Tempat Rebahmu

Seiring berjalannya waktu, sebagian dari dirimu akan tahu. apakah dia orangnya atau bukan.

Sebelum bersamanya, aku sama sekali tidak pernah berpacaran. ini kali pertama aku menjalin hubungan dengan seseorang. awalnya aku diam-diam, menyembunyikan ini dari semua orang. berpikir bahwa aku terlalu canggung mengakui bahwa akhirnya seorang diriku berpacaran. tapi jatuh cinta? itu sudah beberapa kali aku rasakan. namun, terkait dengan keinginan untuk bersama orang lain waktu itu aku tidak siap dan aku tidak minat.

Hubungan ini terlahir karena aku mau membuka hati. bayangkan saja jika selama ini aku masih bebal menutup pintu hatiku rapat dan enggan membukanya untuk sekali saja memberikan kesempatan pada orang yang juga mungkin menyukaiku. bagian tersulit bagiku adalah membangun rasa percaya. entah itu kepada dirinya maupun kepada diriku sendiri. terlahir dan besar dengan trust issue yang begitu kental. aku mungkin banyak merepotkan dirinya dan orang di sekitar termasuk Ibu. ini bukan hubungan yang mulus dan mudah. banyak sekali cobaan yang kami hadapi. terutama yang bersumber dari kepercayaanku kepadanya. pernah suatu hari, di tahun kedua hubungan kami. entah karena dirinya saat itu masih mencintai kebebasan ataukah belum ada ikatan cincin yang menandakan keseriusan. aku mendapati sebuah kenyataan pahit bahwa dia tertarik dengan gadis lain selainku. ini sudah tahun ketiga, demi langit dan bumi dia menjadi setia dan menjadikanku satu-satunya.

Menemui peristiwa itu, aku sangat sakit dibuatnya. sungguh, aku membenci dunia dan merasa tak pantas bahagia. kau tahu betapa banyak air mata yang meleleh waktu itu? semenjak saat itu deretan drama muncul dari hal kecil yang dilakukannya. aku merasa selalu ada hal yang disembunyikan dari dirinya. padahal dia sudah berjanji juga bersumpah di hadapanku juga di hadapan ibu akan setia sampai selamanya. bukannya memvonis diri sendiri, tapi terkadang semua itu tidak terbukti. aku rasa itu semacam paranoia yang timbul setelah trauma. aku takut dikhianati, aku takut ditinggalkan, aku takut tidak dipedulikan, aku takut tidak lagi berharga untuknya.

Tapi kau tahu? dia masih tetap di sampingku. mendampingi sifat egois dan rasa curiga berlebihanku. aku kerap menuduhnya dengan pernyataan yang tidak masuk akal. sehingga aku kehilangan nalar dan logikaku. sepertinya perasaan kelam itu benar-benar berhasil menguasai pikiranku. mengganggu kedamaian yang selama ini aku ciptakan. akhirnya, semua kebisingan dan gelombang dahsyat masa lalu bermunculan saat aku bersamanya.

Aku tidak ingin membebaninya lebih jauh. tapi aku sangat menyayanginya. dialah yang mewujudkan banyak mimpiku perihal cinta. orang pertama yang ku kencani. ke bioskop, ke pantai, ke toko buku, ke kafe. ke restoran, ke taman, ke tempat olahraga, bahkan jadi awal berciuman. dia tempatku rebah, tempatku bersandar, tempatku lega mengekspresikan diriku sendiri juga tempat ternyaman untuk pulang.

Jadi, jangan saling bosan menemani sampai kita menjadi sepasang hingga kita kembali pada Semesta. ya, sayang?

0 comments:

Post a Comment

My Instagram