Ordinary Life

Begini aktivitas saya untuk memaknai kehidupan yang biasa saja. mungkin cenderung monoton dan tidak istimewa. saya menghabiskan kurang lebih sembilan (9) jam di tempat kerja. dimulai pukul 08.00 pagi hingga pukul 05.00 sore. dan itu berlaku di hari senin sampai dengan jum’at. di hari sabtu, saya pulang jam 2 siang dengan jam masuk yang sama. minggunya? libur. saya gunakan waktu itu untuk tidur pulas. atau bepergian bersama kekasih, bersama kawan jika diagendakan.

Banyak hal yang harus saya hadapi di tempat kerja. mendengar, mencatat dan melapor keluhan customer. tidak jarang saya dibentak, dicaci juga dimarahi. walaupun itu bukan kesalahan saya, tapi sudah menjadi risiko dan tanggung jawab saya sebagai customer service. tidak jarang saya merasa sangat lelah dan ingin menangis di tempat kerja. begitu banyak cobaan dan kendala dari pertama masuk bekerja hingga saat ini.

Tapi saya merasa sangat bersyukur. saya ingat betul bagaimana masyarakat melihat saya ketika masih di fase mencari pekerjaan. secara, ibu sudah bersusah payah menyekolahkan saya sampai tamat kuliah namun belum memiliki pekerjaan. di fase itu, saya bukan saja tidak memiliki pekerjaan namun juga tidak memiliki kekasih sepanjang perjalanan usia saya di ambang dewasa. saya bergelut dengan perasaan frustasi yang memuncak, imbasnya. berat badan saya turun drastis, rambut rontok, juga jerawat tumbuh sesuka hati. padahal, fase skripsi saya kira paling mematahkan. melihat kawan-kawan lulus dengan mulus lalu mendapatkan pekerjaan. ternyata? fase setelah kelulusan jauh lebih menyedihkan. saya merasa sangat tidak berguna kala itu.

Satu hal yang benar-benar harus kamu percaya ketika membaca tulisan ini, ternyata semua ada waktunya dan Semesta punya cara memberikan semuanya jika sudah waktunya. hal kecil yang terus saya panjatkan kepada semesta bahwa tolong berikanlah pekerjaan yang baik untuk saya, jodoh yang baik untuk saya, sehatkanlah orang tua saya juga lancarkanlah rezeki saya. setiap melihat ke langit mata saya berkaca-kaca memohon agar bisa terlepas dari belenggu depresi yang kian rentan. saya seperti kehilangan arah hidup saya saat itu dan berpikir bahwa apa semesta masih mau peduli pada orang seperti saya?

Sebuah kesalahan meragukan bagaimana meremehkan cara Semesta bekerja. saya patut bersyukur bagaimana hidup telah memberikan warna yang indah pada masa kecil saya. sederhana tapi sungguh saya pernah benar di dalamnya sebelum masa trauma menjajah hidup saya. ketika itu usia saya masih sangat muda, sebelum masuk tk. sebagaimana perantauan, orang tua saya mengontrak rumah di sebuah perkampungan di daerah sulawesi selatan. dikelilingi oleh tetangga yang hangat dan begitu baik, juga tuan rumah yang waktu itu masih hidup juga mengajari saya mengenal huruf hijaiyah untuk pertama kali. waktu itu rumah kontrakan kami seperti pada rumah orang bugis pada umumnya. masih di tahun 2000-an, belum banyak teknologi berkembang. kami bahkan tidak memilki televisi, jadi setiap sore saya ke rumah tetangga untuk menonton serial kesukaan setelah belajar tentunya.

Di samping kanan rumah, ada keluarga ibu suruga. rumahnya panggung, luas dan kokoh. ada begitu banyak anggota keluarga di dalamnya. bu suruga, termasuk orang yang religious. beliau memiliki banyak anak tapi sebagian ada di perantauan. kebanyakan anak yang lebih tua menjadi nelayan di lombok atau di wilayah timur indonesia. beberapa bulan sekali barulah pulang ke rumah. si bungsu  biasa disapa kia. dia teman masa kecil sekaligus teman bermain saya di kompleks. di sebelah rumah bu suruga ada rumah ci martha dan suaminya sekaligus ketua rw bernama pak irwan. mereka memiliki dua anak laki-laki dan perempuan. si bungsu yang laki-laki teman seusia saya kala itu. namun, sejak dulu mereka tinggal berpisah. ci martha di rumah panggung bersama kedua anaknya sedangkan pak irwan di bawah sendirian.

Di sebelah kiri rumah saya ada keluarga si kembar emma-emmi. nama ibunya puang cemming. beliau sangat baik kepada saya, karena si kembar teman sepermainan saya yang sangat dekat. anak puang cemming banyak, sebagian perempuan namun lebih tua dari usia saya. beliau kerap berteriak dan memukuli anak-anaknya, saya rasa beliau mengajarkan kehidupan yang keras kepada anaknya untuk berani melangkah menuju dewasa. di belakang rumah, ada keluarga puang dharma. seorang yatim piatu, tapi saya masih bertemu dengan ibunya dahulu. saya ingat bagaimana saya pernah menumpahkan gula dan beliau menggantinya sewaktu berbelanja di tokonya. ada adik laki-lakinya bernama emmang. anak yang tinggi dan aktif. sewaktu kecil juga bermain dengan saya.

