Aku menunggu di perpustakaan. meja dan kursi berjejer
rapi. mataku bergeser pada cat tembok berwarna hijau. aku ingat apapun yang
hijau melambangkan kehidupan. tumbuhan, tanaman, dedaunan, pepohonan, bahkan
seperti pertautan lautan di antara dalam dan dangkal, riak dan gelombang. masing-masing dari kita pernah menari di atas gemuruhnya yang rasanya mungkin
sangat asin. ya karena memang dia air laut. jika manis, mungkin saja itu ucapan
pujangga yang tengah dirundung asmara.
Aku mengambil satu buku bersampul bayangan anak laki-laki
tengah meniup dandelion. kenapa laki-laki? hei kau pikir yang bisa bermain
bersama bunga hanya perempuan? anak laki-laki itu mungkin saja mengantarkan
nyawa dandelion ke tempat baru. dengan bantuan angin, ia menempatkan dandelion
kepada rumahnya bertumbuh. ah itu hanya sampul, tetapi bagaimana dengan isinya? aku penasaran.
Aku tiba-tiba teringat katamu “mengapa menuntut semua hal
agar sama dan sempurna? bukankah kita indah dengan perbedaan?” sambil
menyaksikan mimik wajahmu yang lucu itu kau menatap dengan mata sedamai hutan
hujan. kini aku telah menggeser kursi baru. berwarna cokelat tua, warna
yang membumi. seperti kamu, kau sangat pendiam dan pemalu. aku selalu betah
lama-lama di dekatmu, karena kau tidak banyak mengajakku berbicara.
Manusia hidup untuk saling melengkapi.
Aku belum pernah menemukan kelengkapan itu kecuali dari diriku sendiri. melihatmu dengan perasaan ingin melindungi dan mengasihi ternyata menyiksa diriku yang terbiasa sendiri. ibarat dua kaki melangkah bersama, jika yang kanan terluka, maka yang kiri akan mengiringi pelan. terseret, terseok hingga sampai kepada tujuan. dua manusia ibarat ketidaksempurnaan yang saling mengisi. walau tertatih, tetap bersama menanggung.
Dari kejauhan kudengar suaramu melambung. kau yang setidaknya, akan menyisakan punggung.
Di situ, aku sadar hanya berbicara dengan bayanganmu.
Hei ! di situ, aku lama sekali sudah menunggu.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment