Marabose,
Juli & Agustus 2019
Senang
sekali melihatnya mengenakan kemeja armi dan jeans hitam. dengan bersandal
jepit, ia benar apa adanya. tidak mengada-ada. sangat sopan terhadap wanita,
dan mempunyai senyum yang manis. tatapannya mengindikasikan ingin bercakap
lebih banyak, namun sesuatu menahannya, seperti rasa malu. di balik itu ia
benar-benar anak yang baik. awalnya, aku merasa biasa saja, tidak terlalu
memperhatikannya, tidak merasa tertarik dan lewat sekadar permisi saja. entah
sejak kapan persisnya. kira-kira usai malam rapat bersama kepala dan warga desa
membahas program kerja aku meminta agar dikirim foto-foto dari sosialisasi
mitigasi bencana. ia memberikan ponselnya, memintaku menambahkan kontakku
sendiri dan mengirimnya via whatsapp.
Jika
bekerja, ia terlihat menekuninya. ia bisa saja giat bila ada yang melihat,
namun ia selalu serius meski sendiri. ia tidak lupa bersenang-senang. jika
temannya bergurau maka ia pun tertawa. ia selalu mengangkat panggilan telepon
jauh dari keramaian, aku tidak tahu entah itu dari keluarga atau karibnya. ia
terlihat dewasa dan kekanakan sesekali. kemarin ia mulai terlihat mengatakan
sepatah dua kata padaku ketika tengah makan cilok seperti “Nami yang bayar ya?”
hehe lucu sekali. sebab pada saat kutanyakan kedua kali ia hanya membalasnya
dengan senyum tertahan. senyum yang tulus dan tersipu. ketika
teman-teman belajar menari lalayon, ia terlihat ingin ikut berpartisipasi di
belakang. kulihat kakinya sudah berjinjit dan ingin mengikuti irama. tetapi
melihatku duduk bersila tepat di bawahnya ia menggeser tubuhnya ke kiri,
menjauh dari formasi.
Aku
melihatnya pertama kali di kapal samar-samar. tengah malam, saat aku dan dua
kawan lain duduk melantai dan bersandar di deck kapal sembari menikmati angin
malam. ia membawa ponsel, mengenakan jaket army dan tas selempang kecil di
depan. seorang kawan menunjuknya. ketika ia berjarak kira-kira satu meter dari
tempatku duduk. memberitahu bahwa kita satu tim nantinya di desa KKN. kawanku
mengatakan bahwa dia adalah Korlap sebelum wilayah KKN mereka dirombak karena
bencana gempa. sehingga ia juga kini resmi menjadi anggota di lokasi, bagian
dari kami. setelah kapal bersandar, kami berkumpul pada satu titik lengkap
dengan semua anggota.
Momen hari
ke-1 di kebun dalam rangka pengambilan bambu. kami melintasi sungai “Raa” jika
tidak salah namanya. ia bekerja keras, menarik bamboo yang sudah dipotong agar
keluar dari batas hutan. itu bukan pekerjaan mudah, mengingat siapa saja bisa
tertusuk bila tidak berhati-hati. hari ke-2 di kebun, tanpa jemputan truk. kami
pulang berjalan, tapi rasanya menyenangkan. tidak peduli sebanyak apa panas
matahari menyengat. beriringan dengan tawa menjadikan langkah kami menjadi
ringan. ketika sampai di basecamp, ia merebahkan tubuhnya di samping pintu
masuk sembari membuka ponsel. ia tidak banyak bicara, mungkin lelah.
Hari ke-3
di kebun, pada saat makan siang pisang rebus dan ikan bakar. ketika ia meminta
tolong siapa saja untuk mengambil foto kebersamaan. namun semua kadung sibuk dengan
pisang dan ikan, aku menyaksikannya dan kebetulan tanganku belum menyentuh
makanan. jadi ku tawarkan bantuan mengambil gambar kebersamaan dan ia
memberikan ponselnya. diucapkannya terima kasih setelahnya.
Gurat
kehidupan terukir apik pada raut wajahnya. pada awal-awal pertemuan ia terlihat
sangat cuek dan sedikit jaim. ia penikmat kopi dan perokok aktif. ia suka
menggores pena di atas kertas. ia tipe orang melankolis dan cenderung idealis. suka dan sangat peduli pada anak-anak. sepertinya, ia suka membaca, sama
sepertiku. ia lebih sering berada di belakang layar, dan jarang tampil ke
depan. ia tertib, tetapi memastikan semua dalam keadaan baik. ia bekerja dengan
tangan sejalan dengan ucapan. hidungnya tentu saja mancung, rambutnya ikal
berwarna hitam. kumis? sepertinya hanya rambut halus yang tumbuh di sekitar
atas bibirnya. telinganya agak lebar dan jemari tangannya manis dengan balutan
kuku panjang di area jempol. bola matanya hitam. di sekitaran matanya agak
gelap, entah insomnia atau mungkin keseringan begadang. alisnya tidak begitu
tebal. giginya tertata rapi, jika tersenyum manis sekali. bibir bagian dalamnya
terlihat lebih merona. jika ia sedikit mengangkat kaos pendeknya kira-kira
selengan maka warna kulit yang kontras akan terlihat, mungkin terlalu banyak
tersengat matahari. tatapan matanya redup. suaranya lembut dan tawanya nyaris
tanpa suara. dari apa yang disimak pada saat perkenalan dengan pemuda desa,
ayah-ibunya berasal halmahera-bugis. saat kutanya dari mana bugisnya,
dijawabnya Bone. ah, dekat dengan Sinjai, tempat di mana aku menghabiskan masa
kecilku dahulu.
Beberapa
kenangan tentang bambu adalah saat ia dan aku secara tidak sengaja bersamaan
mengecat untuk keperluan tiang bendera. ia mengulas cat berwarna putih dan aku
menyelesaikan yang berwarna merah. saat aku membersihkan bambu untuk pagar, ia
meminta parang kepadaku dan kukatakan “tidak mau” berulang kali. aku hanya
ingin berkontribusi walau tidak banyak. hingga ia berhasil mendapat parang yang
lain. ia tidak memaksa dan hanya menanggapi kalimatku dengan tersenyum. ia terlihat begitu antusias melunasi pekerjaan. momen semalam saat aku
memanggil namanya agar sedikit minggir sebab aku hendak naik ke panggung. ia
dengan cepat menyingkir. mempersilakanku lewat dengan sopan. aku melihatnya
marah saat rapat bersama manager bola. ketika salah seorang pemuda mabuk dan
naik ke panggung, kawan-kawan panik. dua kawanku berteriak tetapi aku lekas
menyingkir dan menutup mulut. ia marah, menyuruh kami diam, entah sadar atau
tidak ia mengeluarkan kata “f*cking”. tangannya meremas papan panggung, mungkin
menahan amarah agar tidak menyakiti siapapun.
Aku
teringat ketika kami datang sosialisasi mitigasi bencana, ia datang terlambat. mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan tas hitam digantung pada bahu kanan
atau kirinya. lengkap dengan almamater dan berkalung ID Card tetapi tanpa
identitas dan foto keterangan. ia berjalan menuju ruang kelas dengan tergesa. mengambil perannya sebagai penanggung jawab pemateri sosialisasi di SD, sebab
SMP sudah selesai. saat kami mendekor panggung persiapan realisasi program
kerja, ia tidak datang. dari yang kudengar, telapak
tangannya penuh dengan luka, kerja pagar tadi siang.
