Pada indah biru; membentang lautan euphoria, menjemput kebebasan.
Berlari ke tepian
Tangis pecah, ombak menari
ke segala arah. kuserahkan pada hati, sudah pasti jawabnya berakhir luka,
sayang.
Aku berhenti dari keinginan memeluk bintang,
memilih menjadi ombak di lautan. berhenti dari keinginan membelai rembulan,
memilih di dasar samudera tenggelam. aku berhenti mengagumi tarian bunga padi
oleh tiupan angin, memilih mengubur semua ingin. berhenti menanti pelukan
malam, memilih lenyap di antara bayang-bayang kelam. aku berhenti menabur mimpi
pada hujan dan menggelar tikar di kering rerumputan.
Saat perasaan ingin meletup-letup, yang
harus dibayar adalah tiap capai tak pernah cukup. saat
perasaan ingin membara, yang didapat hanyalah amarah tiada reda. saat
perasaan ingin menggema, semua suara adalah gaung sengsara.
Namun,
Sejak perasaan ingin berhenti; sedikit sakit mulai pergi, tangis
mengundurkan diri, pedih memilih lari. sejak perasaan ingin berhenti; derita perlahan mati, ratap tidak segan mengasingkan diri.
Ingin terkutuk!
Ingin kusalahkan apapun yang merajut temu; tapi
pada akhirnya satu hal yang berarti adalah berani menerima.
Ingin kutelan semua pahit yang mengusik; tapi
pada akhirnya melepaskan adalah hal yang terbaik.
Lalu kuhapus perasaan
‘ingin’ hingga tubuhku kaku dan dingin
Kucari apa itu kebahagiaan. kuhapus segala
pundi-pundi harap. kulucuti seluruh rantai yang mengganduli kaki.
Kucari apa itu kekecewaan;
dari setiap senti patah dan retak yang semesta berikan. menuju
semunya keabadian.
Memintas waktu perlahan dan biarkan tertatih
sendirian. rasa mungkin akan padam seiring sapa tak lagi berkumandang. memberi
spasi agar lebih mudah tumbuh asing. raga untuk ditawan atau jiwa untuk
dipinang.
Chapter ini selesai,
seiring pilu tiada lagi berderai
Lekas pergi, jangan menunggu aba-aba lagi.
karena diri hanya korban atas puing-puing harap yang dibangun sendiri.
menguatkan ilusi dan delusi. mengikis keyakinan diri, lalu sesuka hati
melambungkan mimpi.
Menghitung kekurangan,
sebenarnya apa itu cukup ?
Memulai lagi dan lagi, tapi
apa itu keinginan hidup?
Dingin; selalu, kedinginan
Setiap pagi mendamba semburat kuning di ambang
lautan. lalu siang menanti birunya cakrawala dengan pasukan awan. terkesima
oleh warna indah senja di kala petang. di sisi lain waktu berganti jatuh hati
pada rintik hujan. lalu kadang-kadang mencintai malam dengan gemintang, bulan
dan keheningan.
Rasa sepi menikam, mengarungi serpihan pedih tak
berkesudahan.
Diam-diam hanyut, lalu
menyusut
Badai seakan mengamuk;
mengikuti ledakan kekecewaan yang berkecamuk
Mencari titik di sisa nyawa semalam.
kadang-kadang pesimistik melahirkan jalan lain yang disebut pelarian. mencari
lain ruang tak bertuan karena terlalu segan menerima sebuah ketidaksempurnaan. tetap saja; jangan kembali pada tempat yang tak ingin disebut pulang.
Dan satu-satunya hal yang
kudapati dibandingkan menggadaikan nilai hidup, adalah kesepian tanpa redup.
Kemasi lara, merangkak ke layar anyar ~
.jpg)
0 comments:
Post a Comment