Kedalaman

Kamu pikir berapa lama lagi kau akan hidup? satu tahun? dua tahun? lima tahun? atau sepuluh bahkan lima puluh tahun ke depan? kamu pikir, tempat bernama dunia ini selamanya? bukankah dari kecil kita sudah diperkenalkan dengan namanya kematian? itu pasti dan sudah paten. bagian dari kebijakan alam semesta. cara mereka mengingatkan bahwa semua yang bernyawa pasti ada batasnya. kenapa di waktu yang sebentar ini kita tidak memilih kebahagiaan saja dibanding penderitaan?

Dengar, ini bukan pertama kalinya kita sadar akan hal ini. segala keterbatasan sebagai manusia mustahil dihapus. karena kita sudah sepakat sebelum terlahir di dunia. hukum alam tentang kehidupan dan kematian sudah ada porsinya. apa kau sudah tahu rasanya mati yang tidak akan kembali? adalah saat dirimu sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya dan tidak lagi bisa mengatur keseimbangan diri sendiri. saat napas berhenti berhembus dan organ yang disebut jantung berhenti berdetak. terasa begitu mengerikan gambaran akan kematian itu sendiri.

Baiklah, mari kembali pada keterbatasan waktu yang kita miliki. memilih bahagia dan membahagiakan orang terdekat adalah berkah yang luar biasa. mengapa tidak memilih berfokus pada sisa waktu yang dipunya untuk menyebar kebaikan dan saling mencintai? berapa lama waktu kita hidup? sehingga memilih berdiri angkuh di atas singgasana kefanaan? ah andai saja aku sudah sadar lebih awal, maka akan ku buang jauh-jauh rasa iri dan sakit hati itu. aku sungguh ingin membahagiakan ibu. dari sekian banyak pemikiran yang berlalu-lalang adalah aku ingin membuat ibu nyaman dan terjamin masa tuanya. tidak seharusnya di usia yang sudah paruh baya beliau masih bekerja keras dan belum memiliki tempat tinggal. dia sudah bersusah payah menjadikanku manusia dewasa di tengah masyarakat. apa balasanku untuknya? hanya bisa dihitung jari. justru akulah yang masih terus merepotkannya.

Mulai januari tahun depan, aku akan menyandang status baru sebagai seorang istri. mungkin melewati beberapa  fase akan berganti lagi menjadi ibu. tapi satu hal yang pasti adalah aku tidak ingin sedikitpun jauh dari ibu. dia yang merawatku, walau diusir sekalipun aku tidak ingin membiarkannya sendiri. lancarkanlah rezeki kami sebagai seorang anak dan sebagai sepasang suami istri nantinya, agar bisa mewujudkan impian ibu sejak lama. aku berdoa semoga ibuku sayang panjang umur dan sehat selalu. aku berdoa di kehidupan yang sebentar ini sebagai manusia, sebagai anak, sebagai istri dan nanti sebagai ibu aku bisa benar-benar membuat ibuku bahagia di usia senjanya.

Kadang aku berpikir bahwa suatu hari kita tidak akan bisa merasakan rasa sakit ataupun kenikmatan dalam bentuk apapun lagi ketika sudah selesai hidup di bumi. aku tidak ingin kehidupan yang berulang kali semesta beri terbuang sia-sia karena perasaan juga pemikiran negative yang selalu menahan langkahku. aku tahu ini tidak mudah, sepanjang perjalanan menemukan cinta dan jati diri, satu-satunya orang yang begitu setia menemani adalah ibu. pernikahan bulan depan mungkin akan menjadi momen bahagia sekaligus mengharukan. bagaimana tidak? bukankah ini artinya aku akan mengemban peran baru? bukan sebagai anak ibu yang manja lagi tapi sebagai seorang istri dari orang yang kusebut suami. semoga kehidupan menyayangi kami. mengubah hal-hal yang bersifat menderita menjadi kedamaian yang tenang.

Di kehidupan yang sebentar ini, aku ingin dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangiku dan aku ingin menyebarkan kebahagiaan juga energy positif kepada mereka. aku ingin melepaskan bentuk karakter dan juga egoku agar di kehidupan yang sebentar ini; aku merasa arti hidup ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram