Saat gelap membungkam malam dan
bintang-bintang berpamitan. ada sepasang kaki tengah tersesat. berjalan tak
tentu arah; mencari rumah tak beralamat.
Mataku terbakar amarah, buta sekeliling
arah. aku yang kala itu berselimutkan dingin. sudah remuk badanku dihantam
badai. namun masih terbilang bertanya, apakah tulangku masih ditemukan
nantinya?
Batinku ingin berdamai. tapi egoku
ingin mencabik habis wajah mereka. Di mana belas kasihmu orang dewasa?
Semakin kelam kian mendekap. kunikmati
setiap tikaman menggerogoti. sudah parah namun tetap ditertawakan. lucu bukan?
di situ aku bersumpah tidak akan memaafkan. di situ pernah kutanam dendam yang
mendalam. di situ pernah kubawa rasa sakit dan penderitaan.
Menjelang terang aku terseok masih
mencari perlindungan. namun orang-orang pandai belagak buta dan tuli. melihat
namun tidak peduli. mendengar namun berjalan pergi. aku seolah tiada arti
bernapas di dunia ini.
Diriku yang merasa pernah terbuang. kembalilah pulang ke rumah. ada lautan yang akan menyambutmu pulang. ada rembulan yang senantiasa menatapmu yang kesepian. sudahi amarahmu, obati lukamu.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment