Kelana

Perpisahan menjadi hal biasa; karena kelana adalah persinggahan yang suka merayakan satu persatu kehilangan. terikat seperti omong kosong yang menghabiskan waktu belaka. aku sering memasang telingaku mendengar suara yang larut pada pukul tiga, yang paling sering adalah;

Ke mana tujuanku berikutnya?

Kemudian suara itu seperti hilang ditelan bumi. lalu aku terbangun dengan perasaan ganjil. mencari genap dari pikiranku yang tidak tenang. aku tahu, bahwa ketika petang tiba; saat lelah memangku amarah. tubuhku banyak diam dan mataku bertugas lebih sering. aku menangis, dengan tiris air mata seperti rinai hujan. sungguh hujan, disertai kerinduan.

Dan aku menyisakan sebaris pertanyaan yang ku-ulang dalam senyap. saat kekosongan menjalari mataku, kesadaran yang separuh itu membentuk ketegasan dengan judul yang sama apik. 

Ingin berkelana kembali. bukan pada sekadar teduh yang terselubung. tapi itu yang kuingini. paling tidak beri aku persinggahan yang bakal menentramkan pikiran dan hati. 

0 comments:

Post a Comment

My Instagram