They say “follow your
heart”, but if your heart is in a million pieces, which pieces do you follow?” –
Unknown
Sore ini kau sengaja kehujanan. membiarkan tubuhmu kuyup
dengan derai air mata dan air dari langit. tetapi kau merasa asing dengan
tempatmu berdiri, jadi kau mencoba mencari tempat untuk berteduh.
Kau bertanya pada pepohonan “pernahkah merasa begitu lelah ?”
Lalu berganti bertanya pada bebatuan “pernahkah merasa begitu kebingungan, tidak
tahu cara memperbaiki keretakan?”
Keduanya tidak memberikan jawaban, lalu kau berkata pada
mereka berdua “yang tidak pernah dibicarakan bukan berarti tidak pernah
melintas di pikiran. sebagian orang berusaha sembuh dari hal-hal yang kadang
tidak ingin mereka bicarakan. yang di sepanjang hidupnya, diam-diam hanya
di tumpahkan ketika menjelang tidurnya”
Kau tahu dengan baik dari mana awalnya. “tidak apa-apa” begitu
anggapanmu ketika remaja. kau tidak sadar bahwa luka itu membawa trauma yang
semakin dewasa, lukanya semakin menganga. ternyata masih sangat basah, dan
mulai kebingungan harus bagaimana. ketika kau merasa begitu kesepian dan merasa
tidak seorang pun akan paham. kau memendamnya sendirian di malam-malam panjang
bersama tangisan. kau berusaha menata kembali jalanmu, tapi kau tetap
berantakan di dalam. kau mencoba memperbaiki, tapi terlalu takut untuk mulai
melangkah. kau merasa tidak pernah mendapat dukungan dari siapapun di dunia
ini, dan kau merasa benar-benar sendiri. kau merasa tidak berguna dan tidak
pernah benar ingin berbuat apa.
Kau merasa sudah patah dan kecewa sejak usiamu sepuluh. Membuat separuh dari dirimu benar-benar terpuruk. dan kau hanya berpikir “apa benar ini salah kita?”. kau terus menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan. dan kau bingung memutuskan ketika dewasa, ketika orang-orang menjadi normal dengan mengenal rasa, kau terasing dengan kesepian dan kesendirian.
Kau sadar keputusan itu tidak tepat. dengan kata lain, kau benar-benar membenci
pilihanmu. kau menjadi apatis dan masa bodoh dengan orang lain. kau tidak
pernah berharap diperhatikan lagi seumur hidupmu. kau merasa terbuang dan tidak
diinginkan, kau merasa penyebab masalah. kau merasa membenci untuk membahasnya
dan sebisa mungkin menghindarinya. kau tidak lantas meremuk seluruhnya, kau
bahkan menyimpannya dengan rapi menjadi obat ketika perih dalam sunyi. kau tahu
banyak yang seharusnya disyukuri, berkutat dengan kesibukan dan merawat mimpi
tapi selalu terdistraksi. waktu memutar bayangan dan hal-hal pahit yang tidak
pernah kau inginkan. seperti masih terjebak di sana. kau tidak bisa memulai,
bahkan jika kesibukan membunuh setiap kerinduan, kau tetap kesepian.
Kau tidak tahu harus bagaimana memperbaikinya, kau ingin
menemuinya tapi sangat kesakitan. itu sudah rumit dan dirimu sendiri
semakin memperumitnya. kau sadar, retaknya bukan salahmu. tapi tetap saja kau
menyalahkan dirimu. kau tahu bahwa pertikaian itu bukan kendalimu, tapi kau
merasa seolah bahwa kau tetap di situ. kau tahu dengan baik, bahwa hatimu
terluka dan sampai kapanpun akan begitu. kau selalu menyalahkan diri
sendiri ketika tidak pernah memiliki kendali apa yang terjadi, dan sekarang kau
tidak pernah membiarkan siapapun mengendalikan hidupmu. sederhana, kau masih
ketakutan.
