Renjana Pilu

Kau datang. dengan perasaan gelisah dan bimbang. tanyaku “kenapa kau selalu datang dengan irama pilu ?

Rasa sedih itu menulariku. pada hitam bola matamu; kau sembunyikan sepi minta ditemani. kau menolak untuk saling memandang. jadi, aku pun hanya menatapmu diam-diam. dari tubuhku yang mungkin akan membusuk; kau datang lagi. menyerupai siluet kuning, membuka jendela kamarku dan mengucapkan selamat pagi.

Pada cerobong kecil di balik kokohnya kayu menyangga. aku menyebut dosa. mencuri tatapanmu yang sendu itu dari guratan halus di sekitarnya. tidak berani menatapmu lebih dalam. karena dalam artinya sepakat untuk lebih lama tinggal dan aku belum memutuskan.

Aku takut menemuimu. menelan kenyataan pahit bahwa kau menyita perhatianku. tawamu mengusikku dan itu seperti menikam jantungku. jadi ku-kirimkan kata, mewakili sesak dada. tapi tawamu tetap saja mengganggu. tawa itu seperti langit berwarna biru tua. lembut, tidak terburu, dan seharusnya merdu.

Kau pilu yang selalu datang mengusikku. ceritamu itu renjana yang siap mengoyak kewarasanku. ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram