Detak Kesunyian


Pukul 3.00 dini hari, ragaku masih terjaga.

Detak kesunyian menjadi rumah terapik yang kukenal. kesunyian yang tenang, hening, aman, tetapi menggema bagai dentuman. kesunyian itu bisa juga kau temui pada malam penuh keheningan. keheningan yang kumaksud adalah membuka luka-luka lama. luka yang menandakan perjalanan kehidupan. saat kau memilih membayar semua rasa sakit dengan bertemankan kesunyian. seperti pendosa yang mengharap diberi kekuatan menopang lara sebuah kerinduan.

Perasaan dingin menyeruak menembus belulang. kini bertamulah kenangan masa kecil saat semua masih segar dari bayangan sosok familiar. kupandangi laptop di meja kemudian menyalakannya. kubaca kembali sebuah dokumen berisikan catatan yang pernah kutulis tentang Bapak setahun silam.

Bapak,

Bagaimana kabarmu sekarang ?

Kau alasanku menjadi se-selektif ini. alasanku tidak menjalin hubungan atau berkisah-kasih asmara layaknya anak muda. kau meninggalkan bekas luka yang sewaktu-waktu kembali berdarah. bagaimana kau membuat kenangan buruk di usia remajaku, kekerasan yang kerap kau lakukan pada ibu.

Setiap melihat potretmu mataku berkaca. sungguh ini adalah kesakitan yang mendarah. rasa frustasi ingin berteriak sangat kuat tapi lidah ini kelu, seperti seluruh suara terkunci di dalam. sungguh aku ingin menangis dengan mengobrak-abrik seluruh barang lalu kau hanya melihatku seperti putri kecil yang hanya menangis karena kehilangan mainan.

Pak, bagaimana kabarmu sekarang ? aku kadang tak dapat membendung kesedihan di malam-malam panjang. entah benci, menyesal, rindu, kecewa. aku tidak berharap kau kembali lagi bersatu dengan ibu, tidak. kalian tidak lagi memiliki kecocokan visi dan tujuan. Pak, andai saja ada alasan lebih rasional kenapa kau tega menyakiti ibu dibanding prasangka bodoh dan kesalahpahamanmu itu. buktinya, kau dan ibu adalah orang yang sama-sama setia. jika saja diantara kalian saling berpaling, seharusnya kalian sudah menikah dengan orang lain. nyatanya tidak, hanya komunikasi yang buruk bukan ?

Pak, pada siapa harus kuberitahu ini, bahwa aku terlalu ragu melangkah. aku takut terikat, aku takut berkomitmen. aku takut menjalin hubungan. Pak, saat seseorang terasa semakin dekat, ketakutan itu semakin pekat. aku semakin takut terikat, bahkan jika seperti menemukan separuh dari jiwaku yang hilang. tetapi aku sangat dipenuhi kekhawatiran. jika saja tidak pernah ada luka di hari itu. akankah aku berani mengikrarkan diri ? aku sangat ragu, sungguh tidak percaya diri bahwa aku adalah seseorang yang layak dicintai.

Pak, 

Akhir-akhir ini aku bermimpi tentangmu. kau berpesan agar aku percaya pada setiap jalan yang kupilih. benarkah jika kembali bertemu? aku bisa menatap matamu? kemarin-kemarin, saat usiaku masih muda aku belum berani menemui rasa sakit itu. tapi kini aku sudah mengusahakannya. apakah uban sudah tumbuh di kepalamu? apakah garis halus sudah bertandang di sekitaran matamu? apakah kau senang bermain dengan cucumu?

Bapak, sungguh aku rindu. tolong jagalah kesehatanmu

Dia, Bapak. tempat bermulanya segala luka. alasan  ingin sembuh dari sayatan derita. apa kau percaya bahwa sosok bapak adalah cinta pertama seorang anak perempuan ? bagaimana kau belajar dan berusaha percaya pada cinta jika orang yang sudah disuguhkan oleh Semesta sudah sejak lama mencabik sebuah kepercayaan ? bagaimana kau bisa melupakan lintasan kejadian mengerikan di hadapan lalu memutarnya berulang ? bagaimana kau bisa yakin kepada orang lain bahwa tak akan melakukan hal yang sama ? 

Aku selalu menikam diri sendiri dengan menahan seluruh perih dari luka yang sendiri aku pilih. tentang Bapak yang sungguh selalu ku hindari bahkan untuk sekadar menyebut namanya saja di antara keramaian. namun, Semesta membangunkanku dari penderitaan. kejadian dua tahun silam membawaku bangkit lalu perlahan pulih. dan kini aku menyadari satu hal; bahwa orang tua kita juga sepasang ketidaksempurnaan. orang tua kita juga bagian yang terluka dari orang tua mereka yang juga mungkin tidak dewasa. 

Ku-rapalkan doa mengiringi kesunyian panjang. kepada malam ku bisikkan bahwa;

"Inilah luka itu, luka yang membesarkanku agar tumbuh dengan tangguh"

0 comments:

Post a Comment

My Instagram