Hari ini
seperti biasa, terjaga hingga pagi. tempat tidur sedang tidak terbakar atau
atap rumah terlingkap. hanya ada seberkas cahaya melesat cepat di lintasan
bawah sadar. seperti ekor komet di langit kelabu atau sepintas jejak
hikoukigumo di langit biru. setelah meminum segelas air putih, dan
menyumpal earphone ke telinga sembari memutar lagu milik Novo
Amor. aku berniat rebah sejenak, siang nanti pukul 11.00 ada agenda ke kampus.
menyelesaikan administrasi tahun ajaran baru. penambahan satu semester adalah
bentuk pelanggaran yang kubuat sejauh ini, dan karenanya mari selesaikan
segera.
Sebuah
pertanyaan klasik menggema “mau ngapain ya?"
Ah ya
sudah, mari berbicara dengan semesta. meluangkan waktu sendiri itu istimewa
kerena diselimuti keheningan seperti ini layaknya sedang bermeditasi.
Aku lupa
kapan terakhir kali bangun dan tersenyum di hadapan cermin. mungkin empat tahun
lalu, saat aku masih bisa mengapresiasi kerja keras dan patuh pada rentetan
tips psikologi menjadi lebih bahagia. kini, kupraktikan kembali. bukan bangun
tetapi belum tidur sama sekali.
Hei siapa
di hadapan cermin itu ? seperti asing. aku memeluk tubuhku yang selalu terjaga
sepanjang malam. wajah yang memerhati, sering memendam beragam emosi. yang
selalu sedia mendengarkan, tetapi jarang sekali mau membicarakan perasaan pada
orang-orang bahkan kepada ibu.
Akhir-akhir
ini kepalaku terasa penuh. overthinking, insecure, anxiety juga
benak yang terus mengeluarkan tanya dan merajut duga. pikiran yang dipenuhi
spekulasi.
Padahal dear;
hiruk-pikuk tiada akan habisnya. bukannya pulih, amarah tidak mau juga mereda.
mungkin satu-satunya cara hanyalah menyisihkan waktu mendengarkan suara dari
dalam hati. menerimanya, tanpa menghakimi. benar bahwa; kekacauan tengah
mendistraksi, benar bahwa stress tinggal terlalu lama. benar bahwa emosi
dan pikiranku kerap terbengkalai. benar bahwa aku sering mengingkari perasaan
milik sendiri. marah dipendam, kecewa diam, sedih diredam, kebencian berujung
dendam. aku lupa, keadaan seperti itu adalah cara paling mudah untuk menghukum
diri sendiri, memberi umpan untuk terus memelihara rasa bersalah.
Jadi dear;
mari pelan-pelan belajar memafkan.
Di
tengah chaos seperti ini bukankah penting untuk
menyetting boundaries kembali? mengiyakan selalu apa kata
orang, sedang di saat terpuruk selalu tersisihkan. tapi bukankah kita selalu
punya pilihan menutup mata dan telinga, mana yang mau dibiarkan lewat? kita
cenderung mengingat perlakuan orang lain kepada kita, tapi jarang menyadari
bagaimana kita memperlakukan mereka.
Saat kita
membuka mata, kita bisa melihat ada begitu banyak warna. lalu mulai
mempertanyakan warna alami milik kita. dua arah berbeda; menjadi semakin yakin
atau justru meragukannya. bagi yang tidak goyah sebagian menamainya prinsip,
bagi yang menyerap warna baru sebagian menamainya adaptif. karena hidup tentang
perspektif; obsesi itu membutakan, sejatinya tugas kita adalah menelaah
sentimen dari dalam diri sendiri. karena mencari penyebab keluar tidak akan ada
habisnya, akan selalu ada andil menyalahkan sekitar. kamu, dia atau mereka
seakan kita adalah yang paling benar, padahal setiap orang mempunyai nilai
dalam hidupnya.
Menyatukan
isi dua kepala yang berbeda saja membutuhkan pemahaman dan pengertian luar
biasa. kok menuntut 7.7 miliar manusia di muka bumi berpikiran dan berperasaan
sama? semoga kita terlatih mengurangi populasi mental menghakimi. membiasakan
diri bercermin dan introspeksi. membasuh hati dari iri dan dengki, juga menekan
maraknya pengingkaran kepada diri sendiri.
Aku masih
termenung. di dunia ini, sesekali bersikap egois boleh kan? tidak dulu terlibat
pada apapun atau siapapun. selalu ku katakan pada diri sendiri bahwa;
“Jalanilah
definisi hidup bermakna sesuai value yang dianut tanpa
mengutuk proporsi ideal milik orang lain”
Sampai di sini dulu ! selamat beristirahat ~
0 comments:
Post a Comment