Seutas Fana

Apakah salah menempatkan perasaan? jika dalam diam yang dibawanya hanyalah bingkisan penderitaan? 

Adalah cerita jika kau mendamba insan. kala terpuruk, kalut, dan hambar. bendungan emosi meluap tak tertahankan. mengisi ruang hati berdindingkan arang. bak membawa lari setumpuk jerami hitam; kemudian dibakar waktu namun tak kunjung ia padam. mau beribu bahasa menyelaraskan dengan roman. terlalu berat apabila tak dilepaskan.

Apakah sudi apabila tahu yang didapatnya serupa karung goni? yang tak lebih menyedihkan dibanding secangkir kopi basi?

Katanya mudah untuk melupakan. nyatanya hening selalu mengundang deraian tanpa kasihan. belas di awal dan cerca di ujung pengakhiran. sejauh apapun melambung. tiada hilang ditelan ombak; tiada kikis di tebing terjal. bergejolak terus mengikuti irama kenangan. selalu hadir, seakan tiada ingin memisahkan dari buaian. ketika pagi berganti siang, berganti petang, lalu malam; ia terselubung, diam namun menghanyutkan.

Apakah kemolekan itu benar sebuah bencana? apakah kepunyaan akan habis tak terkira?

Tetap merangkul orang-orang dengan dua sisi dalam dirinya. padahal ambisi liar mengelabuhi pikirannya. ia mencerca dirinya sendiri dengan berbagai ungkapan dan kata. seolah pantas telusuri tempat bernama neraka. terus tertawa seakan berada di ambang kematian. kemudian lumpuh dan bersujud tuk kesenangan yang kesekian. padahal ketika perih menembus belulang pada akhirnya akan berhenti di titik penghabisan.

Lalu dari setiap keserakahan; jalan mana yang kau pilih menuju fana? Roma hanya satu kecil dari dunia. ini yang ku-maksud adalah jalan menuju terjal paling binasa. sudahilah ! karena miliaran galaksi tidak akan cukup memuaskan manusia. 

Hatimu, cukuplah untuk Tuhan Alam Semesta -

0 comments:

Post a Comment

My Instagram