Hari ini
upacara pembukaan pertandingan sepakbola. panggung kami belum jadi sepenuhnya. dari segi estetika masih ala kadarnya. mungkin karena jeda
waktu yang terlalu singkat atau ritme kerja kami yang lambat. ia
masih belum terlihat saat lagu Indonesia raya dikumandangkan. hingga akhirnya
menjelang penutupan acara, sosoknya muncul dari kejauhan mengenakan almamater
kuning. setelah rangkaian susunan acara selesai, kami para anggota kubermas
mengambil gambar bersama. sayangnya, ia tidak masuk dalam frame sebab ia yang
memotret. lalu, saat aku dan dua kawan lain saling memotret ia terlihat ingin
mengambil foto bersama, namun entah apa alasannya tidak jadi. ditawarkannya
mengambil gambar kami, setelah kami bergaya ia terlihat tertawa sendiri. ah
ternyata ia merekam, bukan memotret. hahaha, tahu juga mencairkan suasana ternyata.
Sore ini ia
bertandang ke rumah bersama dua kawan lain. sebelumnya, aku melihatnya di
kios tepi jalan besar sembari makan kue pia. saat itu habis turun
hujan, di beberapa kubangan jalan, air menggenang. warnanya keruh pertanda
sudah terkontaminasi dengan zat lainnya. aroma tanah mencuat, terhirup cepat
melalui pernapasan. tidak ada senja sore ini, namun kedamaian khas pedesaan
tetap terasa. ketika tidak sengaja aku dan kawanku berjalan dari kios berbeda
di seberang jalan lainnya, ia bersumbar kepada kawanku minta dibuatkan cokelat
panas. namun kawanku menjawab sudah habis. cuaca sangat dingin dan angin
berhembus. masih masuk kategori santai tetapi cukup kuat menusuk seluruh rongga
badan. mungkin memang benar, ditemani secangkir cokelat panas adalah ide yang
bagus.
Tak
beberapa lama mereka datang dengan membeli sesuatu di warung mama asuh kami. sebab
mama sudah menawarkan kue bilolo, masuklah mereka bertiga ke rumah. memakan
sepiring kue dan masing-masing secangkir teh hangat, pengganti cokelat panas. kemudian disusul nasi goreng buatan kawanku. ia terlihat banyak tertawa. ia
mulai menanyakan beberapa hal padaku seperti “kamu dari fakultas apa?” ternyata
kami berasal dari fakultas yang sama. ia seniorku, angkatan 2014. ia mengaku
yang telah mengospek kami. dengan nada heran mengatakan bahwa tidak pernah
melihatku. lalu, ia menanyakan aku prodi dan kelas apa, agaknya ia mengenal
salah seorang kawanku sebab ia menyebut namanya ketika aku menjawab
pertanyaannya. lalu ia menanyakan di mana tempat tinggalku… duh, seperti
interview kerja saja, aku kesal selalu ditanya. sedang kawan yang lain terus
mengeluarkan lelucon garing yang membuat dirinya sendiri terbahak. sungguh
menurutku tidak lucu kecuali terus mendengar tawanya saja yang membahana.
Ia
menanyakan akun wattpad ku. kujawab sudah hapus akun dan uninstal aplikasi; sama seperti facebook, line, twitter, dll. hanya aktif di whatsapp dan instagram.
lalu aku berganti membuka pertanyaan seperti “kak .... suka membaca? suka
menulis? kenapa suka anak kecil?” pertanyaan terakhir kulontarkan karena ia
menggendong adik asuh kami. mendudukkannya di atas meja tepat di hadapannya. terlihat sekali jiwa penyayangnya. ia tidak memukul kucing yang terus naik di
atas meja. hanya menyingkirkan kue agar tidak diinjak kakinya. ia juga mengatakan
bahwa di rumah ia memelihara iguana ketika aku mengatakan kucing di rumah mama
asuh kami bernama Evy dan satunya lagi kunamai Tommy. ada banyak tawa yang
sebetulnya juga tidak kumengerti maksudnya, hanya berusaha mencairkan atmosfer
yang tidak biasa itu. sebab kawanku di dapur, mau tidak mau harus kutemani
mereka bertiga. sekadar berbincang. setelah adzan magrib, mereka bertiga
akhirnya pamit.
Sepulang
dari rumah kami, malam harinya kami rapat di rumah mama asuh salah seorang
kawanku. ia sudah tiba di sana terlebih dahulu. ia dan kawan lain saling
memijat bahu secara bergantian. lucu sekali menyaksikan pemandangan ini. ia
terlihat membuat secangkir kopi dan berniat meminumnya di luar tapi balik lagi
ke dalam. mungkin terlalu dingin di luar sana. saat kawannya mencicipi kopi
buatannya, mereka mengatakan “ini pahit amat”. astaga ! ini juga kejenakaan yang
sederhana. salah seorang kawan mulai bertanya ini-itu padaku. aku malas
menanggapi tetapi baiklah mari bagikan yang baiknya saja. aku diwawancarai seputar
sejarah hidupku, aku yakin ia mendengarkan. meskipun raut wajahnya
mengindikasikan tidak berminat. namun ia selalu tersenyum kala humor garing
dilontarkan kawan lain kepadaku. ia terlihat menutupinya.
Bagaimana
jika besok kutanya ia bawa buku apa? dan meminjamnya untuk beberapa hari saja.
lagipula di sini tidak ada bacaan apa-apa kecuali buku bahasa indonesia milik
adik asuhku. tapi apakah ia akan meminjamkannya ? bolehkah aku mencoretinya
dengan highlighter ? apakah ia tidak keberatan ? atau malah akan mengamuk
karena kesembronoan ini ? ah aku ini kenapa ? jelas akan keberatanlah,
memangnya buku itu milik kamu Nam ?
Siang ini, kami datang ke lapangan. melaksanakan tugas dan kewajiban kami sebagai panitia penyelenggara pertandingan sepakbola. ia dan kawan lain sudah tiba di sana terlebih dahulu mengenakan kaos hitam dan celana light blue selutut. ia terlihat duduk di kursi plastik sembari mencoba menyambungkan ponselnya ke USB tape. memutar musik dari playlist-nya melalui soundsystem yang ada. lagu milik Tule berjudul Fearless dan SIA – Unstoppable ada di daftar lagu yang diputarnya. aku ingin menyapanya, berbasa-basi bahwa itu lagu mereka kan ? tapi tidak ada gunanya bersikap sok tahu. itu menjadikanku salah tingkah, salah gerak, dan salah dalam hal apapun. jadi kuperhatikan saja ia dari jarak dekat. sembari menikmati alunan musik yang tengah bersenandung itu.
Saat
pertandingan di mulai, ia pindah ke pinggir lapangan. mengangkat kursinya ke
sana. ketika ada rombongan ibu-ibu datang ia lekas menyingkir, mempersilakan
yang lain duduk. lalu ia berjalan ke tepi lapangan sembari membawa sebatang
rokok. tadi, ia menendang bola dan tidak sengaja mengenai kepala
salah seorang pemuda. kemudian tertawa diam-diam seolah tidak terjadi apa-apa. aku menyaksikannya dan ikut tertawa tetapi sengaja menoleh ke arah lain agar
tidak ketahuan. ia pulang duluan, kukira bisa kembali melihatnya sebelum
matahari terbenam namun tidak.
Hari ini
jumat bersih. ia mengenakan kaos hitam dan terlebih dahulu sampai di masjid
bersama kawan kubermas yang lain. aku datang terlambat. ia terlihat mencabut
rumput atau menyingkirkan batu kerikil. entahlah, aku tidak melihat persisnya.
ketika kami pulang dan rehat sejenak di beranda rumah, ia terlihat berjalan ke
arah kios mama kami membeli ovaltine dan susu dancow. ditanyakannya apakah ada
biskuat atau tidak. ia mungkin kurang darah, yang kudengar dari teman sekamarku
bahwa untuk menambah darah campurkan kedua bubuk itu. entah sudah teruji benar
atau tidak secara klinis. wajahnya terlihat cukup pucat, apa ia sakit ?
Siang ini
tim kami akan bertanding. Bencana FC ; yalord siapa yang menamai tim kami
seperti ini ? ia mengenakan setelan kaos tim sepakbola. posisinya sebagai
pemain cadangan. nomor punggung sebelas dengan manset hitam membalut siku
hingga ke tangan. setelah pertandingan usai, lucunya ia tak tahu bahwa dialah
yang mencetak gol ke gawang lawan. duh, ada-ada saja kelakuan human satu ini. apa ia tidak sadar tadi yang ditendangnya bola apa batu ? ingin rasanya menabok
tapi tetap saja bikin ngakak.
Malam ini
kami rapat evaluasi kinerja. entah apa yang merasuki pikiranku; tiba-tiba saja
mengajukan diri menjadi moderator. ia berpartisipasi, mengungkapkan pendapat
dan masukan dengan sopan. di akhir pertemuan, saat aku hendak menutup rapat tanpa
sadar memelankan suaraku. ia mengangguk ke arahku dan mengangkat kedua tangan
sebagai isyarat memberi semangat. seperti tahu bahwa aku tengah ragu dan tidak
percaya diri. ia mendorongku agar menyuarakan posisiku hingga akhir. ia
terlihat begitu tenang dan suportif.
Beberapa
hari lagi lebaran. saat itu aku tengah mengepel lantai. kulihat ia lewat di
depan rumah dengan kaos dark blue pendek dan tas selempang yang biasa
dibawanya. berjalan ke arah……. (entahlah aku tidak tahu persis mana utara,
selatan, timur, atau barat) mungkin ia akan bergabung dengan kawan lain di
jalan dekat kantor desa menyelesaikan pemakuan lata (?) untuk pagar desa
nantinya.
Hari ini
lebaran. rombongan teman-teman datang ke rumah. ia mengenakan baju
koko berwarna putih selutut dan kopiah hitam di kepala serta sandal
jepit yeye paduan biru-putih. saat teman-teman menjabat tangan, ia menghampiri
adik asuh kami dan langsung keluar mengikuti kawan lain ketika selesai. kami
tidak sempat bersalaman, sebab ia terlihat ingin menghindar. aku berpikir, apa
aku terlalu aneh untuk sekadar bersalaman saja dengannya ? jika tidak ada yang
benar-benar perlu dimaafkan, bahkan keberatan jika itu bagian dari formalitas ?
selang beberapa jam setelahnya, mereka kembali dari bersilaturahmi dari rumah warga. mengambil gambar bersama di depan warung mama asuh kami. ia menyelipkan rokok
di bibirnya. aku merasa tergelitik, tidak tahu hanya merasa lucu saja. namun
sekretaris mengatakan simpan dulu rokoknya. ia kemudian menaruhnya di saku,
mustahil langsung melemparkannya ke selokan.
Kemarin
siang; ia dan kawan-kawan kubermas makan di rumah mama asuh kami. soto yang aku
buat habis. padahal aku sangat pesimis pada rasanya yang amburadul. saat aku ke
belakang, ia terlihat berbaring di samping pintu sambil bermain ponsel. saat
pulang, ia mengatakan kurang lebih seperti ini “mari kita ke air zam-zam”
hehehe itu mungkin diucapkan karena kami para anggota kubermas yang perempuan
ngambek ingin ke pantai, seperti yang dijanjikan sebelumnya namun tidak ada
realisasi.
Hari ini ia tidak balik ke lapangan. teman serumahnya mengatakan bahwa ia sakit kepala,
sakit gigi dan sakit leher. korlap menambahkan bahwa ia sakit sehabis terjatuh
saat bermain sepak bola waktu itu. aku ingin menjenguknya, tetapi bagaimana?
bukankah akan sangat memalukan ke sana sendiri ? ah semoga ia lekas sehat. tapi
malam ini dia datang. anjir! dia ngupil dengan pede di depan umum. dari yang
kutebak kaosnya bergambar wajah “Pram” dengan imbuhan kalimat yang tidak bisa
kubaca jelas dalam satu tarikan nafas. duduk bersandar di tembok tepat di pintu
kamar tengah basecamp kami. dengan rokok, ia duduk bersila menggagas ide tema
malam pembukaan acara HUT RI.
Sore ini ia
hadir di pertandingan sepak bola. mengenakan kaos hitam bertuliskan “Deus”
dengan topi kubermas. tadi ada kejadian lucu. saat kami para panitia yang
terdiri dari perempuan tertawa ketika hampir ada perkelahian antar kubu. ia
kembali mengisyaratkan untuk diam dengan menyuarakan kata “Ssyuuuyut” sembari
menaruh jari telunjuk di bibir kemudian menggelengkan kepala seakan berkata
“jangan”. aduh, sungguh sangat lucu. seperti biasa, ketika pulang dari
lapangan; aku dan kawan singgah makan pentolan. ia sudah ada di sana.
memakan beberapa tusuk dan ah jika tidak salah dia menggulung bendera lesmen
yang kubawa tadi. rasanya menyenangkan, bisa melihatnya sore ini. langit
memerah, dengan bercak cahaya jingga, meremang menutup hari.
Siang ini
kami mempunyai skedul mendekor panggung. tadi tidak sengaja bertemu dengannya
di rumah salah seorang warga. aku dan beberapa kawan mengecek bunga untuk
ditaruh di panggung nantinya. ia kebetulan datang berboncengan dengan kawan
lain. menanyakan keperluan kaos tim sepakbola. setelah kembali dari membeli
keperluan di kota, aku hendak memasang bendera di plafon dan membutuhkan tali
senar. sekretaris sudah mencoba mencarinya di warung atau kios terdekat namun
katanya kosong. lalu ia mendadak pulang dan membawa gulungan tali berwarna
kuning menyala yang melilit benda bulat mirip botol. tetapi ia tidak memberikan
langsung kepadaku melainkan meletakkannya di lantai papan. ketika kutanyai
apakah ini untuk bendera, baru dijawabnya iya. duh, apa susahnya memberi
langsung kepadaku. apakah aku terlihat tidak pantas diajak bicara? apa aku
terlihat menakutkan baginya? rasanya sangat minder dihindari seperti itu. apakah ada yang salah denganku? aku kan tidak pernah berniat mampalaknya.
Sore
harinya ia bertanding lagi. di putaran kedua tim kami bermain. angka
punggungnya masih sama seperti yang lalu, sebelas. aku tidak yakin, tapi sepertinya
ada sesuatu di balik angka punggungnya. karena ia konsisten memilih itu untuk
beberapa kali. ia orang yang filosofis dan cenderung berhati-hati. tetapi
kadang juga menjadi gila dengan tingkah konyolnya.
Nanti malam
ada selingan puisi di acara pembukaan malam pentas seni dan budaya. perannya
sebagai pengembara. saat sesi latihan kemarin ia sangat mantap dan
bersungguh-sungguh mendalami lakonnya. malam ini ia mengenakan kemeja batik
berwarna armi dengan motif halus sebagai coraknya dengan peci hitam dilingkari
pita merah putih. ia membawa ponsel ke sana-sini, sebagaimana perannya dalam
susunan panitia sebagai seksi dokumentasi.
Malam ini
bulan tampil sempurna. cahayanya berpendar ke sudut gulita. dibuatnya seluruh
mahluk semesta terkesima. kami menamaninya purnama. angin berhembus lembut,
menerpa kain horden panggung kami. sebelum tampil pentas, ia duduk
di sebelah kananku. menggunakan kakinya sebagai tumpuan. membaca takzim
selebaran puisi. bayanganku mungkin menghalangi cahaya lampu dari tempatnya
duduk. jadi aku sedikit menggeser tubuhku menjauh agar tidak lagi menutupi
tulisannya. aku terus melihat ke arahnya. dari samping; hidungnya terlihat
lebih mancung. ia mungkin tidak sadar aku memperhatikannya; sebab matanya
tertuju pada teks di depannya. ingin sekali mengucapkan sepatah dua kata
seperti “sudah siap kak? semangat ya !” tetapi terlalu malu mengatakannya. dia
masih membisu, lalu diam-diam aku menunduk seraya menitikkan air
mata. aku hanya benci saat itu, melibatkan perasaan sungguh runyam.
Saat
pembacaan puisi di panggung; aku tidak bisa menahan tawa ketika seorang kawan
membaca bagiannya. itu sangat lucu mengingat dialek dan logatnya berpadu dalam
satu irama. aku menoleh ke arah kanan berniat melihat ekspreksinya. berjarak beberapa kawan lain. ia juga secara kebetulan melihat ke arahku,
mungkin tawaku terdengar sampai sana. duh, maafkan diriku yang tidak terkontrol
ini. tiba di penutupan acara diisi dengan pembacaan doa, terlihat satu kawan
cowok terus menggangguku. kebetulan ia berada di samping dan membelaku.
Ketika
rapat di basecamp tadi ia duduk di sebelahku. udaranya dingin sekali.
sebetulnya tadi sudah ingin tidur. namun datang sekretaris menguber kami
guna rapat darurat. aku tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian
kemarin, sebelum acara pembukaan. aku dan kawanku menyapu pelataran panggung,
kebetulan ia baru sampai bersama kawan lainnya. aku bertanya “ini dikumpulin di
mana sampahnya? habis ini diapain ?” tanpa diduga ia menjawab “ih tidak. ini
diputer-puterin saja (sampahnya)” hahaha ah kok tidak lucu ya nulisnya di sini,
padahal aslinya lucu banget lho menurutku, seriusan !
Siang ini aku melihatnya berjalan dari arah berlawanan ketika aku dan kawan sekamarku
pulang dari membeli lauk. aku mengajak seorang kawan yang lain ikut makan siang
dan kebetulan ada dia juga. jadilah ia ikut bergabung. ia ke belakang mengambil
nasi sendiri. kemudian menggoyang-goyangkan piringnya; katanya supaya lebih
cepat dingin nasinya. tolonglah ? ada yang bisa menyaingi kelakuan absurd warga
+62 yang satu ini ? baiklah itu bukan masalah selama ia tidak dengan sengaja
membuangnya ke lantai. ia terlihat sedikit bicara dan terus tersipu, aku bahkan
berpikir sebetulnya pada Evi-kah dia malu ?
Ia terus
mengalihkan pandangannya ke arah lain. meski aku mengucapkan sepatah dua patah
kata sebagai formalitas. ia tidak mau menatap ke arahku. bahkan tidak menjawab
pertanyaan yang kulontarkan. hanya berbicara kepada kawanku saja. hei, hello
apa ia tidak mempertimbangkan kehadiranku sebagai homo sapiens? meskipun kamvr*t,
aku masih masuk kategori manusia. apa aku terlalu barbar bahkan untuk membuat
kontak mata ? di tengah bencana ke-kikuk-an itu, untunglah wadah air kobokan
milik kakek asuhku bocor hingga airnya tumpah. akhirnya, ada alasan yang
membuat drama di meja makan ini selesai lebih cepat. usai makan, aku menawarkan
brownis. ketika tidak bisa memasang penutup galon; aku meminta kawanku
menutupnya. namun tidak berhasil. lalu di akhir, ketika hendak pulang ia yang
melakukannya. lalu mengucapkan terima kasih dan kabur. kisah makan siang macam
apa ini?
Malam ini
ia menjadi juri. mengenakan kemeja kotak-kotak dan sepatu hitam. mengomentari
penampilan peserta yang tampil di kategori pembacaan puisi dan pidato. sempat
kudengar ia mengucapkan sebuah nama yang familiar. adalah Tan Malaka. ia
membagi kalimat kritis tentang beliau. mungkin salah satu tokoh favoritnya. selang beberapa saat, ia kemudian tampil ke depan membaca puisi sebagai
selingan dengan suara lantang. sebelum pulang tadi ia berdiri di sebelahku, tepat
ketika aku berbicara dengan sekretaris. ingin rasanya mengapresiasi dan
mengatakan bahwa “penampilan puisi kakak bagus !” tapi sangat canggung
menyuarakannya, karena ia seperti mengabaikanku.
Ah satu hal
yang hampir kulupa. kemarin sore sebelum acara pembukaan, saat aku meminta
seorang teman menyapu panggung; ia menggantikannya sebab ada masalah pada kabel
jika tidak salah. aku berada di samping kanan panggung dan ia mengatakan
“tabea”. dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih sama dengan “permisi”. yang
dimaksudkan agar aku menyingkir. aku dengan segala kebengonganku baru bereaksi
setelah ia mengatakannya kedua kali. aduh telat mikir sekali aku ! untuk diriku
sendiri; tolong perbanyak minum air ya.
Sebentar
lagi perpisahan. aku tidak akan pernah melihatnya lagi bukan? di kampus? yang
benar saja, aku introvert yang malas bertemu orang. ia juga mungkin akan
mengabaikanku bukan? ah rasanya tidak menyenangkan. aku berharap waktu berjalan
lebih lambat. ketika meminta foto kemarin, aku memikirkannya beribu kali. aku
takut pesanku tidak dibalas, takut jika hal itu mengganggunya, takut jika
diabaikan begitu saja.
Barusan; ia
menanyakan jadwal pentas padaku. ketika aku duduk di kursi menyaksikan
pertandingan sepakbola, aku merasa sedang dalam kondisi emosi tidak baik. jadi
aku hanya memberikan cetakan jadwal padanya tanpa sepatah katapun. aku merasa
bersalah padanya. sebab ia tersenyum kala menanyakannya. seperti berlaku kejam
pada seseorang yang tidak mempunyai kesalahan. bagaimana mungkin dalam
keramaian aku begitu merasa kesepian? aku tidak berusaha dilihat oleh siapapun,
tidak. aku hanya berusaha menepi. aku hanya merasa tidak seorang pun bisa
memahamiku. aku punya hal yang ingin kubicarakan dalam diam. ah tidak! aku
benar-benar merasa down sekarang. ia tidak datang malam ini. rasanya
kosong dan tak menyenangkan.
Malam ini
saat perjalanan ke lapangan. aku berpapasan dengannya di pertigaan jalan.
aku berjalan sendirian sambil memakan apel, ia terlihat bersama dua anak kecil.
seperti ingin menghindar, akan tapi jalan kami bertabrakan jadi mau tidak mau
bertemu. sebenarnya, dalam cahaya lampu yang gelap itu aku tidak tahu, jika ia
lewat. hanya sosok anak kecil memanggil namanya. ia memanggilku “Nami” sebelum
aku mengucapkan “Kak….” kemudian diikuti kalimat berikutnya. aku mengatakan
beberapa hal terkait rapat semalam, ia membalasnya dengan santun. suaranya
sangat lembut dan sopan. ah, jika ada hal yang paling menyenangkan itu adalah
saat aku dan dia berbicara di bawah temaram itu. di akhir, ia mengatakan hendak
melatih anak-anak sebab menjadi selingan di acara nanti. sungguh mulia,
menyempatkan dan meluangkan waktu untuk peduli hal kecil di sekitarnya. rasanya
senang sekali bisa bertukar kata dengannya. aku menjerit kegirangan
seperti orang kesambet sampai akhirnya menjadi kembali datar sesampai di
lapangan. tentunya setelah kami saling berpisah di persimpangan
remang itu. Semesta, terima kasih.
Hari ini
aku belum melihatnya sama sekali. padahal aku ingin menanyakan buku apa yang
tengah di bawanya kemudian meminjamnya. bolehkah ? malam ini sebelum ke
basecamp, aku berkunjung ke rumahnya bersama kawanku. niatku menjenguknya; karena kata kawan pinggangnya sakit. sampai di sana, kulihatnya ia duduk
lesehan di lantai bersama anak-anak kecil. kuberanikan diri, menanyakan “apa ia
membawa buku?”. dijawabnya iya, katanya buku tentang perempuan. kukatakan “bolehkah kupinjam satu diantaranya”, aku merasa skeptis bahwa ia
akan mengambilkannya untukku.
Aku
terdiam. terlihat ia berdiri tetapi tidak jadi mengambilkannya. aku malu membahasnya
dua kali. ah rasanya aneh, dan canggung. kenapa aku begitu tidak percaya
diri? ketika anak-anak kecil membawa sepiring kue, ia menawarkannya
kepadaku. kutanyakan itu kue apa, ternyata ia juga tidak tahu. jadi
ditanyakannya kepada anak itu. lucunya, jawaban anak itu bahwa kue itu tidak akan
menyebabkan kematian setelah memakannya. hehehe. ia mengenakan kaos hitam dan
celana pendek selutut, memutar berita di salah satu saluran televisi. ia
terlihat sangat akrab dengan anak-anak. bergulingan ke sana-sini layaknya anak
sepantaran. bahagia sekali menyaksikan pemandangan ini. sebuah koper tergeletak
di depan pintu kamar, saat kutanya itu milik siapa dijawabnya milik anak papa
asuh yang mau balik ke Ternate. aku melihatnya menyalami anak papa asuhnya. entah
kenapa merasa sedih. sungguh, teringat momen lebaran kemarin. bahkan ia
tidak mau menjabat tanganku sekadar formalitas untuk bermaafan.
Angin malam
menembus belulang. dingin sekali di sini. ia memaksa datang ketika
membuat laporan. kupikir baiknya istirahat saja sebab katanya pinggangnya
sakit. ia duduk di sampingku, menghembuskan asap rokoknya ke udara. ketika aku
mengibaskan tangan, ia dengan cepat menyingkir. ia tidak pernah mau membuat
kontak mata terlalu lama denganku. hanya beberapa detik lalu mengalihkan
pandangan ke arah lain. jika bersama temanku, maka ia akan terlihat lebih
senang mengajaknya berbicara. aku berpikir memang apa yang salah denganku? apa
aku terlihat aneh? kenapa? apa tatapanku mengintimidasi? bahkan jikapun itu
benar; aku tidak berniat menghipnotisnya karena aku juga tidak punya kemampuan
itu.
Ia mengetik
beberapa kalimat sebagai kontribusi laporan. korlap membeli terang bulan dan
kami memakannnya bersama. setelah hampir selesai ia berbaring di lantai. matanya dipejam sebentar sembari mengernyitkan bibir dan menggertakan gigi. berusaha meluruskan punggung dan kaki. seperti menahan kesakitan. meskipun
demikian ia memaksa datang. mungkin karena kurang enak sebab kami sudah
menjenguknya ke rumah. tetapi sungguh, menahan rasa sakit itu bukan
hal yang menyenangkan.
Sempat
kudengar bahwa ia yang membuatkan puisi untuk Eko; salah satu peserta selingan
di acara pentas kemarin. pantas saja bagus. ia mengatakan bahwa ia tak bisa
kosentrasi bekerja ketika sedang bising. ia juga tadi membahas seputar Bumi
Manusia karya Pram. saat hendak pulang tadi, seorang kawan menyuruhku
memasukkan kunci ke dalam tas. namun aku hanya menaruhnya di atas laptop. tadi
ketika ia berada di dekatku, ia seakan tersenyum. dibuatnya keadaan semakin
canggung. aku harap tak seorangpun dari kawan-kawanku menyadari hal itu.
Saat
seorang kawan bertanya “apa alasanku sehingga betah di Bacan” aku
terdiam. lalu pamit ke belakang minum air. lalu kawanku berkata “ih jawab dulu,
mau ke mana” tiba-tiba ia berbicara kepada temanku ini “kamu ini kenapa?”. aku
suka karena ia seperti membela situasiku yang tidak nyaman itu. untuk kesekian
kalinya, ia melindungiku dari sesuatu yang ingin kututupi. ia
selalu menghindari kontak mata denganku. ini berbeda dengan dirinya yang dulu
pertama kukenal. sangat dingin dan tak pernah tersenyum dan juga tidak segan
menatap tajam ke arahku. berbanding terbalik dengan sekarang, seolah aku tidak
pantas ditatap. apa aku bisa bertemu dengannya lagi setelah ini? pesanku
dibalas; pukul 3.21 pagi dengan emot senyum lebar dan mata menyempit.
Semalam; selesai meeting dengan panitia sepakbola, aku bersama kawan lain singgah ke
bengkel tempat membuat jalur evakuasi. ia di sana. mengenakan kaos hitam. tidak
ada tatapan, tidak ada ucapan. senang melihatnya baik-baik saja. aku pikir ia
sakit sebab tak bergabung dengan rapat membahas putaran final bersama manager
klub. ia memainkan ponselnya. dengan punggung bersandar di tembok. meski
sekilas, aku bisa melihat layar kaca itu memantulkan cahaya ke arahnya sehingga wajahnya terlihat. tempatku berdiri temaram. aku tiba-tiba teringat
kejadian awal KKN ketika tengah mengupas kelapa muda untuk membuat es buah
adalah saat aku menguap. ia mengatakan “eh, kamu lagi ngantuk tuh” tapi aku
diam saja. sungguh, bukan harapan bisa berbincang lebih dengannya.
Dua hari
vakum. dari yang kudengar dari kawanku, punggungnya sakit. tapi dari pengakuan
sekretaris; katanya ia sakit dalam, ginjalnya. saat kutanya siapa yang
memberitahu, ia mengatakan papa asuhnya. ia tidak pernah berterus terang dengan
orang lain, ia tidak ingin menampakkan apapun di depan dan seakan semua
baik-baik saja. aku ingin membawakan buah ke kediamannya, tapi bukankah itu
sangat terang-terangan? aku takut jika ia keberatan dan justru semakin menghindariku. kecuali dia bersedia menerima anggapan bahwa hal yang kulakukan adalah sesuatu
yang wajar.
Ingin
sekali menjenguk, tetapi terlalu malu ke sana sendiri. hanya jika berada
diantara kerumunan teman-teman, sehingga keberadaanku terlihat samar. ah,
bagaimana keadaannya? apa ia sudah baikan? beberapa hari tidak melihatnya. pagi
tadi seorang kawan menyerahkan uang padaku. mengatakan bahwa itu uang yang
dipinjamnya kemarin. ia menyalurkannya melalui seorang teman dibanding
memberikan langsung padaku. teman berkata, punggungnya masih sakit. sekarang,
kata “pinggang & punggung” mengisyaratkan seputar tentangnya. semoga
lekas sembuh. sepulang dari kantor desa tadi, aku mengajak teman menjenguknya.
beberapa orang, agar nantinya tidak terlihat mencolok. kebetulan, kami membawa
nangka dari rumah seorang warga dan menyisihkan untuknya. buah bagus untuk
pemulihan kesehatan.
Ketika baru
tiba di sana; ia terlihat berbaring di ranjang, melihat kami datang, ia lekas
berdiri melipat selimut dan melantai di bawah. ada buku di atas meja. dari
cover aku belum bisa menebak judul dan penulisnya, beberapa cangkir kopi,
puntung rokok dan benda-benda yang berantakan. di ujung ranjang, tersampir
kemeja kotak-kotak yang sewaktu itu dipakainya sosialisasi mitigasi bencana. juga kain mirip saputangan. sepatunya yang biasa dikenakan tergeletak begitu
saja di pintu masuk. ternyata ia menempati kamar depan, yang jendelanya
berhadapan langsung dengan rumah mama asuh kami. ia mengenakan kaos hitam dan
celana pendek. aku menanyakan ia sakit apa, menjawabnya dengan senyum yang
getir. yang dipaksakan sekadar menutupi kesakitannya. ia berkata “hanya sakit
biasa, istirahat sudah cukup, nanti sore akan ke lapangan” manusia mana yang
bakal percaya, melihatnya sepucat itu. ia menahannya, tidak ingin membuat
siapapun khawatir. ia menutupi sakitnya, rasanya ingin ikut menangis, terasa
kesedihan mendalam.
Ah sungguh
menyedihkan. aku tidak ingin menyalahkan siapapun. aku tahu dari segi kesehatan
nikotin dan kafein sangat buruk bagi tubuh. ia merusak tubuhnya, rumahnya. bahkan
saat kawanku memarahinya agar tidak terlalu merokok ia menjawab bahwa itu
adalah obat. aku tidak tahu apa yang telah dilaluinya. sehingga menganggap
racun itu sebagai obat. hei dengar, menghakimi orang lain itu gampang. tetapi
jika kita berada di posisinya, dihakimi tentu saja tidak menyenangkan. untuk
kebebasan individu; kecuali ia mau menyadari sendiri bahwa menurutnya yang
dilakukannya tidak salah tetapi tidak untuk kebaikan dirinya. ia perlahan
merusak tubuhnya sendiri. sebelum pulang, aku berpesan “banyak minum
air putih dan makan buah” lalu ia menunjukkan mug di atas meja sembari
mengatakan “iya, ini sudah ini” sambil tetap meringis, rasanya ingin
kutampol saja. di kondisi seperti itu ia masih sempat tertawa entah lega atau
terpaksa. kemudian kuucapkan “lekas sembuh” dan ia mengangguk lalu aku pergi
meninggalkan kediamannya.
Malam ini
rapat diadakan di rumah mama asuh kami. ia datang mengenakan jaket armi yang
biasanya. seusai rapat, ia berjalan ke arah ruang makan tepat ketika
aku dan beberapa kawan lain duduk. ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun
tertahan. ia berbalik dan setelah kembali lagi baru menyuarakan pertanyaannya. ia di rumah kami hingga larut. sepertinya berkutat dengan korlap membuat
sertifikat yang akan diberikan pada juara lomba nanti. aku terbangun ketika
mendengar gedoran pintu. suara korlap memanggil nama kawanku. itu mengagetkan. malam tadi aku berusaha keras menutup mata dan sekarang seseorang
mengganggunya. aku melihat jam di ponsel kawanku. hei ini pukul 4 pagi. aku
malas menjawab atau berdiri. terlanjur kesal dengan suara itu. jadi
kulanjutkan saja tidur.
Siang hari
ini kupikir tidak ada yang bisa mengganggu kemageranku. aku bangun jam 9 pagi,
tidak mandi dan hanya uring-uringan memutar musik di kamar. kawan sekamarku
mengajak ke rumah keluarganya untuk makan. tapi sungguh tidak bisa meninggalkan
kenyamanan santuy ini. selang beberapa waktu kawanku kembali. mengajak
berbelanja hadiah lomba nanti. baiklah ikut aja dulu kali. sebuah mobil hijau
terparkir di depan rumah kerabat kawanku. aku tidak menyangka ada dia dalam
mobil kades bersama kawanku yang lain. masing-masing sudah mengatur posisi
tempat duduk dan tinggal satu kosong di belakang. namun, ia turun dari kursi
depan dan pindah ke belakang. kawanku menggantikan tempat duduknya dan kini
aku duduk di kursi tengah. sungguh aku tidak PD karena tidak mandi, tidak ganti
baju dan wajahku lagi jerawatan akibat PMS. ingin rasanya berbalik arah dan
kembali saja rebahan lagi.
Moodku
sungguh tidak baik. aku ingin marah melulu. aku berusaha nyaman, menganggap
seakan tidak ada dia di sana. pede saja Nam ! nikmati pemandangannya. mobilnya
mogok ! tidak di luar sana, tidak di dalam sini rasanya panas sekali. lengkap
sudah penderitaan siang ini. saat hendak keluar dari jok belakang, tidak
sengaja kubentaknya dengan kata “sabar”! tuh kan…. aku merasa bersalah, aku
juga mengatakan nama iguananya jelek ! lalu melarangnya merokok karena asapnya
menyebar ! saat aku menghadap untuk mengatakan berhenti ia tak mau menatap
mataku dan tetap merokok begitu saja ! dasar menyebalkan ! singgah makan
durian. awalnya ia menolak, namun setelah keluar dari mobil akhirnya mau
mencicipi, meski tidak banyak. kemudian mengambil selfie; tapi aku tidak
menghadap kamera karena sangat tidak percaya diri.
Langit
sangat cerah dan air laut membiru. ia selalu tersenyum, aku tidak tahu entah
karena canggung atau sebenarnya ia orang yang humoris. ia selalu menghindar
menatapku, meski aku sudah menggunakan masker untuk itu. ingin
rasanya mengenakan kacamata hitam agar semuanya menjadi wajar. perjalanan
pulang, kami singgah membeli buah di pertigaan Labuha. kemudian sepulang dari
kota kami kembali ke lapangan membereskan panggung guna acara penutupan nanti.
Ia tidak
begitu suka buah. kesukaannya kopi dan rokok. ditinjau dari sudut pandang
kesehatan, tentu saja hal itu akan sangat merugikan bagi tubuhnya. tapi sekali
lagi, jika saja ia mau sedikit peduli ke dalam; ia akan memilih air putih
dibanding kafein. tidak ada yang benar-benar bisa mengubah seseorang. jika
bukan kesadaran dari dalam dirinya sendiri bukan ? pagi tadi, aku meminta
seorang kawan mengantarkan apel. aku ingin memberikannya kemarin namun terlalu
malu sebab ada banyak orang. ada banyak kesedihan karena perpisahan. ini yang
terbaik bukan?
