Sebagai manusia biasa
yang tak terlepas dari rasa sakit dan air mata, canda dan tawa; salah dan lemah
tentu saja harus saling mengasihi antar sesama. untuk orang orang yang pernah
terluka di masa lalu, berulang kali harus mendengar berita kehilangan dari
orang terkasih, dikhianati, ditelantarkan, ditinggalkan. sini, mari berpelukan
dan saling menguatkan.
Berapa banyak luka
yang ditimbulkan oleh pikiran kita sendiri ? membuat skenario tidak penting dan
lari dari kenyataan. bukannya menemukan solusi, kita bahkan sering menghindari
risiko dipermalukan oleh orang lain dengan mengikuti pilihan-pilihan mereka.
kapan terakhir kali kita dapat berdiri dan bersuara untuk diri sendiri?
alih-alih membuat keputusan yang memberatkan hati.
Bagi saya pribadi; tahapan paling sulit dari perjalanan menuju sembuh adalah penerimaan. tahun-tahun sebelumnya, masih berat bagi saya menerima kenyataan yang sudah
terjadi. tetapi tahun ini, saya banyak berlatih untuk “menerima” saja dulu. banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi. mungkin kata terlambat lulus
sedikit mengganggu kehidupan saya beberapa bulan terakhir. keras kepala karena
tetap menginginkan satu orang menetap. ketidakhadiran figure bapak dalam
keluarga. kakek dan nenek yang sudah berpulang tanpa bisa melihat wajah mereka
tuk terakhir kalinya. teman-teman yang sudah mulai pergi dan anak kecil yang
terus bersedih di dalam hati. saya selalu mengelak kenyataan dan menjadi marah
kepada diri sendiri. menyalahkannya, mengutukinya, menghukumnya. semua itu
memperkeruh suasana, sampai pada akhirnya saya putus asa dan merasa benar-benar
tidak berharga.
Saya beranggapan
bahwa setiap yang saya lalui akhir-akhir ini membawa saya kepada tahap
pertumbuhan. memang benar ya, Semesta memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh
kita bukan yang diinginkan oleh diri kita. menerima kenyataan adalah tahap
paling penting untuk melangkah ke depan. kalau kita sudah menerima. ikhlas
kalau beberapa orang low empathy, beberapa kejadian di luar kendali. beberapa
teman menjauh dan pergi, beberapa kejadian tidak dapat diubah kembali. saya
merasa terlalu takut menerima kenyataan hingga mendesak mekanisme pertahanan
dengan menjadi defensif. syukurlah, itu mulai saya kurangi karena semakin
merasa bahwa itu sia-sia dan membuang waktu. itu hanya menandakan kita butuh
pengakuan dan validasi dari orang lain. sedangkan kedamaian jauh lebih penting
daripada mendapati diri kita sibuk bertanya kenapa sesuatu terjadi seperti itu.
Jika kita tidak
mencintai diri sendiri; kita akan mempercayai apapun yang dikatakan orang lain
tentang diri kita. karena itu, sebelum menginvestasikan waktu, tenaga dan
pikiran kepada orang lain alangkah baiknya jika kita menginvestasikannya kepada
diri sendiri terlebih dahulu. bisa dimulai dengan cara sederhana seperti
meditasi, mengonsumsi makanan sehat, memenuhi kecukupan air putih, membaca, menyalurkan
hobi, bergerak, menghabiskan waktu di alam, dan istirahat yang cukup. tidak
semua hal perlu reaksi, karena itu akan menguras banyak energi. mulai sekarang,
perlahan mari belajar untuk mengatur napas dan merespon seperlunya lalu
biarkan segala sesuatunya berlalu.
Setiap manusia
terlahir dengan penderitaannya masing-masing. tapi salah kalau kita terus
memilih penderitaan itu sampai akhir hayat dibanding membuat suatu
perubahan. pilihan ada pada diri kita. pilihlah hal-hal baik untuk
dimasukkan kedalam tubuh, hati dan pikiran. itu adalah tiga rumah yang
sesungguhnya.
Ayo bangkit, pulih
dan sembuh. kita berharga, kita berarti.
Peluk erat ~
0 comments:
Post a Comment