Pulang

Hai Semesta

Ini hari terakhir di Bulan Desember. bagaimana ya ? rasanya berat sekali melepas tahun ini. lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya. banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan tahun ini. dengan mengucap syukur dan banyak terima kasih atas titipanmu. segalanya datang dan pergi bukan ? kalau kata Banda Neira “yang patah tumbuh, yang hilang berganti. yang hancur lebur akan terobati,  yang sia-sia akan jadi makna, yang terus berulang suatu saat henti”. ternyata, begitulah kehidupan berjalan.

Kepada salah seorang titipanmu, aku ingin menitip maaf karena sudah terlalu canggung mengucapkannya secara langsung. tanpa sedikitpun bermaksud menyakiti perasaannya, beberapa potongan kejadian tak dapat lagi dibicarakan. barangkali memang begitu akhirnya, dalam hidup ini sejatinya melepaskan bukan ?

Tolong berbaik hatilah padanya. aku tahu bukan orang baik, yang barangkali akan terus melukainya jika ia berada di sisiku. terus menyakitinya jika terus berada di sekitarku. pertemukanlah ia dengan seseorang yang disayanginya. yang tidak membuatnya sedih terlalu sering, yang tidak meminta banyak pengertian dan kadang menghabiskan separuh kesabarannya. katakan padanya, tentu saja ia berhak bahagia tanpa persetujuan orang terdekat sekalipun. 

Sekarang, aku jalan dulu. mungkin aku terlalu berharap menjadi rumah bagi orang lain, padahal dalam diri masih kosong dan tertutup. maaf, karena aku terbiasa membentengi diri, tidak suka membangun jembatan atau koneksi. ini memang sifat kekanakan dan  keras kepala yang menyebalkan. tapi, katakan padanya jangan mengkhawatirkanku. aku bisa menjaga diri. jangan sedih jika sudah terlalu jauh berjarak, itu demi kebaikannya juga bukan?

Semesta, terima kasih sudah menjagaku sejauh ini. tapi kenyataannya aku terkadang masih membenci diriku sendiri. tidak mau berdamai dengan sisi lain yang bengis itu, yang penuh dendam dan kebencian. kau tahu alasannya yang belum segera kumaafkan sampai sekarang. aku membangun tembok dan kesepian di dalam, menghadapi banyak hal sendirian. diri ini sangat egois tapi terus ingin menyayangi seseorang namun tidak tahu cara memperlakukan ia dengan istimewa. bahwa aku memang penuh ketakutan dan rapuh, lalu kerapuhan ini membuatku sangat waspada dan enggan terlibat secara mendalam dengan siapapun. ini sungguh menyakitinya kan ? benar. ini juga menyakitiku.

Semesta, sudah dulu ya. jangan lupa sampaikan permintaan maaf dan terima kasihku padanya. aku tumbuh, dengan perasaan warna yang penuh. aku akan belajar sembuh, bukan separuh. aku ingin belajar menerima dan mencintai jiwaku dengan utuh.

Bisikanmu selalu ku dengar manakala tubuhku dekat dengan alam. jangan bosan melindungiku hingga napas terakhir berhembus dan bunga-bunga kelak bertebaran di tanah pemakaman~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram