0% Komitmen

Aku tidak berpikir menjadi istimewa tapi cukup berani bertaruh bahwa sudah otentik dengan menjadi diri sendiri. tentu saja aku punya ketakutan yang nyata. apa kau tahu? hal apa yang paling aku takutkan sedari dulu? hal yang ku-katakan pada orang-orang terlalu sia-sia dan membuang waktu saja? hal yang tidak pernah mau kutemui sedari remaja, bahkan ketika kini di pertengahan dewasa. 

Benar! itu adalah komitmen. 

Bagi anak-anak yang sudah lama tidak berumah, mengikatkan diri dalam suatu hubungan serius adalah hal menakutkan. orang seperti kami takut, jika kebebasan harus terenggut. berkaca dari pengalaman orang tua, kami tidak percaya pada manusia. 

Selama ini, kunanti diriku siap berkomitmen. tidak membuat alasan untuk membangun intimasi dengan seseorang. semua hanya sekadar. tidak ada perasaan ingin terhubung yang bergejolak amat dalam. tapi kau tahu? itu semua seperti lenyap ketika tersiram air kecewa. orang seperti kami selalu percaya bahwa orang lain akan pergi dan meninggalkan kami sendiri. ketakutan itu selalu menyelimuti manakala kami memutuskan menutup pintu hati. sejak kapan? mungkin sejak lingkungan memberi tahu bahwa kami harus menjaga benteng pertahanan diri. 

Sepertinya, pondasi pertama kami mencintai seseorang adalah kepercayaan. itu adalah kriteria paling krusial jika ingin melanjutkan hubungan. bagi kami, fisik, materi, ataupun waktu tidaklah terlalu prioritas. yang terpenting adalah energi yang terkoneksi. bagian yang bisa kami beri harta kami paling berharga, yaitu kepercayaan. lalu kami akan memberikan loyalitas dan dedikasi luar biasa.

Aku berani bertaruh, kalian tidak akan pernah merugi mendapatkan orang-orang seperti kami. kenapa? kami percaya tidak pernah cukup baik bagi seseorang dan menganggap orang lain tidak cukup pantas diberikan kepercayaan. kami percaya, bahwa kami hanya orang buangan yang tidak memiliki keistimewaan membaur dengan kehidupan normal bermasyarakat. kami selalu percaya bahwa kami tersisih dan tidak utuh. tapi begitu kalian menerima kami, begitu kalian menganggap ada keberadaan kami, maka bersiaplah menerima segala bentuk kemanusiaan paling tulus di muka bumi.  

Kami tidak melakukan pekerjaan setengah-setengah. baik itu dalam hubungan maupun menyelesaikan tugas. hanya ada pilihan ambil atau tinggalkan. kami cukup tegas memberikan komitmen kami. jika kami merasa tidak perlu, kami hanya memberikan 0% dari komitmen kami. 

Aku memang takut membahas komitmen jika itu harus melibatkan orang lain. sesungguhnya, aku sudah cukup rapuh dan tidak percaya diri jika harus terluka lagi. tapi jika aku bisa merasakan gelombang energi yang mengaliri nadi berbentuk kejujuran dan ketulusan. percayalah, aku tidak akan segan memberikan 100% komitmen milikku.

Karena bagiku sendiri, hidup hanya memberi dua pilihan; yaitu melukai dengan penuh atau membasuh dengan seluruh. tidak ada kata separuh ~


0 comments:

Post a Comment

My Instagram