri yang terus ingin
ku-ulang. karena ada yang bersembunyi di dasar, silam. tak menunjukkan wujud
tapi eksistensinya nyata. mempengaruhi ekspresi serta pikiran. penyumbang
factor pengambilan keputusan terbesar.
Aku tidak tahu cara
menyampaikan pada mereka bahwa aku terluka. yang bisa aku lakukan hanya menangis
dan menjerit dalam diam. kau tahu betapa sakitnya hal itu dirasakan oleh
seorang manusia yang tak pandai mengungkapkan perasaannya? setengah tahun
terlewati begitu saja. tanpa pembuktian nyata bahwa resolusi bisa tercapai di
tahun ini. aku begitu letih menuntut diriku sendiri menjadi sempurna. bekerja
terlalu keras, pelampiasan begitu ganas.
Penyesalan tentu saja masih membayangi kehidupanku. merenggut separuh damai dari deretan kemungkinan yang menjadi peluang. juga kesempatan menyalahkan diri kita yang masih muda dan belum tahu dunia di saat itu. bagaimanapun caranya, bagaimanapun bentuk karmanya aku tidak ingin mengukir silam yang buruk untuk masa depanku kelak. akan ku usahakan, sedang belajar menata kehidupan. berdamai dengan kebosanan. menciptakan silam tanpa keraguan dan ketergesaan.

0 comments:
Post a Comment