Dan terakhir, tuan rumah kami. tidak ada anak seumuran saya. yang ada sepasang suami istri puang ambo dan ibu nadi. mereka sudah cukup berumur waktu saya masih usia empat atau lima tahun. bu nadi yang mengajari saya mengaji dan selalu memberikan makanan khas bugis untuk ibu saya. beliau memiliki empat orang anak. satu di sumatera, satu di maluku utara, satu di makassar dan si bungsu kakak adam yang di rumah bersama mereka. sewaktu saya kecil, kakak adam sudah sma dan sudah tidak cocok bermain bersama. jadinya, saya dianggap seperti cucu mereka berdua. sedangkan puang ambo, masih hidup sampai sekarang. kali terakhir video call dengan saya itu beberapa bulan lalu. alhamdulillah masih sehat, sedangkan ibu nadi sudah lama berpulang sejak saya masih sd.

Selain orang-orang baik yang mengelilingi keluarga kecil kami, saya juga memilki teman dekat seperantauan bernama feri. dia anak tunggal dan kami sering bermain bersama bahkan ibunya menganggap saya seperti anaknya sendiri sebab beliau juga tidak memiliki anak perempuan. katanya, enggan melahirkan lagi dan sampai sekarang di usia saya yang ke-dua puluh delapan, beliau tetap memiliki satu anak feri saja. dia sudah menikah, dan ayahnya feri sudah berpulang. ada abjuga saudara bapak saya yang merantau dan memilki anak laki-laki bernama felix. waktu itu baru lahir dan saya menganggapnya seperti adik sendiri. felix sangat menggemaskan membuat saya ingin memiliki adik sungguhan. tapi sepertinya ibu tidak ingin melahirkan lagi.

Di bulan tertentu, kami biasa mengunjungi suatu daerah bernama manipi. daerah pegunungan dengan kabut tebal dan pemandangan yang luar biasa indah. saya ingin tinggal di tempat seperti manipi. di sana setiap membuka mata sudah dimanjakan dengan suguhan alam menakjubkan. apalagi perjalanan ke sana, walaupun jauh dan berliku tapi jangan tanya keindahan alamnya. memori saya begitu terpikat dengan hamparan pegunungan yang menjulang tinggi, juga jurang-jurang yang begitu dalam di bawah sana. mengesankannya, ada rumah di antara ketidak mungkinan itu. saya hanya berpikir dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa hidup di tengah alas yang jauh dari perkampungan. manipi, tetap menjadi tempat favorit dengan pemandangan impian yang ingin kembali saya kunjungi.

Di masa kecil saya, masa di mana saya merasa disayang oleh semua orang. terutama saat kami sekeluarga di sinjai. walaupun pendatang dan orang asing, tapi kami sangat diterima di sana. bahkan saya lebih fasih berbahasa bugis dibanding bahasa jawa. setiap setahun sekali kami pulang ke jawa naik kapal. barulah saya bertemu saudari saya. kakak wulan yang memberikan sekotak pensil dan tas kepada saya dari uang tabungannya. sewaktu kami masih menjadi perantauan, orang-orang begitu menyanjung keluarga kami. namun, setelah kami menetap di jawa serta kemelaratan menandai hidup kami. sungguh, tidak ada artinya kejayaan itu pupus dan berakhir. dari situlah segala trauma menggerogoti kebahagiaan kami. ibu dan bapak retak, saudara terpisah juga kemiskinan di luar nalar. demi langit dan bumi, semoga kelak anak saya tidak pernah merasakan kehidupan yang sulit juga penuh penghinaan seperti kala itu.

Saya ingin menikmati kehidupan saat ini. bekerja itu membosankan tapi tidak bekerja maka tidak makan. sampai kapan mau merepotkan ibu terus? saya akan berjuang, saya akan bertahan. ini semua tentang menjadi petarung di kehidupan serba bengis ini. walaupun demikian, saya sebahagia itu sewaktu kecil. melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih banyak kepada Semesta, ibu bapak juga orang terdekat yang namanya juga ingatan tentang mereka masih melekat di ingatan. mungkin sebagian masih hidup, sebagian berpulang. tapi kalian tetap syaa sayang. terima kasih, sungguh terima kasih.

Itu adalah kehidupan yang sederhana tanpa kemewahan namun berhasil mewarnai masa kecil saya. di alam bawah sadar saya, ingatan tentang tanah sulawesi begitu membekas. mungkin bukan hanya karena tempatnya, mungkin itu karena orang-orangnya yang begitu hangat kepada keluarga kecil kami. terlahir dengan hati yang sentimental sekaligus melankolis sudah cukup dengan memberikan pengalaman kehidupan yang sederhana namun penuh makna. mungkin itu yang saya cari, perasaan tanpa rekayasa. perasaan hidup apa adanya. perasaan yang membuat hati penuh hanya dengan menjalin hubungan baik dengan sekitar kita. saya percaya, perasaan itu yang ingin saya rasakan kembali. dari nostalgia singkat ini, saya sekali lagi ingin mengucap syukur juga berterima kasih kepada pemberi hidup. dua puluh delapan tahun, dan ingatan itu belumlah sirna. .ah betapa maha-indahnya. . .

0 comments:

Post a Comment

My Instagram