Ruas Bumantara


Di persimpangan . . .
Menilik penyesalan; tersedu-sedu meminta dekapan dari bumantara, saat ruasnya tak pernah bergeser ke tepi
Memeluk keterasingan yang semakin gemar menyudutkan rasa sepi
Pada keheningan pukul tiga, jarum jam menjahit koyak dengan sabar menantikan pagi

Semakin gusar
Masih menolak sembuh
Semakin gencar
Mengucuri luka dengan tetesan cuka
Menimbun duka sekaligus melumpuhkan asa
Pudar;
Ketakutan menyelimuti hari yang tak ingin kembali
Menyambut datang yang tak ingin berlayar pergi

Tapi mengadu ;
Mematahkan logika lalu tertatih menuju lembar baru
Menumpulkan jemu yang kian membiru

Berita patah pada semesta ;
Dikabarkan dengan sedikit senyuman namun jauh di dalam lubuk hati ingin kembali bersua dengan kehilangan

Sendirian, meluruskan kaki
Sekali lagi hidup. sekali lagi redup
Seluruh bunyi tanggal
Sebagian arti tetap tinggal

Kembali lagi, di bawah gemintang, duduk memeluk lutut
Hening
Kebebasan adalah kesepian yang sesungguhnya
Lidah menjuntai
Saat debar tak sanggup merekah di dada. kupu-kupu mungil seakan menari di perut, mengitari bunga kering yang sudah lapuk

“Kau jangan bertindak bodoh sayang, orang-orang akan menertawakanmu !"

“Jangan menampakkan diri sayang, tetaplah takzim di belakang layar”

“Kau jatuh rasa, sayang. Persis empat belas tahun lalu”


“Kau jangan egois sayang, lukamu tak sebanding dengan mereka ! perbaiki perilakumu sayang, atau mereka akan meninggalkanmu ! tutup matamu sayang, tutup telingamu ! berjalanlah tanpa mencampuri perihal perih orang-orang”

“Ragamu letih, sayang, menepilah”

Dari seorang manusia bernama saya

Pada masanya, bahagia sekaligus menderita
Mati sepersekian detik. lalu pada ledakan afeksi, kesibukan kantor di kepala kembali terusik

Tak menemui keputusan
Pada akhirnya, pamit mengundurkan diri
Tak berani meyakinkan ragu yang kian menuntut pertanggung jawaban
Menatap ruas sang bumantara

Tahu apa yang istimewa ?
Di manapun kaki berpijak ia tetap mengiringi derap
Di manapun raga tak sengaja terkesiap ia lekas menatap
Di seluruh tarikan napas menuju ambang pilu
Ia tanpa harap merangkul teduh
Di tempat rapuh menolak menjadi tangguh, ia menampik seluruh keluh

Membungkus kebajikan
Menuding
Mengklaim
Pasti muak pada hingar-bingar, lalu menciptakan siklus sendiri

Berjalan atau berlari, benar kan langit tetap serta? menjadi saksi cerita penduduk jagat raya bernama manusia
Lalu saya ?
Mungkin adalah ketabahan yang begitu menyayangi luka

Bergerak atau berhenti, Bumantara tetap kan mengikuti? menyampaikan rasa sayang pada kekasihnya, bumi
Saya sendiri ?
Mungkin adalah jeda yang masih mencintai sunyi

0 comments:

Post a Comment

My Instagram