Kabarmu Membiru

Angin berhembus kencang, guyuran air dari langit seperti ribuan jarum menjatuhi bumi. kulihat ia melambaikan tangan dari kejauhan. berlari kecil menembus derasnya hujan. ia membuka topinya, mengibaskan rambutnya yang setengah basah. sudah lama aku tidak melihatnya seberantakan itu.

"Maaf terlambat, kenapa tidak masuk dulu ?"

Ia membuka pintu kedai. aku mencari tempat duduk di pojok ruangan menghadap kaca jendela yang berembun. tanaman gantung di samping pintu bergoyang, lampu jalanan mulai menyala. aku menatap ruangan di sekitar. lawas namun justru karena itu membuatnya terkesan artistic. di sudut ruangan, ada pajangan kamera analog ala 80-an dan jam antik vintage dibalut kayu jati yang sudah diplitur. lukisan abstrak dan ikonik tempo dulu menghiasi tembok kayu yang sudah dipoles cat berwarna cokelat. di sudut ruangan sebelah kiri sebuah kecapi menghiasi meja monokrom dengan miniatur kapal coast guard. mata kami selalu menyukai sesuatu berbau seni, kabar baiknya telinga kami juga kini dimanjakan alunan musik folk-indie.

Greentea Latte dan satu Espresso Macchiato” ucapnya pada Barista.

Ia mendekatkan hidungnya ke mantel hitamku.

“Parfum baru ? Victoria lagi ? kali ini varian apa ? Bombshell ? Divine ?” menjadi kebiasaannya membuka percakapan dengan tebakan random. aku mengangkat alis seraya membuka kedua telapak tangan pertanda “yaaa! apapun”

“Kau akan mengikuti kelas piano lagi ? mengajakku mendaftar kemudian tidak lagi mengikutinya. walau bagaimanapun juga kau harus bertanggung jawab atas keputusanmu Nesh”

“Hmm… entahlah”

“Bukan karena kau bosan melihat tampang mengagumkan ini di sana kan ?” aku menggeleng lesu, tidak berniat menanggapi gurauannya.

“Tidak Gun. bukankah ada aku atau tidak musik tetap mengalun? kau cepat belajar, bahkan  sudah naik dua oktaf”

“Tahu dari mana? mengintipku ya ?”

Keceplosan menjadi basa-basi terburuk di awal pertemuan. aku berpura menatap ke luar mengalihkan perhatian. ia mengendus aroma kopi yang baru saja diletakkan di hadapan kami

“Gun ! bagaimana jika kita menyukai seseorang kemudian sakit sendiri? baiknya tinggal atau pergi?” tanyaku sambil menunduk

Ia menangkupkan kedua tangannya di dagu, merendahkan kepalanya mencari mataku.

“Cuma kamu yang bisa menjawabnya Nesh. tiap senang atau sakit itu bagian dari konsekuensi”

“Lalu bagaimana jika kita menjadi kecanduan padanya? terhubung secara emosional? sampai terkadang space dalam diri kita menipis dan kita merasa pudar?”

“Jika maksudmu adalah tentang rasa, kau jangan lanjutkan jika tidak siap terluka Ganesh! kau tidak bisa mempermainkan perasaan orang lain dengan menarik ulurnya”

“Aku tidak pernah bermaksud demikian, Gun ! aku juga kesulitan memahami ini”

“Ganesh ? tarik nafas dan ceritakan pelan-pelan”

Aku terdiam. menghela napas, kesulitan berkata-kata.

“Dari awal jatuh rasa padanya tidak perah mudah Gun. aku harus bertikai dengan diri sendiri. aku berkali jatuh dan patah. mengenalnya membuatku terus bertanya-tanya dan jawabannya kutemu ketika bertegur sapa. aku tidak mau meneruskan ini Gun, aku tidak suka rasa sakit. aku lelah menyalahkan diri sendiri, sungguh lelah”

“Aku menyukainya, Gun ! ia membuatku terus berada di antara tanda tanya. aku capek ! benar-benar capek harus meyakinkan diri sendiri kalau aku baik-baik saja. semenjak kenal dia aku lebih sering marah tidak jelas, karena bingung dan terus marah pada diri sendiri. aku bingung harus mendengar kata hati yang mana, aku capek bertikai dengan diri sendiri. logikaku seakan macet dan semua kesibukanku terbengkalai. ia mungkin kabar baik juga kabar buruk di sepanjang tahun. aku tidak tahu akan kabur atau tetap di hadapannya jika bertemu”

Cowok bermata cokelat itu  mengangguk. dibenahi kacamatanya sembari mengusap ujung hidungya. rambutnya menjadi sedikit lepek karena guyuran hujan, aroma pomade suavecito masih berkeliaran di indera penciumanku.

