Tubuhku kuyup; alamat bumi sedang dibesuk. kulipat tanganku sembari menata pikiranku yang kusut.
Kini mata menolak kantuk; walau hujan tengah dikutuk manusia tetaplah tunduk. menunggu amarah mereda, menunggu langit selesai murka.
Bukankah setiap kita adalah rumah? bukan persinggahan yang berhak disiasati pergi dan pulang? sekadar senang tampaknya gampang. sesungguhnya rumah lebih bermakna, karena kita adalah mata dan telinga yang menjiwai setiap duka.
Barangkali sunyi bisa tumbuh di sela kesibukan; karena perasaan bisa saja terhapus seiring luka mengering. barangkali ingatan memang sesuka hati menyala; karena perasaan bisa saja muncul
dan sirna. barangkali hidup memang adalah doa yang panjang; perihal pulang
pada cerita yang sudah dibuat usang.
Kehampaan kini menanti keabadian. lupakah
bahwa kita hanya setitik debu yang jatuh walau tak ingin? warna yang kabur
dihempas oleh semilir angin?
Sedih yang tersisa di antara banyak peluk,
membiarkan raga sejenak terngiang di pelupuk. ada maaf sedalam lautan, walau
kata tak lagi berkumandang. ada terima kasih menggema di cakrawala, walau
sapa kini telah tiada. ada bayang yang terperosok jatuh, walau temu tak pernah
mau patuh.
Kini asing.
Di tengah rupa derita dan tulang belulang
berserakan. rembulan mengasihi sang malam. rindu yang terkubur kembali muncul,
mengumpulkan memori yang sudah lama tumpul. ada begitu banyak bilangan
yang salah dipahami. mungkin kita bertanya di antara ganjil, genap, titik dan
koma. tapi apakah pernah bertemu pintu? ketika kaki seperti mundur ke masa
lalu. menerjemahkan kemeriahan waktu yang terlalu jemu.
Mungkin dalam goresan tinta, aku lupa
bagaimana damainya hari dihiasi embun pagi. sebab seseorang bisa menjadi wujud
terindah yang mengaliri urat nadi; dan kemarin telah ku dapati ia sekali lagi.
Hanya saja ini akan sedikit berbeda. ketika kehilangan arah, ego menjadi penguasa. menutup segala bentuk celah, membuka seluruh bobrok dan salah. lupa, di mana letak bahagia. mungkin sekiranya benar, mengamini duka haruslah diikuti tegar. sebab ratap tak cukup membayar sesal.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment