“Raga
yang diberi kebugaran, jiwa yang diberi ketabahan. tumbuhlah sayang, dandelion
bermekaran di liarnya belukar”
untuk
juni, dan tubuh yang terlahir ke bumi ; selamat bersorai bahagia!
Bertambah usia, bertambah
dewasa, menua lalu berakhir sebatas nama. mari merayakan duka-cita pada cerita
yang sudah rampung, pada pencarian makna yang masih menggantung.
Tamat?
tentu belum
Rehat sebentar. lepaskan
letih sejenak. tidak semua harus berjalan sesuai rencana. tidak semuanya harus
selesai sekarang. di usia kemarin sadar bukan? proses lebih menyenangkan
dibanding akhir pencapaian?
Jauh
dan membiru. hari-hari kian memburuk jika terus menggerutu
Sementara berusaha mencari
sembuh tapi hati belum siap melepaskan luka. mencari ria tapi jiwa belum mau
kehilangan lara. mencari telinga tapi belum siap membagikan cerita. berusaha
menemukan bahagia tapi belum ingin mengucap selamat tinggal pada duka.
Banyak bingung, banyak
mengeluh, banyak tersedu, selalu banyak air mata menjelang tidur ~ berapa lama
sudah merangkai kepingan puzzle? menyisakan potongan perjalanan, memeluk
sepenggal klise bernama kenangan.
Tetapi
Juni tahu;
Sudah terlalu
banyak iya pada seharusnya yang tidak. sudah terlalu banyak paksa untuk rasa
yang seyogianya masih pekat.
Tetapi Juni juga tahu,
bahwa langit masih di sana. sama seperti kali pertama membuka mata;
Terima
kasih tak terbilang, pada semesta yang memberi kesempatan mengurai kehidupan
Kadang
aku terkejut dengan cara semesta mendewasakan
Dengan semakin banyak hal
yang hanya bisa dipahami ketika melepaskan bukan dengan mendapatkan. lewat
pedihnya sebuah perasaan ketika berada di titik terendah. merasa tidak
berharga, tidak berguna, diabaikan dan tidak diinginkan. kadang Semesta ingin bersua
dan berembuk tentang bagaimana aku dibentuk melalui sebuah proses bernama lara
dan derita. lewat pahitnya kehilangan beruntun dan kerinduan tanpa ampun.
Rumput hijau di halaman
menebarkan aroma kesejukan, embun pagi masih basah di pelataran.
Kepada Ibu;
“Terima kasih pada
seluruh dedikasi dan kasih sayangmu yang tak pernah padam”
Langit dan awan juga pernah
saling menghibur sebelum akhirnya saling mengubur.
Jadi,
Sudahi dulu patahnya.
setiap yang terluka akan terobati. setiap luruh akan bangkit kembali. jika
badai gemuruh itu masih ada, semua akan selesai suatu hari. ketika sudah letih
kembalilah ke rumah, peluklah semua rasa sakit dan kecewa. tumbuhlah lebih
dewasa.
Cahaya
berpendar, menerangi kalutnya nyawa di ambang sadar
Akhirnya,
Bukan
dari lamunku yang buyar ku-ucapkan
Terima kasih untuk segala
potret kebahagiaan. yang sekadar singgah atau memilih tinggal. yang sekadar
kenal atau memilih erat pertemanan. yang menjadi terasing atau bahkan spesial.
yang mengizinkan setiap tawa lepas atau tangis pecah. peluk di saat gelisah
atau waktu untuk berbenah.
Terima kasih pada jiwa-jiwa
yang merasa nyaman bertukar pikiran dan perasaan, yang mengajari luka juga
pendewasaan. untuk sekadar pertemuan bahkan perpisahan. kepada hatinya yang
pernah saling menyentuh dan membasuh. kepada perasaan tumbuh dan sayang dengan
seluruh.
Sungguh, terima kasih
banyak.
Kini,
Selamat datang di usia
baru, Nam.
Sudah terlalu keras pada
diri sendiri bukan? ngomong-ngomong, lebih perhatian ya ke dalam.
Dekap ~ Juni; Delapan.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment