Sorai Anomali

Juli, tujuh belas –

Malam itu hati seseorang tengah berlayar di lautan lepas. dibiarkan jiwanya sejenak memutus rantai rutinitas. menghirup udara segar di malam bebas. langkahnya mantap menuju laman pengabdian, tempat takdir menghubungkannya dengan daratan. pukul sepuluh malam, kapal mengarungi lautan. belasan tahun silam, ingatan akan pelayaran mengusik. kala matanya mengerjap-ngerjap. manusia paruh baya mengangkat tubuhnya menatap cakrawala. di bawah pancaran sang surya, perasaan takjub menyeruak ketika menatap birunya samudera.  

Tapi kini gelap merayap, dingin menyergap. bersamaan lambaian tangan semakin jauh memutar haluan menuju pulau seberang.

Waktu tak beraturan, suara di realitas perlahan karam. seakan bumi berhenti berputar pada porosnya. dalam keadaan koma ;

Ada pesan dari anomali untuk langit ;

“Bernaung seseorang di bawah atapmu. jangan menangis di gulita ini, ada khawatir di rumah. tak bisa menjauhkan ponselnya, hendak memastikan tak kuyup dalam perjalanan. tak dahaga pada lalu-lalang. pastikan, ia selamat

Ya ! kepada gemintang. jika kalian berevolusi  dan mengakhiri hidup dalam ledakan kosmik kolosal supernova, mungkin ini malam tepat kalian saling bertemu pada atom dalam tubuh berbeda. saat cahaya terlahir kembali menuju tepian galaksi, jangan ingkari perjalanan spiritual pada konstelasi alam semesta”

Dari anomali untuk lautan ;

"Ramahlah dulu malam ini. kau bisa guncang besi terapung itu sebentar, tapi jangan menenggelamkannya. karena saat tiba, kau akan menyaksikan lagi kepulangannya. anak-anak ombak tahan dulu murka, saat pantulan rembulan meneriaki kalian untuk tenang, perlihatkan padanya kelembutan dan kasih sayang"

Dari anomali untuk pegunungan ;

"Hawa dingin menusuk hingga belulang. matanya sembap menangis di kilometer perjalanan. kalbunya tersentuh mengenang liku kota tempatnya dibesarkan. bebatuan raksasa, jembatan penyebrangan, tugu selamat datang, ah ia manusia sentimental. jangan dulu menguap hari ini. biarkan ia terlelap di hadapan kaca mobil. biarkan ingatannya memutar setiap kelokan yang ia lewati. suguhkan saja sejukmu pagi hari"

Dari anomali untuk pepohonan ;

"Lihatlah, matanya berbinar. kalian berbaris rapi menungguinya, hijau penebar damai. berfotosintesis dengan baik, kehidupan menyatukan kalian berdua. rimbun pohon, tiupan angin dan senyum di bibirnya. lagi-lagi teringat buah markisa yang dibawa Bapak dari Kota Manipi. itu adalah buah favoritnya. terlepas ia merindui belukar bumi perkemahan. apa  yang ia lihat? biarlah ia berperan sebagai pengamat"

Dari anomali kepada api ;

"Berkobarlah, seperti nyala pada dadanya. tapi jangan bakar harapan seketika. jika padam berilah pertanda, kusampaikan pada hujan agar tak dulu membasuh apapun. saat menagih yang kujanjikan, seketika hatinya jatuh tanpa alasan"

Dari anomali untuk- Dia dan rasa

“Hari itu; saat kau tiba- mungkin akan banyak lelah dan amarah, tapi perlahan nikmati waktumu di sana. ku izinkan kau bertemu seseorang. butuh waktu untuk memahaminya, tapi ia tak akan mengusirmu. ku izinkan kau memerhatikannya, jadi catat apa yang mengesankanmu. ku izinkan kau bertukar sapa dengannya, jadi beranikan dirimu bertanya. ku izinkan kau menjadi dekat untuk waktu yang cukup lama, tapi jangan siakan kesempatan mengenalnyadan dengar pesan Antoine de Saint-Exupéry ini 

“of course I’ll hurt you. of course you’ll hurt me. of course we will hurt each other. but this is the very condition of existence. to become spring, means accepting the risk of winter. to become presence, means accepting the risk of absence.” 

Karena suatu kali rasa mendekatkan keduanya, lalu mematahkan hati mereka satu sama lain. jangan biarkan ego membesarkan, agar tak luluh lantak dalam sekejap. adalah mengetahui dan menerima risiko kalaupun saling menaruh luka pada akhirnya. adalah saling mengisi ketidaksempurnaan tanpa mengubah satu sama lain nantinya

Dari anomali untuk air mata ;

"September satu, langit telah melindunginya dari kejauhan. lautan telah mengantar pergi dan pulang dengan tenang. pepohonan telah menunaikan kedamaian pada hatinya yang sering bimbang. api bersemayam pada semangatnya dalam diam. dan pada perpisahan yang berlalu ratusan hari setelahnya ; jika kau sang air mata, mengalir begitu sering pastikan tawa tak lekas hilang dari simfoni hidupnya"

"Dan eternal, yang kekal dan abadi- di sudut bumi yang berjarak akan tetap bertemu kecuali mereka memutus benang merahnya"

Akhirnya ; dari anomali untuk sorai –

"Ada yang tak bisa kau temui di antara kebisingan, ucapan terima kasih ia titipkan. ia menyayanginya dengan atau tanpa alasan. ada banyak cara tuk meninggalkan, tapi sejauh ini katanya kau memilih tinggal. ia tidak pergi, kecuali kau memintanya dengan senang hati. dan pesannya (jaga kesehatan)"

0 comments:

Post a Comment

My Instagram