Amor Fati

Saya suka pantai. dan garisnya, dan pasirnya, dan airnya. juga gugusan awan berwarna jingga merona. mendengar debur ombak menggulung pelan sembari menghirup angin sore. kaki telanjang yang mencoba berbaur dengan pasir putih seolah menyusuri setiap senti dari kehidupan. menatap siluet redup dari langit barat pada detik-detik matahari pulang ke peraduan menjadi bagian favorit saya menikmati pantai.

Tetapi sejujurnya, saya lebih suka pegunungan. berlatarkan langit berwarna biru, atau abu-abu juga tidak apa-apa. lalu semilir angin meniupkan daun pepohonan yang rimbun. tanahnya ditumbuhi rumput hijau segar dan tidak ada siapapun di sana. menenangkan sekali ya?

Tetapi sekarang saya di sini, di tempat bernama pantai. jadi, bukankah seharusnya saya membawa diri saya sepenuhnya di sini? bukan hanya raga tetapi hati dan pikiran juga. pikiran yang sering mengawang jauh membuat kita tidak bahagia bukan? seperti kehilangan nikmat syukur yang disuguhkan oleh alam saat ini.

Bukan hanya cerita tentang pantai atau gunung. bahkan dalam kehidupan sehari-hari, saya seringkali egois membenamkan diri perihal ekspektasi manusia dengan segala kerumitannya. menciptakan delusional yang menyiksa untuk kemudian sengaja bergabung dengan wahana penderitaan dengan menggadaikan banyak sebuah andai.

Seperti ketika saya berharap bertemu dengan rasa yang menyembuhkan namun justru melukai. rasa yang ingin mendewasakan namun justru memperbudak. rasa yang seharusnya merangkul namun justru menelantarkan. dan rasa yang menumbuhkan namun justru menumpulkan.

Seperti ketika menginginkan agar bertemu rasa yang mendamaikan namun justru memporak-porandakan. rasa yang stabil dan loyal namun justru hanya seperangkat permainan menyesatkan. rasa yang hadir untuk saling melengkapi namun justru mengganti. rasa yang menyempurnakan sebuah ketidaksempuranaan namun justru hanya perlakuan yang membinasakan.

Dan setelah dicabik oleh realita, saya sadar butuh sembuh. banyak sembuh dari pilu yang membiru.

Tetapi sembuh bukan linear. dia adalah proses berliku yang harus saya hadapi sendiri. merangkul erat luka itu untuk saya basuh bukan menyayat atau menggoresnya kembali. bukan pula mendiamkannya sampai kering sendiri. sesungguhnya, saya punya tanggung jawab untuk sembuh. sebelum menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. bukan mencari kesembuhan padanya, menggantungkan kepedulian dari luar diri saya. setelah peristiwa yang tidak berjalan dengan baik sudah selesai, maka saya memutuskan untuk menerima apa adanya yang sudah terjadi.

Lalu bagaimana? bukankah itu sangat merepotkan?

Ternyata tidak juga.

Kuncinya adalah amor fati, mencintai takdir. 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram