Bagaimana bisa mendefinisikan kedukaan? mereka terkadang lari. dari apapun yang berpotensi mengikat. entah komitmen atau tanggung jawab. mereka berlari pada lingkaran yang tak berujung tetapi stuck pada siklus. tidak berani membuat keputusan. hanya ingin manis kehidupan dan bersenang-senang. hatinya mati, akalnya mati. keluar masuk dalam kehidupan orang-orang tapi tetap kesepian di dalam. seperti tanah yang kehilangan rumah, suram sekali.
Bagaimana mereka menyembuhkan perasaan itu? adalah saat mereka bertemu kedukaan lainnya. entah jauh lebih muda atau tua masa dukanya. yang ia lihat seperti cerminan dari perasaan sepinya. ia melihat satu lainnya juga berputar-putar pada lingkaran tak bertepi. maka mereka saling bergandengan tangan, berada pada satu titik temu dan mengukir takdir untuk berhenti. semua kebebasan, kebingungan, ketakutan dan keraguan sirna. karena mereka seolah menjalani siklus yang sama. kedukaan itu akhirnya melahirkan eternity. ke manapun mereka pergi akan memilih berhenti pada titik yang berpola dan bersambung ke lingkaran yang mengikat lainnya. kau bisa melihatnya sebagai simbol infinity.
Kemarin aku bertanya, tangan siapa yang harus ku-genggam saat aku kebingungan? telinga siapa yang harus mendengarkan kekhawatiran tentang esok yang tak menjamin datang? aku rasa setiap orang tidak akan menyiakan waktunya menyembuhkan trauma seseorang. mereka akan memilih jalur yang tidak terlalu curam. setidaknya, memutari siklus yang sama mereka sebut aman.
Aku pernah meminta pada Semesta memberiku kesempatan mengecap perasaan diinginkan. dan sepertinya permintaan seperti itu harus lebih hati-hati. sebab sungguh, demi langit dan bumi jika berlebihan akan terwujud dalam bentuk obsesi. sedang saat itu aku masih merangkul lara dan satu keputusan akan membungkam segalanya. mana yang meraung kesakitan, mana yang menggerutu dalam senyap. aku temukan duka dalam bentuk teman pertaruhan yang dikalahkan. lalu jemariku menyisir permukaan kasarnya. aku tidak ingin hanya sekadar jatuh hati, aku butuh komitmen dan kepercayaan yang bisa membuatku berhenti di titik itu.
Tapi dunia harus tahu ini. bahwa aku tidak keberatan sama sekali, jika ia orang pertama yang berani mendekapku. merapatkan kulitnya pada kulit milikku. aku tidak merasa terusik saat ia mengusap rambutku. dan ini terasa aneh saat bibirnya menyentuh leherku. mengecupnya lembut tanpa aku sadari. bukankah ini kombinasi sempurna untuk mendefinisikan kedukaan yang begitu lama bersemayam?
Jika perpisahan bagian dari kedukaan, maka aku sungguh ingat malam itu ia mengecup keningku kali terakhir. mencium punggung tanganku bak seorang putri. sembari membisikkan kalimat agar aku lekas pulang sebab ia menantiku di seberang lautan. wajahnya yang manis itu, sorot matanya yang teduh itu. apa ingatan itu akan perlahan memudar?
Sudah tercatat kekecewaanku pada ekspektasi yang tinggi. mari melepaskan semuanya ke langit. tempat bertumpu doa-doa dari tubuh yang fana. tempat sanubari merasa pulang dengan seluruh jiwa. jangan mencoba meraihnya, jangan mencoba menaklukkannya. lakukan yang terbaik kemudian berpasrah, demikian kunci hidup tenang dan jauh dari riuh, gejolak dan gelombang. ~
.jpeg)
0 comments:
Post a Comment