Saudade

Saat aku menoleh ke belakang, ada begitu banyak siluet wajah bertebaran.

Berapa rasa yang ku temui ?

Karena rasanya baru kemarin.

Rasanya baru kemarin ibu memakaikan seragam taman kanak-kanak. merapikan kancingnya dan beberapa hari seterusnya menjadi tugasku merapikannya sendiri. rasanya baru kemarin belajar mengeja aksara. menggores krayon pada sketsa yang menyerupai pantai, pepohonan, wajah, hutan atau apapun itu dan ibu memperhatikannya. rasanya baru kemarin mencicipi hidangan yang disajikan almarhum nenek dan bercanda bersama kakek di bawah  langit berbintang.

Rasanya baru kemarin menyaksikan bapak tertawa lepas dengan kawan-kawannya. lama mendiamkanku karena tidak mau menuruti nasihatnya. rasanya baru kemarin seorang anak yang lebih muda dan kecil dariku mengajari cara naik sepeda kali pertama. rasanya baru kemarin seragam merah putih melekat di badanku. berlarian di lapangan sekolah sembari menatap langit biru. rasanya baru kemarin aku memeluk hangat saudariku. mendengarnya bercerita tentang dongeng atau legenda apapun. tentang impiannya, juga surat dari kekasih hatinya semasa sekolah menengah atas.

Kapan terakhir kali aku bertemu dengan sahabat kecilku?

Di usiaku yang ke tiga belas. di tahun pertama di bangku menengah pertama. ingatan tentangnya menari di pikiranku. baju putih yang sering terkena noda merah mimisan itu. ia disebut bandel dan nakal oleh ibunya. raut wajah sumringah dan berseri di bangku sekolah dasar. kami bergandengan tangan. ia menemaniku setiap waktu. semangatnya ketika jam olahraga dan antusiasku ketika melihat buku. perasaan bahagia itu pernah ku genggam dengan sangat erat di lubuk paling kelabu.

Karena rasanya baru kemarin aku menyadari sesuatu. sungguh lama perasaan rindu ingin berbincang dengannya seperti kala dahulu. ia mungkin bandel tetapi begitu pengayom dan penyayang. karena rasanya baru kemarin aku menginap bersama di rumahnya di hari minggu. menyaksikan serial Power Rangers, bermain tamiya, bersepeda bersama mengitari jalan raya. rasanya baru kemarin ia ku temui kali terakhir. saat duduk di bangku menengah pertama. perpisahan empat tahun mengubah semuanya. dia semakin tinggi dan dingin. masing-masing banyak diam dan membisu ketika bertemu. tidak lagi ada canda dan tawa. benarkah bertumbuh menjadi remaja membuat saling asing ? jika benar, maka aku tidak keberatan melepaskan hari itu.

Rasanya baru kemarin aku mengenakan seragam  putih abu-abu. tidak lagi ada bapak di sebelahku, hanya ibu. tetapi ibu masih sering mengepang rambut panjangku. menyisir halus tiap helainya. rasanya baru kemarin aku rajin mengoleksi buku. menghabiskan uang jajanku untuk membeli komik dan novel kesukaanku. rasanya baru kemarin aku memotong pendek rambutku dan tidak akan memanjangkannya lagi. perasaan diperbolehkan memutuskan untuk tetap membuatnya pendek adalah bentuk kebebasan yang diberikan ibu. dan itu membuatku bersemangat dan terlahir kembali. aku mencintai rambut pendekku, mirip ketika masa kecilku dahulu. ibu selalu memangkasnya sebahu. 

Rasanya baru kemarin kubiarkan rencanaku berantakan. tidak mendapati ingin. gusar setiap malam. rasanya baru kemarin hobiku mengubur kesedihan yang menyelimuti pagi. dan rasanya baru kemarin mendengar pengumuman kelulusan sekolah. lalu berita kematian kakek dan nenek. lalu suara bapak yang jauh. lalu satu persatu perasaan itu meninggalkan kekosongan.

Seperti terbangun dari mimpi di tidur yang panjang. aku tersadar, tidak cukup baik memberikan perhatian pada yang sudah-sudah.

Sekarang ?

Semua yang terlewat adalah masa lalu. dan merindukannya bukan berarti menginginkan semuanya kembali. bahkan jika rasanya baru kemarin aku mendengar pertikaian bapak dan ibu, rasanya baru kemarin aku belajar mengontrol emosiku. rasanya baru kemarin meringis di antara pisah dan temu. tetapi semua tetaplah sudah berlalu.

Dan rasanya itu... seperti kata Pak Sapardi  

"Yang fana adalah waktu; kita abadi"

0 comments:

Post a Comment

My Instagram