Kepada Ibu

Buk,

Sepanjang hidupku, tentangmu.

Sewaktu kecil; kau mengajariku mengenal aksara. membagi dan mengali bilangan matematika. kau mengetahui bahwa buah markisa adalah kesukaanku. jadi, sebelum Bapak ke Manipi kau selalu memesaninya agar ketika pulang membawanya. saat hujan turun dan petir menggelegar, rumah kontrakan kita bocor di sana-sini. kau beberapa kali mendekornya. rumah Tongkonan milik Puang Ambo yang kita tempati itu, jika manusia menggambarkan semua kenyamanan sebagai (surga) maka dengan begitulah aku menyebutnya. kita tidak pernah membeli televisi, jadi kulewati pagar berduri ke rumah si kembar Emma-Emmi, membaca buku teks Bahasa Indonesia mereka, lalu menonton serial Jinny oh Jinny. kau tidak menyuruhku belajar setiap waktu atau menuntut agar memperoleh peringkat di kelas. kau juga tidak menuntutku menjadi seperti anak lain. yang kutahu setiap pagi kau telah ke pasar membeli sayur untuk kemudian dijual kembali.

Buk,

Masa kecilku tidak sering kekurangan mainan. karena setiap Bapak membeli stok, kau selalu menyisihkan untukku. kau memelukku saat tidur siang, membiarkanku bermain hingga petang. sesekali, kau bergabung dengan Puang Darma membuat kapurung. lalu, Jeruk Bali yang tumbuh di samping rumah Iwan adalah favorit kita. ketika aku tidak sengaja menjatuhkan Felix dari kereta dorongnya, kau membuatku berani menemui Bulik dan mengajariku meminta maaf kepada beliau atas insiden itu.

Buk,

Saat memasuki usia sekolah, kau memangkas pendek rambutku. masih kuingat ketika seragam terusan TK itu melekat pada tubuhku. kau hanya mengantar sebentar di hari pertama di Taman Kanak-Kanak. membiarkanku membaur dengan kawan baru. sangat jarang kudengar pujian darimu untukku. tapi hampir tidak pernah juga kau melayangkan perkataan kasar kepadaku. kau hanya mengatakan apa yang perlu, meletakkan barang sesuai pada tempat misalnya. kau tak sering membawakan bekal ke sekolah, masak sarapan pagi bukan kebiasaanmu. kau memburu waktu dan sedikit tertarik bagaimana hariku ketika kembali bertemu sepulang sekolah.

Buk,

Aku sangat senang jika teman-teman bapak berkumpul di rumah. kau akan sibuk menyiapkan kudapan sementara aku mendapat banyak uang saku dari mereka. kegemaranku membeli jajan di Toko Puang Janna atau donat di kantin Ta Lian. aku mengatakan ingin punya tali kuncir berwarna pink ketika kulihat kawanku mengenakannya. esoknya, kau menguncir rambutku ke sekolah sesuai dengan yang kuminta. kau rutin membelikan baju lebaran setahun sekali. jika kebetulan Puang Diana datang dari Makassar dan membawakan oleh-oleh, kau menyimpannya dan memberiku secara berkala. jika aku beruntung, kau mengajakku ke toko di pusat kota. namun memesaniku agar tidak meminta macam rupa. menyebrangi jembatan di atas kali membuatku takut dan terbayang bagaimana jika aku terjatuh ke bawah nantinya.

Buk,

Kau tahu; aku bahagia. saat Bapak memberikan sepeda dan aku menaikinya mengitari lapangan Mangarbombang. juga jalanan yang melewati kuburan dan menara tinggi di daerah perbukitan. kau mengizinkanku menghabiskan akhir pekan di rumah Feri dan menjemputku beberapa hari kemudian. saat usiaku tujuh, telingaku kemasukan air dan merasa gelisah sebab itu menyebabkan ketidaknyamanan pada pendengaranku. kau lalu menyarankan agar aku izin dulu dari sekolah. letak kecemburuan pertamaku adalah saat kau mengizinkan Bapak membeli alat musik keinginannya sedangkan aku menggerutu ingin punya sebuah televisi. saat kita berkunjung ke Manipi, hal paling kusuka adalah saat kita berjualan balon. di sana dingin dan banyak pegunungan. tempat itu mirip dengan tempatku KKN di Marabose. Semesta punya cara memberiku gambaran Manipi ketika merindukannya. pegunungan dan lapangan luas, lengkap dengan hawa dinginnya, perbedaannya di Manipi lebih dingin lagi.

Buk,

Kadang waktu dengan mudah membalik semuanya

Kehidupan kita tidak pernah mudah, aku sadar itu sepenuhnya. di usia remaja, ku saksikan sendiri kau tak sadarkan diri. kepalamu berdarah-darah akibat luapan emosi. tidak jarang wajahmu lebam dihantam pukulan. pertikaian dan bentakan ! ego yang akhirnya menang ! pada malam-malam hening dan panjang, aku menahan cemas seraya memejamkan mata. saat tidak sengaja melihatmu mengendap-endap ke belakang rumah. duduk meringkuk sambil tersedu pelan. telingkau pekak, hatiku retak, kakiku bergetar dan air mata tidak berhenti keluar pasca mendengar gebrakan meja dan lemparan barang-barang. kehidupan seperti ini mirip sebuah kesalahan. Bapak bukan lagi sosok yang melindungi dan mengayomi, ia seperti diktator yang menjajah rumah kami. namun, kau enggan mengeluarkan perkataan yang mengandung makian atau cacian kepadanya. bahkan ketika semua perlakuan kejam itu kau terima. kau justru mengatakan padaku bahwa begitulah wataknya. seakan kau mentolerir semua rasa sakit yang tidak pernah membuatku merasa aman. sungguh ketika aku berbicara buruk tentangnya, kau selalu mengatakan bahwa beliau telah bekerja keras menafkahi keluarga. memenuhi biaya sekolah, biaya pengobatan kakak habis-habisan dan tetap menjadi bapak, tidak peduli seberapa tidak sukanya aku.

Buk,

Hatimu seluas samudera, kasihmu sepanjang masa. suaramu sangat lembut dan kini menjadi wanita kuat dan mandiri. kau melawan semua rasa sakit yang tercabik-cabik itu sendirian, bangkit dari keterpurukan. waktuku akan dimulai tahun depan bukan ? sejak masuk di bangku menengah atas dan kuliah kau kerap menceritakan tentangku kepada teman sejawatmu. tentang prestasi dan karakterku. Buk, aku sangat marah ketika kau menonjolkan hal itu di depan kawanmu juga kawan-kawanku. aku pikir untuk apa kau memberitahu mereka semua itu. beberapa waktu lalu baru aku sadar, bahwa hal itu sangat membanggakanmu. aku tidak tahu di mana persisnya, kau bangga dengan kerja kerasmu yang tidak sia-sia menyekolahkanku. kau ingin kawanmu tahu bahwa ada pelita dalam harapanmu. itu aku bukan ? namun aku tidak pernah merasa sebangga itu bahkan kepada diriku sendiri. Buk, aku hanya menjalani apa yang ada dan menuntaskannya sampai akhir.

Buk,

Kau sungguh tangguh dan pekerja keras. kau tidak menuntutku menjadi apa ketika dewasa namun akhir-akhir ini kau jadi sering menanyakannya. aku jadi malu dan merasa perlu bertanggung jawab. sembilan tahun terakhir ini, kau berjuang sendiri. nyaris tidak sadarkan diri ketika mendengar kabar ayahmu pergi, lalu kembali terisak saat ibumu juga pergi. wajahmu yang berseri, tahun-tahun terakhir memasuki usia paruh baya. pilu rasanya melihat cahaya matamu redup lebih cepat sembari membanting tulang sendirian.

Dan dewasa ini,

Kulihat wajahmu semakin menua. masa mudamu sudah terlewati. tidak peduli betapapun sakitnya, kau bertahan dengan kerja keras dan perasaan melepas. kau dedikasikan hidup untuk DNA yang kau wariskan ke muka bumi ini. terima kasih atas segalanya. sesak sekali menulis ini, rasanya malu bila sampai kau melihatku menangis. terima kasih menjaga dan merawatku sebesar ini, kau memberiku kebebasan. terima kasih karena telah mempercayai apa yang kupilih, aku harap bisa menjagamu menjelang senja, membuatmu merasa aman sebagaimana yang kau lakukan di masa kecilku dulu. kau satu-satunya alasanku bertahan, dari ranah terbuang. 

Buk,

Ku pinta pada Semesta agar selalu menjaga kesehatanmu. meski pinta yang sama selalu kau haturkan di tiap sembah pengampunanmu. Buk, suatu saat akan datang masanya, di mana tubuh dan belulang membaur dengan tanah pekuburan. lalu jika ada kehidupan berikutnya, izinkanlah aku menjadi ibumu. ya ?

Buk, Peluk Cium Untukmu

Dari Putrimu, Desember 2021

0 comments:

Post a Comment

My Instagram