Sepatah

Kata tidak lenyap; hanya menjelma menjadi kalimat. mengisi kekosongan paragraf yang mahir menciptakan kerumitan.

Bait tidak menghilang; hanya menjelma sebagai sajak memilukan. melengkapi kubangan lara di kisah  yang masih rumpang.

Menyisir setiap huruf agar kembali hidup; meletakkan penat yang menghunjam luruh.

Tetapi hati tak ingin berhenti berkabung. menciptakan deretan selamat tinggal yang kian menyesakkan. ibarat hayat masih dikandung. namun jiwa mencari jalan pulang.

Karena aku adalah sisa tangis yang masih menggelayut manja. dengan ulet dan telaten memintal tiap derai dan tawa.

Karena aku adalah luka, tepatnya luka yang masih belum bersedia percaya. 

Kurapal sedikit banyak perihal memaafkan; namun aku pergi ketika mendapat jawaban yang mengandung harapan.

Kutambal tembikar dengan kertas rapuh. yang sungguh tidak cukup kuat menahan badai riuh. meminta bertemu sepotong hati di lain sisi; memindai rasa sakit diantara jejak pedih tak terperi.

Sesekali, aku ingin enyah;

Merayakan lelah di tempat yang bukan sekadar rebah

Ternyata,

Ada awal tanpa akhir; seperti padanya hatiku jatuh. ada tanya tanpa jawab; seperti padanya rasaku berlabuh. padanya, bahagiaku mengalir begitu saja; padanya juga laraku berkelana.

Namun, mungkin;

Aku adalah kata asing; di lembaran aksara yang ia baca. aku adalah padamnya lilin; di antara seberkas cahaya. aku adalah sebuah pasrah, yang menyerah bahkan sebelum patah.

Terbang mewarnai liarnya belukar; menghidupi padang gersang. diam-diam ku-pupuk harapan, tapi kemudian menguburnya dalam-dalam.

Aku adalah tubuh yang terlahir untuk kebebasan. 

Hendak meminang hati seseorang dalam bentuk ketidakpastian. hendak memeluk jiwanya dengan balutan luka dan ketabahan. dan meminta  raganya  tuk dijadikan sebagai tawanan.

Sungguh, aku telah menjadi sebuah kesalahan yang tidak lagi menginginkan pembenaran.

Dandelion, Peony, Daisy

Ke mana duka ini harus kubawa pergi ?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram