Kota dan paginya. saat
matahari menyapa; sebagian bersiap dengan seragam, sebagian lagi cukup dengan
apapun yang melekat di badan. sarapan sepiring sereal atau membiarkan perut
kosong sudah kebal. sepatu bersemir hitam atau sandal jepit berlubang. tas kulit
berharga jutaan atau kantong plastik duaribuan. sama saja, kota penuh
kesibukan.
Kota dan siangnya. saat
terik menyengat; sebagian mulai butuh istirahat. deru kendaraan dengan polusi
menyesakkan. teriakan macet disertai makian. angkutan menjadi langganan
tumpangan, tidak jarang suara musik di dalamnya memekakkan telinga. jika
beruntung akan ada mendung dan mega, mengurangi ritme kesal pada kesesakan
jalan raya.
Kota dan sorenya. di sini
ada lebih banyak kenangan menua, ketika senja menyajikan siluet sendunya,
penyair mulai menuliskan puisinya, seniman menggores kuas pada kanvasnya.
menyita banyak pikiran, mengantarkan hingga ke jalan pulang.
Kota dan malamnya. lampu
jalanan memulai kehidupan. sekadar mengitari taman, nongkrong di kedai kopi
langganan. berkutat dengan bacaan di rumah kontrakan, atau berdiskusi ditemani
sepotong jagung dan kacang. ada juga yang menghabiskan tangisnya sembari
memeluk kesendirian, sibuk berbicara dengan suara di kepalanya.
Pada
setiap trotoar yang dihidupi cahaya temaram, kota membalut tubuhnya menyerupai
sinar rembulan.
Pada kota, dua ribu
tujuh ratus tiga puluh lima hari merasa terperangkap di dalamnya. meski kota
dan kami hampir sama, yakni sama-sama jarang memejamkan mata.
Pada
kota ;
Beri
aku sedikit waktu untuk terlelap. tapi kali ini bisakah tanpa sekat bernama air
mata?
Beri waktu aku memutar
rekaman ketika kali pertama tiba, melewati belasan menuju puluhan usia. tentang
buku pertama yang berhasil kubeli harus disita oleh guru olahraga, bagaimana
aku dipaksa mencebur ke kolam padahal sudah kukatakan bahwa aku tidak pandai
berenang. ingatan tentang bertukar kado dengan seorang teman berambut panjang
di sekolah menengah pertama, diberinya aku sebuah buku tulis dan kuberinya
sabun shinzui batangan. kotak pensil biru tua yang penuh dengan coretan tinta,
sapaan selamat pagi dari anak pramuka, satpam sekolah yang tidak pernah ramah.
juga jalan setapak yang ku lalui menuju sekolah.
Lalu
kota
Kau
menyimak ?
Ketika berada di bangku
menengah atas. atribut MOS dan senioritas.kumpulan penghuni kelas dari yang
rajin sampai malas berjamaah mengerjakan tugas. perasaan dag-dig-dug-tak ketika
disuruh mempraktik-kan manner dari guru kejuruan. upacara bendera di lapangan
lengkap dengan ritual pingsan. kegiatan membuat bazar, setiap dari kami wajib
menghabiskan sepuluh kupon atau jika tidak akan dikenakan denda limaribu
perkuponnya, kebijakan macam apa itu. Hahaha. majalah dinding bernama ‘Freedom’
yang kacanya selalu bengkok sebelah, juga wali kelas yang suka marah-marah
Dan
kota; kau masih terjaga ?
Saat masuk di perguruan,
lekat ingatan salam satu jiwa dan lagu kebangsaan. pemilihan ketua tingkat,
datang waktu tepat, saat-saat masih dipenuhi gelora dan semangat. ketika negara
api menyerang, warga kelas membagi kompleks menjadi tiga bagian. namun
sekarang, kita sama-sama berjuang di garis penghabisan.
Ah,
Kota
Bisakah kau membantuku memastikan, bahwa benar aku tumbuh adanya ?
.jpg)
0 comments:
Post a Comment