Tetapi aku ingin pergi ke tempat sepi. dekat dari tempatku bernama antah-berantah. dan itu sudah sejak kapan, entahlah.
Karena rumah,
bukan hanya bilik. ruang yang disekat oleh dinding kayu dan beton. ia adalah
jiwa yang menghuni di dalamnya. sekali kau temukan rumah pada tubuh orang lain,
maka bersiaplah menderita.
Selang beberapa
waktu, aku.
Sekarat
Kata-kata
mewakilkan diri seperti berkabung. berada di antara titik terpisah dari setiap
dimensi yang terhubung.
Bagaimana sesuatu
tidak menjadi seharusnya. teriakan dari hati bersayat sembilu. berwarna pilu
membiru. sekitarannya bengkak. persis luka tikaman dari seorang pembunuh
bayaran. terlihat samar, dibalut perban. menyatu dengan kulit berwarna sawo matang dan hanya dibuka ketika gelap mengucapkan selamat datang.
Aku takut rasa sakit dari luka ini tertarik kepadanya. kemudian ia membantingnya dan merasa tidak pernah berbuat apa-apa. luka ini memilih pulang pada tempat yang juga belum sembuh sepenuhnya. mereka akan menjadi bencana untuk keduanya.
Sungguh, mereka tidak layak menambah deretan trauma.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment