Sudahkah Sembuh ?

Sudahkah sembuh hari ini?

Sebagai manusia biasa yang tak terlepas dari rasa sakit dan air mata, canda dan tawa; salah dan lemah tentu saja harus saling mengasihi antar sesama. untuk orang orang yang pernah terluka di masa lalu, berulang kali harus mendengar berita kehilangan dari orang terkasih, dikhianati, ditelantarkan, ditinggalkan. sini, mari berpelukan dan saling menguatkan.

Berapa banyak luka yang ditimbulkan oleh pikiran kita sendiri ? membuat skenario tidak penting dan lari dari kenyataan. bukannya menemukan solusi, kita bahkan sering menghindari risiko dipermalukan oleh orang lain dengan mengikuti pilihan-pilihan mereka. kapan terakhir kali kita dapat berdiri dan bersuara untuk diri sendiri? alih-alih membuat keputusan yang memberatkan hati. 

Bagi saya pribadi; tahapan paling sulit dari perjalanan menuju sembuh adalah penerimaan. tahun-tahun sebelumnya, masih berat bagi saya menerima kenyataan yang sudah terjadi. tetapi tahun ini, saya banyak berlatih untuk “menerima” saja dulu. banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi. mungkin kata terlambat lulus sedikit mengganggu kehidupan saya beberapa bulan terakhir. keras kepala karena tetap menginginkan satu orang menetap. ketidakhadiran figure bapak dalam keluarga. kakek dan nenek yang sudah berpulang tanpa bisa melihat wajah mereka tuk terakhir kalinya. teman-teman yang sudah mulai pergi dan anak kecil yang terus bersedih di dalam hati. saya selalu mengelak kenyataan dan menjadi marah kepada diri sendiri. menyalahkannya, mengutukinya, menghukumnya. semua itu memperkeruh suasana, sampai pada akhirnya saya putus asa dan merasa benar-benar tidak berharga.

Saya beranggapan bahwa setiap yang saya lalui akhir-akhir ini membawa saya kepada tahap pertumbuhan. memang benar ya, Semesta memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh kita bukan yang diinginkan oleh diri kita. menerima kenyataan adalah tahap paling penting untuk melangkah ke depan. kalau kita sudah menerima. ikhlas kalau beberapa orang low empathy, beberapa kejadian di luar kendali. beberapa teman menjauh dan pergi, beberapa kejadian tidak dapat diubah kembali. saya merasa terlalu takut menerima kenyataan hingga mendesak mekanisme pertahanan dengan menjadi defensif. syukurlah, itu mulai saya kurangi karena semakin merasa bahwa itu sia-sia dan membuang waktu. itu hanya menandakan kita butuh pengakuan dan validasi dari orang lain. sedangkan kedamaian jauh lebih penting daripada mendapati diri kita sibuk bertanya kenapa sesuatu terjadi seperti itu.

Jika kita tidak mencintai diri sendiri; kita akan mempercayai apapun yang dikatakan orang lain tentang diri kita. karena itu, sebelum menginvestasikan waktu, tenaga dan pikiran kepada orang lain alangkah baiknya jika kita menginvestasikannya kepada diri sendiri terlebih dahulu. bisa dimulai dengan cara sederhana seperti meditasi, mengonsumsi makanan sehat, memenuhi kecukupan air putih, membaca, menyalurkan hobi, bergerak, menghabiskan waktu di alam, dan istirahat yang cukup. tidak semua hal perlu reaksi, karena itu akan menguras banyak energi. mulai sekarang, perlahan mari belajar untuk mengatur napas dan merespon seperlunya lalu biarkan segala sesuatunya berlalu. 

Setiap manusia terlahir dengan penderitaannya masing-masing. tapi salah kalau kita terus memilih penderitaan itu sampai akhir hayat dibanding membuat suatu perubahan. pilihan ada pada diri kita. pilihlah hal-hal baik untuk dimasukkan kedalam tubuh, hati dan pikiran. itu adalah tiga rumah yang sesungguhnya. 

Ayo bangkit, pulih dan sembuh. kita berharga, kita berarti.

Peluk erat ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram