Detak kesunyian
menjadi rumah terapik yang kukenal. kesunyian yang tenang, hening, aman,
tetapi menggema bagai dentuman. kesunyian itu bisa juga kau temui pada malam
penuh keheningan. keheningan yang kumaksud adalah membuka luka-luka lama. luka
yang menandakan perjalanan kehidupan. saat kau memilih membayar semua rasa
sakit dengan bertemankan kesunyian. seperti pendosa yang mengharap diberi
kekuatan menopang lara sebuah kerinduan.
Perasaan dingin
menyeruak menembus belulang. kini bertamulah kenangan masa kecil saat semua
masih segar dari bayangan sosok familiar. kupandangi laptop di meja kemudian
menyalakannya. kubaca kembali sebuah dokumen berisikan catatan yang pernah kutulis tentang Bapak setahun silam.
Bapak,
Bagaimana kabarmu sekarang ?
Kau alasanku menjadi
se-selektif ini. alasanku tidak menjalin hubungan atau berkisah-kasih asmara
layaknya anak muda. kau meninggalkan bekas luka yang sewaktu-waktu kembali berdarah. bagaimana kau membuat kenangan buruk di usia remajaku, kekerasan yang kerap kau
lakukan pada ibu.
Setiap melihat potretmu mataku berkaca. sungguh ini adalah kesakitan
yang mendarah. rasa frustasi ingin berteriak sangat kuat tapi lidah ini kelu, seperti
seluruh suara terkunci di dalam. sungguh aku ingin menangis dengan
mengobrak-abrik seluruh barang lalu kau hanya melihatku seperti putri kecil
yang hanya menangis karena kehilangan mainan.
Pak, bagaimana kabarmu sekarang ? aku kadang tak dapat membendung
kesedihan di malam-malam panjang. entah benci, menyesal, rindu, kecewa. aku
tidak berharap kau kembali lagi bersatu dengan ibu, tidak. kalian tidak lagi
memiliki kecocokan visi dan tujuan. Pak, andai saja ada alasan lebih rasional
kenapa kau tega menyakiti ibu dibanding prasangka bodoh dan kesalahpahamanmu
itu. buktinya, kau dan ibu adalah orang yang sama-sama setia. jika saja
diantara kalian saling berpaling, seharusnya kalian sudah menikah dengan orang
lain. nyatanya tidak, hanya komunikasi yang buruk bukan ?
Pak, pada siapa harus kuberitahu ini, bahwa aku terlalu ragu melangkah. aku takut terikat, aku takut berkomitmen. aku takut menjalin hubungan. Pak,
saat seseorang terasa semakin dekat, ketakutan itu semakin pekat. aku semakin
takut terikat, bahkan jika seperti menemukan separuh dari jiwaku yang hilang. tetapi aku sangat dipenuhi kekhawatiran. jika saja tidak pernah ada luka di
hari itu. akankah aku berani mengikrarkan diri ? aku sangat ragu, sungguh tidak
percaya diri bahwa aku adalah seseorang yang layak dicintai.
Pak,
Akhir-akhir ini aku bermimpi tentangmu. kau berpesan agar aku percaya pada setiap jalan yang kupilih.
benarkah jika kembali bertemu? aku bisa menatap matamu? kemarin-kemarin, saat
usiaku masih muda aku belum berani menemui rasa sakit itu. tapi kini aku sudah
mengusahakannya. apakah uban sudah tumbuh di kepalamu? apakah garis halus
sudah bertandang di sekitaran matamu? apakah kau senang bermain dengan cucumu?
Bapak, sungguh aku rindu. tolong jagalah kesehatanmu
Dia, Bapak. tempat
bermulanya segala luka. alasan ingin sembuh dari sayatan derita. apa kau
percaya bahwa sosok bapak adalah cinta pertama seorang anak perempuan ?
bagaimana kau belajar dan berusaha percaya pada cinta jika orang yang sudah
disuguhkan oleh Semesta sudah sejak lama mencabik sebuah kepercayaan ?
bagaimana kau bisa melupakan lintasan kejadian mengerikan di hadapan lalu
memutarnya berulang ? bagaimana kau bisa yakin kepada orang lain bahwa tak akan
melakukan hal yang sama ?
Aku selalu menikam
diri sendiri dengan menahan seluruh perih dari luka yang sendiri aku pilih. tentang Bapak yang sungguh selalu ku hindari bahkan untuk sekadar menyebut
namanya saja di antara keramaian. namun, Semesta membangunkanku dari
penderitaan. kejadian dua tahun silam membawaku bangkit lalu perlahan pulih. dan kini aku menyadari satu hal; bahwa orang tua kita juga sepasang
ketidaksempurnaan. orang tua kita juga bagian yang terluka dari orang tua
mereka yang juga mungkin tidak dewasa.
Ku-rapalkan doa
mengiringi kesunyian panjang. kepada malam ku bisikkan bahwa;
"Inilah luka itu, luka yang membesarkanku agar tumbuh dengan tangguh"
.jpg)
0 comments:
Post a Comment