Hei,
semalam acara penutupan sekaligus perpisahan. ia mengenakan kemeja kotak-kotak
hitam bergaris putih atau entah sebaliknya dan juga sepatu. ia membuat puisi yang
akan dibaca kawanku sebagai persembahan perpisahan. puisinya dibuat dengan
hati. kali pertama membacanya, aku menitikkan air mata. tidak banyak kejadian. aku melihatnya sekilas di bawah temaram. tidak sering, sebab ia
mendokumentasikan kegiatan. ia ingin naik berkolaborasi puisi dengan kawanku
tetapi batal entah kenapa. dan juga hei, saat aku hendak berjalan ke panggung
memberikan sertifikat; aku tergesa-gesa dan hampir menubruknya. ia bersumbar
“hati-hati nabrak orang lho”.
Seusai
acara berpelukan dan bersalaman dengan warga yang naik ke panggung; dia duduk
di pinggir panggung. hei ia mendekat, bermain gitar. itu tepat saat aku
diam-diam menangis. dari instrument yang dimainkan liriknya seperti penggalan
lagu D’Masiv “jangan pergi… jangan pergi… ku tak ingin sendiri”. ternyata ia
bisa bermain gitar. musik selalu membuatku merasa lebih baik. ia membuatku
lebih tenang dan nyaman. aku pergi ke tempat lain karena
rasanya canggung membelakanginya. saat pulang, kawanku meminta yang bersedia
membawa ember dan piring yang dipakai untuk konsumsi tamu undangan tadi. hei ia
membawa pulang ke rumah mama asuh kami.
Malam yang
panjang. gemintang bertaburan. ini pukul dua malam. kukira bisa mengambil
gambar bersama dengannya terakhir kali di panggung itu sebagai kenangan. ia mungkin tidak pernah merasa diperhatikan. tetapi aku sangat menyukainya dan
aku kewalahan ketika mekanisme diriku bertahan mulai berlaku. ini sudah
menyakitiku perlahan, tetapi aku tidak bisa berhenti. ini seperti candu yang
memabukkan. kenapa aku bahagia ketika berpapasan dengannya dan merasa ada yang
kurang jika ia tidak ada? apakah ini hanya ilusi? atau sekadar kelebihan
ekspektasi? aku benci! karena nyatanya ini realita yang terjadi.
Siang ini kami mengunjungi Dermaga Biru dan Pantai Sibela. para mama asuh
telah menyiapkan kudapan untuk kami santap nantinya. mamak
tersayang, terima kasih dan maaf saja banyak merepotkan. pagi hari kami sudah
diuber agar bersiap pakaian. lalu sekitar pukul 11-an truk datang mejemput.
kukira, ia tidak ikut. namun, terlihat ia keluar dari rumah bersama korlap.
mengenakan kaos hitam, celana panjang dan backpack juga ikatan mirip saputangan
melingkar di leher. ketika baru naik ke truk, ia mengatakan “jangan naik di
bagian atas, nanti kena kabel”. ia duduk membelakangiku. aku berdiri satu jengkal
dari tempatnya. angin berhembus kencang, sama banternya dengan truk membelah
jalan menuju wisata.
Kami tiba
di Dermaga Biru terlebih dahulu. ada banyak pohon kelapa tumbuh. rerumputan
hijau dan pasir pantai juga ombak bergulung. tempat duduk lengkap dengan meja
di tengahnya. di bagian kanan terdapat penginapan terapung berwarna biru tua. aku dan kawanku ke sana berniat mengambil gambar dan tentu saja kami diusir
dengan mudahnya karena tempat itu dikhususkan bagi pengunjung yang hendak
menyewa ruangan. lalu di bagian kiri pun sama. bangunan kayu dan mengapung di
atas laut. di sini kami diperbolehkan masuk, tetapi diperkenankan melepas alas
kaki. karena katanya itu hunian pribadi bukan bagian dari tempat wisata. baiklah! ikuti aturannya atau tidak ada kesempatan masuk ke sana.
Di
tengah-tengah barulah dermaga ini berada. memotong garis pantai dengan laut
lepas. di atas dermaga kayu, anak-anak desa kami melompat dari atas sini untuk kemudian
terjun ke air. ia terlihat banyak mengambil gambar. ia mengajak berfoto namun
tidak kuhiraukan, aku ragu jika bukan aku yang diajaknya. namun, diam-diam
kupotret ia saat tengah berdiri bersama kawanku dan dua anak kecil di dermaga. kami semua kemudian berjajar dan mengambil gambar kebersamaan. selang beberapa
lama, sekretaris kami datang dan mulai mengomel. entah menyalahkan siapa, tapi
ia bersikeras tak mau berenang di sini dan mau ke pantai yang satunya saja. duh, pak sek sangatlah ribet. ia mengusulkan agar kami patungan kemudian
menyewa truk yang mau membawa kami ke Sibela. singkat cerita, setelah kami
sampai di sana, drama baru muncul lagi. terkait biaya masuk per-orang, setelah
negosiasi akhirnya kami diizinkan masuk ke area wisata.
Ada dermaga
panjang yang menghubungkan dengan bibir pantai di ujung sana. beberapa gazebo
dan pohon kelapa tumbuh di atas pasir. terlihat dermaga kayu sudah bobrok
menjorok ke arah laut. sepertinya menjadi spot foto namun rusak dan tidak lekas
diperbaiki. di sisi lain; ada perbukitan yang ditumbuhi beragam pohon rindang
berwarna hijau. air laut di sini sangatlah bening. aku bisa melihat terumbu
karang dan ikan-ikan kecil di bawah sana. ada menara kayu yang cukup tinggi
dipergunakan untuk menceburkan diri dengan sensasi dan atraksi bagi perenang
yang menyukai tantangan.
Aku dan
kawan sekamarku mengambil gambar di bawah tower itu. lalu datang korlap membawa
kamera dan menawarkan mengambil gambar kami. tiba-tiba sekretaris kami juga
datang mengenakan kacamata kuning yang nyentrik bersama dengannya dan kawan
lain. sekretaris meminta mengambil foto bersama kami. aku mengajaknya turut
masuk dalam frame. ia terlihat ragu namun akhirnya mau. setelah itu,
masing-masing dari kami lanjut ke ujung dermaga, ia berjalan ke sana terlebih
dahulu.
Kawan
sekamarku sudah dengan sigap berenang terlebih dahulu. menitipkan barang
bawaannya kepadaku. kawan-kawan dipaksa mencebur ke laut. sebagian lari
sebagian lagi menurut. seorang kawan hendak menarikku ke laut. menyuruh
berenang tapi masih dalam masa period. lagipula, ketika ke pantai aku tidak
pernah benar berenang. aku melihatnya mengambil gambar di atas tebing yang
tidak terlalu curam. lalu ia pergi mengganti pakaian dan mengenakan kaos dalam
hitam dan celana pendek. mengambil sesuatu dari dalam tas kemudian memakannya,
sepertinya apel. namun belum sampai beberapa gigitan, datang sekretaris
memintanya. ia asyik bermain air, lari ke sana-sini. pindah, kemudian nyemplung
kembali. mengejar teman, terjun ke air, kembali duduk, lalu berdiri lagi,
berlari. tubuhnya kuyup tapi tetap merekam saat seorang kawan diceburkan ke
laut. beberapa menit kemudian, kulihatnya minum pocari. aku belum melihatnya
makan sejak dari Dermaga Biru tadi kecuali apel yang tadi dikeluarkannya dari
dalam tas. apakah ia tidak lapar ? ini sudah pukul 3 sore.
