Demikian dua kata yang bisa
mewakilkan diri saya ketika baru dikenal orang lain. saya tidak ramah, tidak
menyenangkan diajak bercerita, tidak begitu tertarik pada gossip, tidak suka
kerumunan, tidak menyukai kejutan. saya mencintai keteraturan dan keseimbangan.
mungkin saja pikiran saya terpola pada rutinitas, sehingga itu tidak menjadikan
saya bosan duduk bekerja dari jam 8.00 pagi hingga 5.00 sore. tidak masalah
bagi saya duduk sendirian menikmati secangkir kopi sambil membaca, tidak
masalah saya harus menonton bioskop sendiran, ke toko atau ke mall, bahkan ke
resto untuk makan sendirian. saya tidak pernah merasa terlalu bermasalah dengan
anggapan orang-orang bahwa saya aneh dan tidak asik diajak berkawan.
Dari dulu, ada anggapan bahwa
saya terlalu pemilih dalam hal apapun. dan saya tidak ingin memungkirinya.
memang benar dalam beberapa hal ada yang saya suka dan tidak sukai, seperti
manusia pada umumnya. ketika saya sudah berpegang teguh pada kebiasaan itu, dan
ada terobosan baru. saya menjadi agak defensif dan putus asa. kenapa? karena
saya menganggap perubahan itu sebagai tantangan yang harus saya pelajari lagi
dari awal lalu mencari cara untuk mengendalikan atau mengontrolnya.
Saya benci adanya kritik dan
gugatan. itu membuat diri saya merasa gagal dan tidak becus mengelola
kebiasaan. padahal, selama ini saya menuangkan seluruh energy saya untuk
menjaga batasan itu tetap ada dan mengalir sebagaimana aturan saya. sejujurnya,
saya tidak bisa menoleransi kesalahan. saya merasa bahwa itu adalah bentuk
permainan yang dilakukan pada aturan saya. sebegai wujud ketidakseriusan pada
cara saya, karena itu saya murni mencintai kepatuhan. atau setidaknya
ketidaktahuan untuk akhirnya bisa mencapai pembelajaran. saya benar-benar
menghargai orang yang mengikuti aturan saya. saya mengapresiasinya, dan
menganggap bagian dari kawan.
Sesempit itu saya melihat dunia
dai aturan versi diri saya. saya lupa
kalau orang lain punya aturan dan kehendak bebas versi diri mereka. saya
terlalu menekan dan mengintimidasi mereka agar patuh dan menjadi anak baik
dalam ikatan dengan saya. saya keras dan gigih mempertahankan aturan milik saya
sehingga tidak mau melihat sedikit luas keluar pandangan tentang sekitar saya.
ah, sebetulnya saya cukup malu mengungkapkan betapa menderitanya diri saya
berdiri di atas aturan yang sudah dari dulu saya bangun sebagai falsafah
pondasi hidup saya. air mata, darah, uang, keringat, waktu, kesempatan untuk
memperjuangkan harga diri yang utuh. terkadang saya mengatakan pada diri
sendiri sebelum terlelap, “tidurlah sayang, tidurlah dengan harga diri yang
utuh”.
Kalimat itu yang mendekap saya
dari kesedihan, kesunyian, kemalangan, dan kesendirian. saya tidak tahu betul
makna yang tersirat karena saya tidak menyisipkan kata maaf juga pengampunan
pada diri saya sendiri. saya terlalu berfokus bagaimana orang lain melihat dan
mengikuti cara saya dibanding bertanya, apa saya sudah bisa memaklumi dan
menolerir alih-alih mengucapkan sumpah serapah dan dendam mendalam. apa saya
sudah melihat sisi baik sebelum menutup pintu alih-alih mengucapkan selamat
tinggal pada ketidak sempurnaan.
Bagi saya belum. sejauh ini
saya masih sangat keras terutama pada orang di sekitar saya. orang tua,
pasangan saya, mereka yang sudah hidup bertahun-tahun dengan saya. benar! bahwa
aturan itu membuat saya tetap berada pada jalur dan tidak banyak memberontak.
tapi terkadang, kekuatan itu menekan bawah sadar saya untuk tetap berada di
mode survive. tidak jarang saya temukan otot saya menegang, jantung berdegup
kencang, cengkeraman pada bagian tubuh meninggalkan bekas yang cukup dalam. aku
tahu semua itu sebagai bentuk pertahanan untuk melindungi aturan milik saya.
sungguh, itu menggerus energy feminin saya sebagai perempuan. akhrinya apa?
saya lelah sendiri. saya hanya berjuang di mode ini demi mempertahankan aturan
milik saya sehingga saya lupa untuk apa semua ini?