Kau hanya selalu fokus pada studi, hobi dan kawanmu. pikirmu
“patah itu tidak akan pernah terobati,
bagaimana pun semesta menjanjikan perbaikan”. jalan hidupmu mulai
terlihat mudah. itu karena kau selalu mencoba tidak pernah terlibat dengan
siapapun; agar ketika selamat tinggal kau tidak pernah keberatan. kau mengunci
hatimu, membangun tembok raksasa agar tidak pernah membiarkan dirimu jatuh
rasa, hingga suatu hari; kau mengingkari dirimu, kau ingin berdamai dengan
figure itu, tapi kau kesulitan memutuskan. kau benar-benar kompleks dan sangat
membingungkan. prinsip yang kau bangun belasan tahun lalu, yang selalu
mengingatkan akan hari yang menyakitkan.
Dan ketika saat itu tiba
Ketika kau mulai jatuh rasa pada seseorang yang kau anggap
seperti rumah. kau tidak masalah jika pada akhirnya akan jatuh
rasa atau patah sendirian. tetapi lama-lama jiwamu minta berhenti. kau panik jika akhirnya ia mulai membalas rasamu, kau bingung harus
bagaimana. tubuhmu penuh dengan sayatan luka. sakitnya, sungguh ketika kau
berada di ambang usia dewasa. saat kau begitu menyukai orang lain tapi egomu
terus berontak dan berkata jangan ! seseorang yang menjanjikan sembuh, dan kau
berusaha tetap di jalanmu. seseorang yang selalu bersedia membagi sukanya pada
orang lain, tetapi menyimpan duka dan laranya sendiri.
Kau menemukan, tempat yang asing kemudian menjadi sangat
familiar. tempat yang membuatmu ingin berteduh di sepanjang jalan kehidupan. kau takut ditinggalkan, takut memulai hubungan, kau penuh ketakutan dan
kebencian. ketika kau mengasihinya, mengingkannya di dekatmu. mempedulikannya
dan berhenti memenjarakan kesedihanmu itu. membuatmu ingin berbagi, karena
merasa ia tempat yang aman dan nyaman. kini, ia yang kemudian menjelma menjadi
sosok selamat tinggal paling sulit yang pernah ditemui. yang mengubah hidupmu
menjadi penuh dengan kekacauan. yang membuatmu kebingungan, yang membuatmu
penuh penasaran, dan membuat fokusmu jadi berantakan.
Kau tengah kedinginan
?
Ketika pelan-pelan ia membuka pintu hatinya, meski tahu
bahwa kau hanya seperti orang asing yang tidak sengaja jatuh rasa padanya. ia
mempersilakanmu masuk, diberinya kau waktu untuk duduk dan bercanda. kau
benar-benar merasa akan hancur, ketika begitu menyukai seseorang tetapi masih
bertarung melawan prinsip yang sendiri kau bangun belasan tahun. kau harus
memastikan bahwa kau siap sembuh terlebih dahulu. sembuh dari kesakitan yang
menjerit di kesunyian, dari kehidupan yang tercerai—berai.
Kau begitu menyukai insan semesta yang satu ini. ia
menyentuh relung hatimu yang paling kau lindungi. kau ingin bertanya, pada
siapa saja tetapi begitu takut karena anggapan aneh sudah melekat pada dirimu
sebelumnya. kau keheranan dengan diri sendiri, apakah harus seribet ini ? kau
tidak akan pernah tega melihatnya menderita. kau ingin pergi tapi hatimu
bilang jangan, kau ingin kabur tapi jiwamu berontak, dan rasanya kau ingin gila.
Tapi kini, ia mendukungmu. membasuh luka di tubuhmu,
mengajarimu tabah dan tumbuh. ia seolah berkata bahwa "kau boleh berteduh lagi di rumahku"
Bukankah kau merasa akan gila sepenuhnya ?
.jpg)
0 comments:
Post a Comment