Meja itu dipenuhi buku-buku usang. kertasnya tampak akan menguning dan aromanya sungguh khas buku lawas. aku terbiasa mengambil buku paling lama. menelisik tiap lembarnya. membauinya sembari menghirup wanginya dalam-dalam. perekatan yang tak mudah lepas. tinta tulisan yang perlahan akan memudar. ah aku sayang buku-buku tua. setia mengisi tiap rak dengan tebal-tipis wujudnya. cellulose dan lignin dari serat kayu terkadar alami. aromanya sungguh candu. membuat tanganku meraba dan membauinya sesering kali.
Bukankah itu indah ?
Aku tidak punya alasan yang tepat kenapa mau melepaskan mereka meski sebenar-benarnya sangat sayang. hingga kutemukan jawaban yang seirama dengan value-ku pada kalimat Tan Malaka di bukunya berjudul Madilog. ia menulis bahwa “Walaupun saya tiada berpustaka bukanlah itu artinya saya kehilangan isinya”.
Seperti meja di kamarku, tidak benar-benar penuh. setelah kurombak dan menyadari ini sudah lebih dari cukup.
Mejaku yang lengang, renggang dan tidak banyak barang-barang. meja dengan kumpulan aksara yang kusayang. nyanyikan lagu ninabobo pada luasnya imajinasi. meja kosong penghantar mimpi, kita bertemu lagi nanti -
Hari ini peringatan nyala aksara dua hari sebelum perayaan kelahiranmu. pintaku sama, tetaplah hidup dan sehat selalu.
0 comments:
Post a Comment