Hei! ia
berlari ke arah ujung pantai bersama korlap sembari mengatakan kepadaku “ada
pelangi….”. aku tidak bereaksi, namun kawanku mengatakan hal serupa tak lama
setelahnya. baik ! aku berjalan ke sana sendiri. entah ia atau korlap berseru
“pasti mau foto pelangi” kujawab “kok tahu” dan berjalan begitu saja. kuambil
gambar pelangi menggunakan ponsel kawanku. warnanya cantik
sekali. korlap mengatakan bahwa menggunakan kamera ponselnya lebih
jelas. jadi baiklah, entah kenapa aku menurut saja. ia akan mengambil gambarku
bersama pelangi, sungguh aku merasa canggung sendiri. jadi kukatakan biar
bersama korlap juga. ah tidak. aku mengatakan bahwa mari ambil gambar
bersama-sama atau bertiga namun ia menjawab “kalau kita bertiga, nanti yang
ambil gambar siapa” hehe aku ketawa sendiri padahal yang kumaksud adalah selfie
bersama.
Setelah
mengambil beberapa bidikan aku meminta berfoto bersamanya. entah apa yang
merasuki pikiranku yang spontan itu. aku hanya menuruti kata hatiku. ia
menjawab “yah, aku pake baju gini”. aku jawab “tidak apa-apa” jadi ia maju
membelakangi pelangi yang sama. Semesta, sungguh aku bahagia. aku senang
mempunyai foto kenangan dengannya. dari beberapa bidikan, hanya satu yang
bagus. jarak kami sejengkal. ia mengepalkan tangan ke tiang penyangga dermaga
sambil tersenyum tipis. aku bergaya peace dan tetap mengenakan masker. kami
berdua terlihat canggung satu sama lain. foto yang lain, terlihat buruk. kita
berdua tidak melihat ke arah kamera. saling membuang muka. badannya ke kiri dan
aku ke kanan, entah leher siapa yang encok di antara kami. mungkin aku, mungkin
saja dia.
Sudah
waktunya pulang tapi truk belum juga menjemput. kulihatnya duduk di gazebo depan
bersama kawan lain. lalu kami memutuskan berjalan ke dermaga biru. namun
beruntungnya sebuah mobil tepak lewat dan mau mengangkut kami ke sana. saat
truk kami datang, ia menawarkan bantuan tapi tidak kuindahkan. ia terlihat ragu
menanyai, jadi akupun ragu untuk menjawab. ditentengnya sepatunya tanpa mengenakan alas kaki ketika pulang. kami berada di truk bagian depan, aku dan
dia. ia tepat di samping kiriku. saat aku mengulurkan tangan untuk memegang
besi di depan, ia mengikutinya.
Saat di
atas truk, ia beberapa kali mengatakan “menunduk” ketika pohon besar
menyerempet kepala kami. aku tidak terlalu memperhatikannya. malahan kuangkat
tanganku agar menyentuh dedaunan. ia terdengar terus melerai; tapi aku diam
saja dan terus menatap ke depan atau samping kanan. setidaknya
jangan ke kiri karena ada dia. kuangkat tanganku keatas menyentuh daun atau
apapun agar ia berhenti mengatakan kalimat larangan itu. ketika supir
tiba-tiba mengerem mendadak dan aku hampir terjerembab, ia menanyakan “apa kau
baik-baik saja?”.
Tadi,
seusai magrib aku dan kawanku memakan cilok di mbak yang biasanya. tiba-tiba ia
bersama korlap menghampiri, meminta kami ke rumah tuan yang sering membantu
kami. berkumpul sebagai tanda malam terakhir perpisahan. agendanya adalah makan durian. ia tidak ikut makan, hanya melihat saja. ia mungkin tidak suka beberapa
buah. ia menunjukkan foto siang tadi padaku. aku hendak meminta kirim namun
ponselnya masih di-charger. jadi aku menunggu dulu. ia mengizinkanku
mengirimnya sendiri via share-it namun terhapus di penyimpanan. jadi ia
menawarkan mengirimnya di whatsapp dan aku mengizinkannya. saat tengah malam,
kami belum pulang sebab tuan rumah membeli terang bulan. aku tidak sangka ia
kembali dengan kawan lain. sebab kupikir ia sudah pulang duluan. aku bersandar
di tembok dan ia di depanku. menanyakan bolehkah connect ke dataku, aku
menjawabnya silakan saja. ia terlihat lelah duduk. ingin menopang tangan ke
belakang tapi aku juga kebetulan selujuran. lalu, setelah usai berbagi cerita
kami pamit pulang. dengan begitu hari ini telah selesai.
Malam ini
kami kembali ke Ternate. menaiki mobil menuju pelabuhan. ada begitu banyak
tangisan; terutama dari orang tua asuh kami. angin berhembus menerpa sekujur
tubuh. kami berpamit kepada warga desa. sebagian warga desa yang
dominan dengan anak kecil menyusul menggunakan truk ke pelabuhan. sempat
mengambil gambar bersama sebagai kenangan dengan mereka. di pelabuhan, sebelum
naik kapal, aku melihatnya menyalami kedua orang tua asuhnya sembari mengusap
air mata. kapal yang kami tumpangi cukup bersih dan nyaman dibanding dengan
kapal pada saat keberangkatan. ketika aku masuk, ia memanggil namaku “Nami, ada
foto2 ?” kujawab iya, namun kukatakan laptopku rusak jadi tidak bisa menyalin
dari flash. ia kemudian duduk di sebelahku menggunakan laptop milik sekretaris.
Kupikir
akan berakhir rangkaian paragraph tentangnya. pukul 03.00 pagi ia masih bermain ponsel. tidur di sebelah sekretaris. ketika aku bangun, tak lama ia juga
bangun. aku menghadap jendela, ia juga sama. sungguh kegerahan dan aku naik ke
lantai dua; menanti sunrise. siluetnya membuat hati pilu. air laut pasang
surut, ombak berbuih diantara rasa hampa dan kalut. suasananya mengundang
kesedihan. karena merasa kehilangan banyak namun
sejatinya tidak ada yang benar-benar hilang. waktu seperti ini butuh ruang
menyendiri. pada kekesalan dan penyesalan atas beberapa hal yang tidak
dilakukan. beberapa menit kemudian kapal bersandar. ah.. kami sudah tiba di
Ternate. ia keluar dan pamit kepada kawan-kawan bahwa akan pulang duluan. aku
melihat punggungnya hilang di tengah keramaian. ini sudah berakhir bukan ?
Karena ini
adalah tentangnya. pada aksara yang terus mencatat. pada potret yang dibekukan. pada senyum yang terekam. ia terus hidup dalam tulisan dan ingatan. kelak,
jika panjang umur dan memiliki sedikit keberanian akan kukirim kepadanya. benarkah ? kita lihat saja, hihi.
Untuknya; dari lubuk hati terdalam ku-ucapkan terima kasih atas usahanya melindungi selama
masa kubermas di sana. semoga saja ia mau sedikit lebih perhatian pada
tubuhnya. ia terlihat sangat menyebalkan jika terus keras kepala tidak mau
menjaga kesehatannya bahkan jika itu menyangkut kebaikan dirinya sendiri.
* t a m a t *
0 comments:
Post a Comment