Begini, aku memanggilmu Rapsodi.
Semoga kau tidak keberatan dengan nama barumu.
Aku dulu gemar menulis tentangmu dari potongan kejadian
setiap hari. mengamati tingkah lucumu itu sembari merekam suaramu hati-hati. sekali lagi, semoga kau tidak keberatan dengan hal itu, Rapsodi.
Kini, di hadapanku tersaji secangkir teh tanpa gula. lama ku-biarkan kemudian menjadi dingin. pikirku, toh akhirnya duduk rentang hanya
sebentar.
Tetapi sialnya, Rapsodi
Aku seperti menunggu larut. padahal jelas bukan? tak ada setetes
madu atau sesendok gula pasir di sana? sialnya ! aku seperti terbius oleh
cangkir teh yang mempesona. karena membiarkan isinya yang tawar sempurna
menjadi biasa.
Lalu, aku memanggilmu Rapsodi
Sayangnya, kau tak suka tawa. kau gemar bersedih. anggapan bahwa kau bahagia ternyata salah. kau lebih mencintai tragedi.
Lalu aku memanggilmu Rapsodi ! dan kau menampar habis siapapun yang menyatakan kau terlalu indah dengan kerapuhan sebagai jati diri.
Lalu aku memanggilmu sekali lagi, Rapsodi. tidak menoleh dan masih takzim bertemankan sunyi.
Wajar saja kau lenyap, Rapsodi.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment