“Well,
i hope that i don't fall in love with you. cause falling in love just makes me
blue. well, i turn around to look at you and you look back at me. and i
hope that you don't fall in love with me”
Ia melantunkan lagu yang
dipopulerkan Emiliana Torrini melalui movie Adrift itu.
jemarinya terus memetikkan gitar dan matanya menatap ke arah langit.
“Apa kabarmu?” sapaku
ketika ikut duduk di sebelahnya.
“Kenapa selalu menanyakan
kabarku?” protesnya
“Karena itu gratis”
“Ha?”
“Apa harus kena denda dulu
baru kutanyakan kabarmu?” jawabku sekenanya.
Ia tersenyum. senyum yang
kaku dan tersipu. dengan mengunjuk seluruh gigi yang dipunyainya bersamaan
kedua sudut bibir terangkat mengikuti lekukan di kelopak matanya. padaku,
senyumnya menular. karena dengan ekspresi seperti itu, ia terlihat seperti anak
berumur lima.
“Jika
ada 7 miliar senyum orang di dunia ini. kenapa senyumnya tetap menjadi
favoritku?”
Ia meletakkan gitarnya dan
membuka tutup botol air mineral. meneguk separuhnya lalu berjalan ke arah
segerombol Tanaman Lavender dan menuangkan sisa air miliknya. ku-ulurkan
sebuket Krisan Kuning 13 tangkai. ia menerima dengan alis sedikit terangkat.
“Kenapa repot-repot?”
“Mungkin aku orang terakhir
yang menemuimu. selamat atas kelulusanmu!”
“Terima kasih”
Hening. suara angin
membelai napas kami. aku menatapnya, ia mengarahkan pandangannya ke arah buket
yang kuberi.
“Turut bahagia dengan
selesainya studimu” ucapku.
“Jangan begitu! kalau
bahagia dan sedihmu bergantung dari orang lain, kau tidak akan mengenal siapa
dirimu” jawabnya.
Jemarinya bergerak
mengeluarkan setangkai Krisan dari dalam buket dan menyematkannya di telingaku.
ia merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau dan mengangkat kedua tangan
membentuk kotak persegi menghadap matahari lalu mengarahkannya pada wajahku.
tangannya meraih backpack hitam miliknya dan mengeluarkan
sesuatu. setangkai Tulip Orange kemudian memberikannya padaku.
"Tidak adil rasanya
hanya kau yang terus memberi. selamat juga atas kelulusanmu" sebelum aku
sempat menjawab dilanjutkannya kalimatnya "Lily, Aster, Peony,
Anggrek, atau Edelwis. aku tidak tahu mana tepatnya kamu. penjaga toko
bunga menyarankanku mengambil Tulip. maaf jika kau tidak suka hehe” katanya
sambil menggaruk kepala.
Kuraih Tulip pemberiannya.
ku-ucapkan terima kasih.
“Apa perlu kuganti dengan,
umm.... Mawar Merah ?” tanyanya skeptis
"Tidak Perlu"
jawabku sembari membelai kuncup Tulip itu
"Tidak
perlu. kau beri senyuman saja aku sudah sayang. kadang perasaan memang semenyebalkan
itu.”
"Oh... baiklah
hehehe" jawabnya diikuti tawa kecil. sempurna ~
Ia menatapku lembut.
"Hei.. kenapa
sengaja sekali membuat rasa itu kembali? setiap kali bercengkerama denganmu,
aku merasa pilu". karena, memoriku tidak pernah bosan merekam segala
tentangnya. seperti percakapan kami tentang keseharian.
“Jadi buku apa yang sering
kau baca?” tanyanya suatu hari. kebetulan kesukaan kami sama,
membaca.
"Buku apa saja selama
itu buku!”
"Suka novel
psikologi?"
"Suka. science juga
! favoritku Genom dari Matt Ridley"
Ia menunjukkan potret buku
miliknya, begitu juga denganku. melihat list judul bacaan kami
ada yang sama, ia berkata :
“Kapan-kapan diskusi
Madilog ya? aku juga pinjam The Selfish Gene, kupinjami
kau Homo Deus”
“Boleh kucoreti
dengan highlighter?” pintaku
“Boleh. yang
penting-penting”
“Sering ke perpustakaan ?”
tanyaku padanya
“Tidak terlalu sering.
hanya ingin mengecek buku terbaru”
“Di perpustakaan kampus?”
“Iya. di perpustakaan
daerah malu”
“Kenapa ?”
“Sudah pernah ketangkep
soalnya” guraunya
“Hahaha gapapa. nanti kita
bisa ketangkep sama-sama” jawabku.
Namanya Orion. kadang
ia tiba-tiba pergi. hari ini berkabar, di hari lain, tidak ada
kabar. ketika percakapan kami berakhir, beberapa hari tidak ada interaksi
lagi. intensitas tak menentu. kadang kami sangat akrab layaknya sahabat dekat,
kadang pula sangat terasing satu sama lain. suatu waktu kami kembali bercakap,
seperti ketika aku streaming movie di laptop, ia mengirim
pesan.
“Sedang apa?”
“Nonton, kamu sedang apa?”
“Sedang membaca, tapi lagi
rehat. jangan nonton terus, nanti bukunya cemburu !”
Aku tidak tahu harus
membalas bagaimana, jadi ku hehe-kan saja.
Suatu pagi, Orion
mengirimkan link dari akun wattpad-nya. di pagi buta yang lain, saat aku belum
sempat memejamkan mata ia juga mengirim link berita. lalu di pagi yang lain;
sebuah pesan masuk.
“Sedang apa? jam segini
pasti lapar kan?” tanyanya
“Sedang tidak bisa tidur.
banyak pikiran”
“Tentang apa?"
“Random. nanti kalau aku
gila, kita tetap berkawan ya!” gurauku padanya.
“Ah, aku juga bekas gila.
kadang kita butuh teman buat berbagi cerita” mungkin maksudnya adalah “kalau
kau butuh telinga untuk mendengarkan, aku siap.”
Ketika aku mulai mencari
dan berusaha menciptakan definisi. pada rasio skala prioritas, rasa itu
menduduki peringkat teratas. membuatku tidak bisa menahan afeksi yang
membludak. rasa itu melarangku berteman dengan logika. memporak-porandakan
prinsip yang kubangun, merobohkan benteng pertahanan mutakhir sekalipun. rasa
itu membuatku meragukan banyak hal, membuatku ketakutan akan kehilangan.
memiliki banyak kekhawatiran dibandingkan dengan kebahagiaan. menuntut lebih
banyak perhatian dan merenggutku dari kebebasan. rasa itu membuatku tertekan
dan berantakan, lebih banyak mendayu sedu pada khayalan. lalu atas izinku,
untuk sementara, rasa itu berkuasa sepenuhnya.
“Hehehe oke. tidak janji
tapi boleh saja” balasku padanya
“Kalau ganti nomer tetap
berkabar ya!” pesanku padanya. sebetulnya aku takut lost contact dengannya.
tidak mendengar kabar apapun lagi tepatnya. tapi itu bukan solusi, sebab
semakin dekat ketakutan itu semakin pekat.
“Iya, kamu juga!”
Pagi-pagi itu sering
membuatku rindu. ah aku ! perasaan jelas saja tidak bisa direncanakan pada
siapa akan diberikan. semenjak pendekatan kecil itu, aku merasa semakin
tertarik ke dalam. rasa itu membuatku melayang. kemudian ketika jatuh, aku
merasa seperti ditertawakan.
“Lagi di mana? saya di
perpus!” ku kirimkan teks singkat, karena hari itu kami ada janji temu bertukar
buku
“Eh.. maaf tadi ketiduran
jadi tidak ke kampus”
“Kenapa tidak pernah masuk
kelas?”
“Sengaja ditunda hehe”
jawabnya
“Ku-temukan bukunya Kazuo
Murakami di perpustakaan”
“Wah.. keren”
Lalu, setelah hari itu
seakan tidak pernah terjadi apa-apa antara kami. aku suka memperhatikannya dari
kejauhan. bodohnya, aku sering tertangkap melihatnya lewat potret yang
dibekukan. ia tidak peka, jadi pikirku tidak apa. aku tidak ingin menyelam.
tapi kabar buruknya, manusia favorit ini bahkan sudah membuatku tenggelam.
“Bagaimana kabarmu?"
tanyaku suatu waktu.
"Seperti yang kau
lihat. aku masih hidup. bagaimana denganmu?”
"Ah, Buya Hamka ~ aku
juga baik" ia langsung menangkap maksudku
“Jika hidup hanya sekadar
hidup, babi di hutan juga hidup ~ begitu kan?”
“Ehehehe iya, tidak rindu
tempat itu?”
“Kadang-kadang, kapan-kapan
jalan ke sana”
Saat seperti itu; jatuh
rasa padanya seperti merawat luka. sepotong hati yang dikoyak dan
dirampas pergi tanpa persetujuan terlebih dahulu. karena jatuh rasa padanya
sejatinya membesarkan luka, setiap kali mendengar tawanya, hatiku membiru.
Buggggg....
Aku terhenyak. tepukan
tangannya di pundak menyadarkan lamunanku
"Masih suka
melamun?"
Aku menoleh, memandang
sekali lagi wajah teduh itu.
"Hanya jika bersamamu!
ritme melamunku menjadi lebih sering" jawabku
Lagi-lagi ia tersenyum.
hangat dan redup. percikan air mancur di taman terus mengeluarkan bunyi memecah
keheningan. awan berarak menutup sang matahari. dalam hatiku penuh jeritan.
