Pernahkah kau membayangkan?
bagaimana rasanya menjaga perasaan orang lain dengan menjaga emosi agar tidak
meledak di depannya? agar tahan tidak mengeluarkan unek-unek juga sedikit caci
maki sesuai realita. ini yang aku rasakan, aku bingung dan lelah dengan segala
drama pada pekerjaan ini. tidak hanya itu, aku juga kecewa dengan segala bentuk
ketidak-adilan yang harus terus aku maklumi. seolah aku disuruh terus mengalah,
terus menurut, terus patuh dan tidak boleh membangkang atau bahkan membela diri
sendiri. itu syarat mutlak yang harus kuterima jika ingin terus bekerja di
sini.
Jika ada pilihan lebih baik,
jika tabungan sudah mencukupi untuk usaha sendiri, jika rumah yang sedang
diusahakan jadi dan siap huni, jika sudah diberi anugerah keturunan, jika kami
bisa berkumpul menjadi satu keluarga utuh. aku ingin, sungguh sangat ingin.
akan kuberi nama pilihan ini pulau harapan. tempat berkumpulnya, semua khayalan
masa kecil dahulu bersandar. karena jika ada pilihan lain, tanpa mengorbankan
yang ingin ku genggam, maka aku memilih untuk berbahagia dilimpahi kesehatan
dan kecukupan bersama orang-orang tersayang.
Di sini, tempat mengais rezeki
di rumah orang lain. jangan berharap keadilan berdiri. akan ada saja sesuatu
yang mengganjal dan tidak enak di hati. tapi sudahlah, jika kau mengambilnya
terlalu dalam. kau sendiri yang akan terluka. pikirkan saja bagaimana
menyelesaikan pekerjaan dengan tenang tanpa merepotkan orang lain. karena jika
kau berharap belas kasih dan perhatian dari sekitar maka bukan di sini
tempatnya.
Aku tidak tahu persis bagaimana
orang lain memandangku di sini. aku tidak memilih satu sama lain, berteman
dengan merata. tapi yang paling mencolok di sini, yang bisa dilihat dengan mata
telanjang adalah mereka memiliki kubu masing-masing. tidak bisa membaur sebagai
satu kesatuan yang alami bahkan jika menyangkut satu kepentingan bersama. ada
pertikaian, bisik-berisik satu sama lain, complain untuk hal sepele yang tidak
pas di hati. karena apa? karena merasa tak diberikan kekuasaan untuk unjuk
diri. ah, beginikah wajah dunia pekerjaan yang sebenarnya? walaupun kaget, aku
mencoba untuk terbiasa.
Sebab aku butuhkan gajinya,
jadi harus bertahan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan beban
pekerjaannyya. mau protes bagaimanapun juga, kalau posisi kita hanya bawahan di
bagian pelayanan perasaan tidaklah penting. pernah aku menangis di kamar mandi
awal bekerja karena merasa tidak mengenal siapa-siapa sementara dihujat kiri
kanan. komentar pedih itu masih membekas, pada akhirnya ketika aku bertahan
dari semua badai itu, orang yang pernah mencaci-maki hari itu sudah resign. itu
sedikit mengurangi penderitaanku, karena posisi pekerjaannya di sampingku.
jadi, tekananku berkurang. maksudku, tekanan batin yang tidak terlihat itu.
Saat aku membiarkan orang lain
menjadi dirinya sendiri, sebenarnya aku membuat pendekatan secara alami. aku
ingin mendekati mereka dari hati, sehingga setiap perintah dan aturan yang
mengharuskanku untuk diikuti bisa aku kendalikan. aku tidak membayar mereka
dengan uang, hanya membiarkan mereka menjadi diri sendiri. aku tidak butuh
diakui, dihargai, atau dihormati. aku hanya butuh mereka mau mendengarku ketika
aku bersuara, yah meski bisa ku katakana 70% gagal. haha! nikmati saja bukan?
Aku mengira bahwa privilege itu
nyata. ternyata benar, jika kau ragu silakan masuk di dunia kerja.
keberhasilanmu dalam pekerjaan itu bisa ditentukan dari hal-hal yang sudah
melekat padamu sebelumnya. kekayaan,
keturunan, pendidikan, riwayat pekerjaan, kecantikan atau ketampanan,
kebaikan? tidak berarti. yang ada kau hanya akan terus dimanfaatkan. itu nyata!
percayalah, bahwa semua yang sudah melekat itu akan menguntungkanmu 99% di
dunia kerja. selama ini aku mengira hal itu hanyalah mitos semata, ternyata
tidak. aku tidak punya semua itu. lalu apa yang membuatku bisa bertahan? mengalah.
benar, aku mengalah. samar, tidak terlihat, dan pasif. aku memilih berada di
belakang layar dan mengikuti arus. seperti menekan jati diri untuk berkembang,
karena dipaksa keadaan untuk lama diam. bertindak lebih akan merugikan,
menyebabkan konflik dan tidak aman. benar, terlihat seperti pengecut yang
bersembunyi di zona nyaman. tapi itu lebih baik daripada harus kehilangan
pekerjaan di usia yang tidak lagi ideal memulai dari awal.
Sama seperti suamiku, tidak
berasal dari keluarga kaya, atau berpangkat tinggi, atau pekerjaan terhormat,
atau bahkan bergelimang kemewahan. dari awal aku sudah tahu dia mengusahakan
segalanya sendiri. bagaimana ia mencintai dan menghidupiku. mengumpulkan rupiah
untuk pernikahan sederhana, bagaimana ia bisa mendamaikan dua keluarga yang
saling bermusuhan. rasanya, itu sungguh perjuangan luar biasa. kecerdasan
emosional, pemahaman yang dalam, merangkul ketika salah dan sedih, dan membawa
kebahagiaan untuk diriku sang istri. mengayomi juga menjadi provider dalam
ikatan pernikahan. itu cukup, sudah sangat cukup.
Empat bulan sudah perjalanan
pernikahan kami.
Aku menaruh banyak harapan.
tidak bosan aku katakan berulang kali bahwa itu bukan omong kosong. aku
menaruhnya di pulau harapan. saat pekerjaan tidak lagi menekan jati diriku,
saat aku bisa menjadi ibu rumah tangga yang memasak setiap hari untuk suami.
saat aku diberi kesempatan untuk mengandung dan melahirkan seorang bayi yang
sehat dan cerdas. saat aku memberinya nama, saat aku bisa menjaga orang tuaku
di usianya yang tak lagi muda. saat aku dan suamiku bisa pergi ke tanah suci
melaksanakan rukun islam yang ke-lima. saat aku tidak lagi mengkhawatirkan
nominal uang di tabungan kami. saat kami membesarkan putra dan putri kami
hingga berpendidikan tinggi. saat aku bisa menyediakan tempat tinggal yang
nyaman untuk ibu sebagai balas budi. saat rambut kami memutih dan berjalan
menuju senja. tentang hidup yang mengajarkan banyak, saat itu tulisan ini akan
kubaca kembali untuk mengingat aku pernah duduk di sini. di malam terkahir bulan
april tahun 2026 saat lembur bekerja.
Aku mencintai hidup yang fana dengan segala harapan yang tergulung di dalamnya. suatu hari, suatu masa. aku memiliki tempat untuk semua harapan itu. di pulau yang akan menjemput impianku menjadi nyata.

0 comments:
Post a Comment