Kolase Spasi dan Koma

Mereka duduk, berandai-andai, mematut diri
Mereka berdiri
Mengutuk pagi
Menghirup aroma caci maki dari lembaran usang kemarin hari
Meraba permukaannya
Tipis, kumuh tak berseni
Masing-masing melipatnya, memasukannya ke sekoci
Melangkahkan kaki
Ke geladak sunyi

Lagak Tuan - Nyonya janganlah terlalu mengangkasa
Tiada sadar separuh akal pergi diiyakan saja
Tuan dan Nyonya ini sebetulnya mau apa dari semesta ?

Nyonya berselendang majas
Merona di balik frasa dan klausa
Lempar senyum sembunyi raga
Simak ! pasang telinga !

Jika kesumat tiada guna,
Buat apalah semua hal dibawa runyam
Nyonya basuh luka semalam
Bukankah lebih baik tetap membusuk dan lebam ?

Nyonya berbalut rumitnya rasa
Jika kemelut tiada guna,
Untuk apalah tangis berkepanjangan
Hingga kesakitan senang hati datang
Juga yang dinanti tak kunjung nampak, apakah tersesat di jalan setapak ?

Tuan seorang diri mengoyak sepi
Ronanya sayu, tatapannya sendu

Meski sanubari menjerit pilu
Mau Tuan apakan jiwa yang tersayat sembilu?
Jalan Tuan masih panjang
Derai, senda-gurau, semuanya itu akan habis ditelan waktu

Tuan Nyonya empunya kebimbangan alam raya

Jangan sisakan sumpah serapah
Jangan sisakan keangkuhan barang sepatah
Jangan sisakan kegundahan, atau dukanya makin parah

Jangan ! Jangan mau menimbun mimpi
Pada manusia penghardik hati
Yang aman terarsir antara hitam dan putih           
Yang nyaman terasing antara petang dan pagi

Makanya, apakah baik ?
Beri kesempatan seluruh lautan menguap
Lalu Tuan Nyonya bisa saling berujar ucap ?

Tuan Nyonya yang jiwanya tersudut
Terantuk-antuk menanti datangnya maut

Berdendang ria, memeluk luka
Jeritnya  menderu, tangisnya jenaka
Tembangnya berirama gegap gempita

Apakah Tuan Nyonya  kadung  sudi mendustai? 
atau hanya ego yang enggan ditinggal sendiri?

Ah, Tuan Nyonya malah asyik bertukar puisi,
Setiap cerca dibungkusnya rapi

Bagi Tuan Nyonya,
Tidak apa, asal masih ada esok hari
Tiada sadar, esok sudah waktunya kembali

Ah, Biarlah! sesak Tuan Nyonya mencari jalan pulang
Atau entah akan tinggal bersama tulang belulang
Yang ketika jatuh, Tuan Nyonya tiada lagi kesakitan
Juga tertawa tiada lagi menyenangkan

0 comments:

Post a Comment

My Instagram