"Orion, kupikir ini
hanya sebatas rasa suka. ketika aku tidak bisa mengendalikan lebih jauh lagi
perasaanku, aku merasa seperti orang kebingungan yang terus berkutat pada kata
“kenapa”. jika saja hari itu kita tidak pernah bertemu. jika saja kita tidak
pernah saling bertukar nomor ponsel. aku benci, karena kenapa kau tak kunjung
menghapus kontakku. Orion, aku benar-benar benci perasaan ini. perasaan yang
memaksaku untuk selalu menikam diri sendiri. kau tahu, aku sangat menyukaimu,
lebih baik katakan dengan gamblang bahwa kau tidak pernah memberiku tempat di
hatimu, jangan beri aku mimpi yang pada akhirnya menamparku di akhir. Orion,
apakah sebuah kesalahan aku menyusuri lorong hatimu terlalu dalam?”
"Orion, aku sungguh
kepayahan merawat tanaman ajaib bernama perasaan ini. yang semakin kupangkas,
semakin bercabang dua, tiga, dan seterusnya. aku lelah menyiraminya dengan
harapan dan mimpi, jadi akan kubiarkan kehujanan sebagaimana mestinya. memilih
tumbuh atau mati sesuka hatinya. tanaman ini membuatku sangat sesak, aku
seharusnya dari awal berhenti bukan? bukan tidak lagi peduli, hanya saja perlu
mengambil kesadaran untuk berhenti membunuh diri sendiri. karena masalahnya
sungguh bukan kamu, Orion. masalahnya adalah aku yang masih terus bertarung
melawan egoku sendiri"
“Orion, aku benci
hubungan ini. aku benci ketika kau terus berbuat baik padaku sedang aku
berusaha keras mempertahankan benteng yang kubangun agar tidak jebol
karena aku begitu menyukaimu. aku benci saat kau mulai berkabar, lalu
menghilang beberapa hari kemudian. aku benci saat kau menanyakan balik kabarku,
karena aku akan terbawa perasaan betapa kau juga agaknya peduli denganku.
Orion, aku benci karena ternyata perasaan ini seperti pembunuh yang menjelma
dan menelusuri setiap vena dan nadiku. aku penuh kebencian dan rasa sakit kala
mulai menimbun harapan”
“Tapi, Orion, anehnya…
aku juga membenci keterasingan ini. aku benci ketika kau dan aku mulai menjaga
jarak, kau menjauh begitu juga denganku. aku juga benci ketika aku harus pergi,
meskipun hatiku tetap ingin tinggal. kau tahu orion, kadang aku berpikir bahwa
apa ada sesuatu yang belum selesai di antara kita ?"
Hatiku berdesir; sesak
sekali. lidahku kelu tetapi memaksa bersuara.
“Sampai jumpa beberapa
tahun lagi ya” ucapku setenang yang aku bisa.
"Memangnya mau
ke mana ?"
“Meninggalkan kota”
Senyap
"Selain tidak pernah
ada "kita", hobimu juga lenyap seketika" ujarnya saja
tiba-tiba dengan suara sedikit parau.
“Maaf, sebab semakin aku
menyukaimu, hal itu semakin membuatku kesakitan dan terluka”
"Jaga selalu
kesehatanmu" pesanku padanya. ia tidak menanggapi. jelas ia tidak
hendak mengatakan sesuatu lagi. senyum dan tawa beberapa saat lalu hilang
sempurna. atmosfer kali ini lebih dingin dan asing.
Kami berdiri. aku berniat
menjabat tangannya. namun tidak segera disambut tidak juga ditepisnya. ia tidak
lagi menatapku.
“Jika suatu waktu kembali
bertemu, bisakah kita tetap bicara layaknya teman?”
Ia mengangguk tanpa sepatah
katapun lalu mengangkat gitar dan backpack-nya kemudian
bergegas pergi meninggalkan taman. punggungnya hilang diantara keramaian.
Setelah hari itu, satu hal
yang tetap aku sesali adalah masih tidak bisa menetapkan rasa macam apa ini.
jikapun cara ke- 1001 sudah habis. tidak adakah cara ke-1002? kutahu aku bukan
rumah, karena yang ia cari tidak pernah ada di sini.
“Orion, bukankah
cinta adalah keseimbangan? antara pikiran dan perasaan, hati dan logika,
emosional dan rasional. sebab rasa itu bukan sebuah pelampiasan. bukan
permainan pada kalah atau menang. tetapi juga bukan emosi yang terus
berkecamuk. yang membuat banyak perumpamaan layaknya tokoh dalam tulisan. bukan
idealism yang tertuang pada buku-buku pergerakan. bukan pula kalimat indah yang
banyak tertera pada kata bijak di luar sana. bukan romantisme dalam imajinasi
apalagi ilusi belaka. karena rasa itu tetap tinggal jika ada komitmen di
dalamnya. dari siapa? dari kita; dua orang menyedihkan yang
saling tersesat.”
Sebab pertemuan bisa saja membuatmu jatuh rasa, tetapi mempertahankan atau melepaskan adalah sebuah pilihan. bukan?

1 comments
Wah...😯
ReplyDelete