“Ganesh ! tidak apa jika kau egois ingin mengenyahkannya. tapi apa kau pikir itu akan mencabut akar permasalahannya ? sebenarnya kau hanya perlu menerima kenyataan bahwa kau menyukainya. itu saja ! tidak usah mengelak, membuat seribu satu alasan. memikirkan konsekuensi ke depan, jangan persulit hidupmu dengan pikiran rumit itu Ganesh ! jikapun kau membencinya katakan siapa sebenarnya masalahnya? kau sendiri bukan ? kau mungkin punya luka lain, tapi melampiaskannya pada orang yang tidak bersalah membuatmu semakin tertekan. kau tahu mana jalan keluar terbaik, cuma kamu Nesh ! kau yang bertanggung jawab atas kebahagiaanmu, bukan orang lain."

"Dan Ganesh ! jika kemudian berakhir ia yang berganti membencimu, itu tidak menjadi menyedihkan. aku menyayangimu, jikapun seluruh penduduk bumi membencimu, aku di sini berdiri menjadi perisaimu”

Ia mengabaikan ponsel yang sedang berdering.

“Ganesh ! kalau begitu jangan lagi perhatian padanya karena itu akan membantumu memikirkannya. jangan sakiti dirimu lagi deminya, lekaslah sembuh. tidak apa, kau sudah terlalu keras pada diri sendiri. lihat, lukamu semakin membiru. oh ya, mengenai jam tangan yang ingin kau perbaiki, aku sudah menemukan tokonya, di persimpangan Jalan Ambarawa, catnya berwarna hijau muda”

Sekali lagi ponselnya berdering, ia mengangkat panggilan. dibenahinya jaket denim berwarna abu-abu itu.

“Aku tidak kesulitan memahamimu Nesh, tapi kau bisa datang kapan saja jika kesulitan memahami diri sendiri. jangan membenci siapapun”

“Terima kasih Gun”

“Hidup bukan sekadar perbandingan Nesh ! jika kau fokus pada nilai dalam diri seseorang kau akan selalu menemukan sisi baik darinya”

Ia mengacak rambutku, mendekatkan tubuhnya mendekapku. aku menunduk, memejamkan mata yang bulirnya sudah tak tahan lagi bermuara. ia sungguh tidak sadar, sedari tadi maksud dari semua percakapanku ini tak lain adalah dirinya.

***

Bus membelah jalanan. ku seruput seduhan teh hijau dari botol stainless pastelku, asyik memandangi kesibukan jalan raya dari balik jendela, deretan kursi kedua dari belakang bus kota sembari mendengarkan alunan lagu Yui Yoshioka;

nani ka o tebanashite soshite te ni ireru sonna kurikaeshi kana? tsuyogari wa itsudatte yume ni tsudzuiteru okubyou ni nattara soko de togireru yo…. hashiridashita densha no naka… sukoshi dake nakete kita 

Seorang laki-laki remaja mengeluarkan dua botol minuman kaleng. kawan perempuannya memukul bahunya dengan gemas.

Sudah kubilang aku mau yogurt ! minuman yang kau beri ini mengandung kafein !”  

Aku menggulung senyum tipis. teringat sosok cowok berkacamata dengan kamera mirroless menggantung di lehernya. duduk di sebelahku saat kali pertama bertemu di bus kota. ketika tangannya gesit mengeluarkan dua buah jus tomat kemasan dari dalam tas lalu menawarkannya kepadaku. ketika bis berhenti mendadak dan jus itu tumpah, meninggalkan noda pada kemeja putihnya. 

Bus berhenti di halte berikutnya. aku keluar, memperbaiki tali sepatu. menengadahkan tangan, memastikan bahwa gerimis benar-benar turun. dingin, aku menangkupkan mantelku semakin erat ke tubuh. berjalan di bawah payung, menyusuri hujan pertama  bulan Oktober

Guntur ? bagaimana kabarmu ?

***


0 comments:

Post a Comment

My Instagram