Apa benar untuk harga diri?
atau jangan-jangan untuk kehormatan sementara. untuk bertahan hidup? untuk
makna hidup? atau jangan-jangan hanya untuk pencitraan semata? kalau memang
saya sekeras itu, seharusnya saya sadar apa yang sebenarnya saya pegang. aturan
ataukah nilai hidup yang dibungkus aturan. dan sebenarnya, semua sikap kaku dan
menyebalkan ini hanya untuk melindungi intinya. yaitu nilai hidup. sakral dan
berharga.
Nilai ini bagai mutiara yang
terbentuk dari proses pertahanan diri kerang terhadap benda asing. yang
memberikan perbedaan pada satu individu dengan berbagai karakter lainnya. nilai
ini yang membuat saya secara garis keras memberikan peringatan bagi siapa saja yang
ingin terlibat lebih dalam agar menghargai keberadaan saya beserta nilai di
dalamnya. saya tidak tahu betul apakah selama ini nilai yang sudah saya anut
itu benar atau tidak. setidaknya hal itu tidak bertentangan dengan norma dan
tidak merugikan orang lain. ini yang kuat saya pertahankan hingga mengikis
energy saya perlahan. akhirnya saya lelah, mau mengakui atau tidak saya lelah
sekali.
Setelah saya menikah, saya
merasakan perbedaan yang signifikan. nilai-nilai yang dulu saya junjung hebat
akhirnya perlahan runtuh. saya tidak lagi dikenal sebagai independen yang keras
kepala. saya kini merawat diri saya sebagai sosok perempuan yang seutuhnya.
menggunakan banyak waktu untuk melihat dunia dari kacamata baru. mengadopsi
mutiara baru yang tanpa harus menyingkirkan energy alami saya sebagai
perempuan. mungkin saya memang harus lebih banyak bersantai. menikmati hidup
secara perlahan dan lembut tanpa menyingkirkan nilai hidup yang saya anut.
mungkin saya harus lebih mendayu ketika berhadapan dengan energy maskulin.
Saya tidak mau pada kata akhir
yang tragis karena saya teguh mempertahankan harga diri saya yang egois. saya
perlu menyeimbangkan antara nilai dan kekuatan sebagaimana fitrah perempuan.
kelembutan adalah kekuatan di tempat yang tepat. ketegasan juga adalah kekuatan
di tempat yang tepat. kelembutan dan ketegasan bisa jadi kehancuran di tempat
yang tidak tepat. di waktu yang berbeda, kedua kekuatan ini bisa menjadi
bencara yang menghancurkan karakter seseorang. saya tidak mau memandang diri
sebagai seorang yang hina dan ingkar janji. maka tidak ada yang lebih hancur
dibanding pandangan terhadap diri sendiri yang buruk.
Maka dari itu saya putuskan
untuk berhenti. saya berhenti menjaga nilai lama saya dan memutuskan untuk
mengupgrade mengikuti kematangan usia dewasa dan pengalaman hidup bertambah
banyak. nilai yang saya adopsi mungkin saja telah mematahkan banyak benang dan
ikatan sesama manusia. mungkin membawa saya terseret jauh pada kesendirian dan
pemberhentian yang salah. nilai yang saya rawat dan besarkan selama ini mungkin
saja telah merenggut kebahagiaan yang sering tersebar di sekitar saya.
menggerus habis energy saya sehingga tampak lesu, pemarah, dan mengkhawatirkan.
ah saya benar-benar ingin berhenti mengupayakan ketertiban di luar nalar itu.
tampaknya seperti cambuk berduri yang siap mencekik leher saya setiap waktu.
Mengenai banyak hal yang sudah
terjadi ataupun belum terjamah. saya tidak mau begitu memikirkan di luar
kontrol saya lagi. biarkan mengalir, seapa-adanya. memaksakan kehendak orang
lain demi mengikuti kemauan kita bukankah sangat kekanakan? mungkin memang
benar, manusia diciptakan dengan hati yang luas agar bisa belajar melipat hati
dari kejadian dan perkataan yang tidak penting. seolah melipat hati yang sedang
kacau, menipiskan argumen negative dari luar. seolah melipat hati adalah cara
baru mengatur ritme napas, menjadikan kelembutan dan ketegasan sebagai
pegangan. bukan perisai maupun pedang, karena saya tidak ingin lagi menjadi
petarung. saya adalah mahluk hidup yang ingin hidup berdampingan dengan ketidak
sempurnaan. menerima serta merawat diri saya sebagaimana saya ingin dicintai.
seperti melipat hati yang matang, celah tetap ada namun nilai yang lama
perlahan saya kuburkan. menebarkan benih mutiara baru yang wangi dan penuh
kehangatan.
Melipatnya rapi bukan di lemari, namun di hunian nurani ~

0 comments:
Post a Comment