Kotak rahasia itu kubuka. kuncinya sudah kutemukan, di luka bernama bapak. kubuka gembok yang berkarat itu. melihat garis pada kenangan di dalamnya berwarna kuning, warna bahagia. kuingat tawa bapak yang merdu, kumisnya yang selalu menambah kesan garangnya. alisnya yang tebal dan berantakan, kulitnya yang sawo matang. tatapannya yang tajam, matanya yang selalu menyimpan tanya dan keraguan. lalu rambutnya yang selalu disisir rapi. lalu setelan pakaiannya serta caranya berbicara kepada ibu. lalu kegemarannya pada kopi dan keuletannya bekerja setiap hari.
Kulihat lagi garis kenangan berganti dengan warna merah. saat aku belajar mana yang benar dan salah. belajar merasakan emosi sekitarku termasuk amarah. di warna ini aku melihat diriku mengenal aksara, mengeja kata, mengenal tanda baca, membaca, menyanyi, menggambar, berlari, bersepeda, bermain, berjabat tangan dan menimbang baik dan buruk sebuah perbuatan. kulihat diriku sering bertanya pada ibu atau menulis surat pendek untuk saudariku. di garis ini, kulihat diriku berani bermain hujan dan tidak peduli pada omelan ibu.
Lalu aku melihat sepintas warna abu-abu. di ambang warna ini ku temukan anak kecil itu terbaring. menatap langit-langit kamar yang gelap. dinding tak bercorak, serapah dan caci maki terlontar di ruang tamu. wajah bapak yang garang. darah yang berceceran dari kepala ibu tersayang. dan malam seterusnya lebih mencengkam. dan anak kecil itu terus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan.
Warna ini memoles banyak ruam. seperti perasaan lumpuh dan mendadak meledak diikuti tangis yang mencari perlindungan. mencari perasaan aman di tempat bernama keluarga. dan bapak tidak pandai menunjukkan cinta. tidak pandai membuatku merasa aman dan nyaman. saat aku kehilangan arah dan nestapa melemparkanku pada tangan tak bergelimang kasih. mencampakkan hati seorang anak kecil yang sudah kehilangan makna rumah.
Beberapa saat kemudian, muncul warna hijau pertanda kehidupan. bapak boleh melihat warna hijau milikku. warna yang menandakan selama ini aku tumbuh. warna yang boleh dilihatnya dari permukaan. kenyataan bahwa aku selama ini baik-baik saja. juga satu dari warna bahagia. kelulusan sekolahku, kesehatanku, dan beberapa pencapaianku. tetapi sengaja ku-sembunyikan warna hitam. warna kepedihan, kesendirian dan kesunyian. tidak harus. tapi kata kotak rahasia aku harus memberitahunya lewat isyarat.
Kemudian aku melihat seberkas warna biru, warna kesukaanku. seperti langit dan laut. aku melihat warna itu singgah di jantung hati bapak. ia mengikat erat warna itu di dada sebelah kirinya. sedari dulu ingin kuambil, tapi itu miliknya katanya. lalu kubiarkan saja. tetapi itu tetap warna yang kuinginkan hingga dewasa. warna yang aku sebut perasaan damai dan cinta.
Jadi aku, kembali ke sini. bukan untuk mengambilnya, tapi bapak yang memberikannya. kulihat jemarinya. sudah banyak berkerut menjelang tua. aku melihatnya sesekali dan memalingkan muka ketika bapak mendapati. lalu matanya seperti laut yang bercerita tentang pengakuan dan penyesalan ;
Nak,
Bapak tahu bukan bapak yang sempurna. bahkan gagal menjadi bapak untukmu dan menjadi suami untuk ibumu. tetapi kini
bapak berusaha menjadi kakek untuk kedua cucu bapak.
Bapak tahu banyak salah ketika muda. kau mungkin menganggap bapak sudah menelantarkanmu. tidak memberi perhatian atau kasih sayang dan memenuhi kebutuhanmu sebagai anak perempuan. sepuluh tahun tidak melihat wajahmu, akhirnya kau mau menemui bapak lagi. kau sudah beranjak dewasa.
Hari ini kutawarkan kau secangkir kopi nak. kusuguhkan sepotong roti. lalu di hari lain aku berusaha akrab denganmu dengan mengisahkan kesialanku saat bekerja. kuharap kau bisa menunjukkan sedikit simpati. tetapi kau tetap dingin dan seolah tidak peduli. ah tetapi sudahlah, tidak apa-apa.
Nak, bapak ingin memelukmu sesering mungkin tetapi terlalu malu. rasanya baru kemarin aku melihatmu tidur siang di samping ibumu. mengajakmu berkeliling Manipi. membicarakan rencanamu masuk sekolah menengah pertama. kau tetap putri bapak yang keras kepala dan egois kan ? tetapi sekarang putri kecil bapak sudah besar. maafkan bapak, sungguh maafkan bapak. tidak menjadi bapak yang baik untukmu. nak ! tolong jangan menatap bapak seperti itu. bapak akan memperbaiki kesalahan bapak dengan umur yang tersisa.
Bapak ingin mengungkapkan kekhawatiran bapak tentang masa depanmu. tidakkah kau memiliki seseorang yang kau cintai ? bapak merasa putri bapak selalu banyak diam, jarang tertawa dan murung. apa kau selalu seperti itu nak ? dahulu kau periang dan sangat suka bercerita. dewasa ini kau terlihat berbeda. adakah seseorang yang kau inginkan menjagamu ?
Nak, bapak kesulitan membacamu. apakah kau sudah memaafkan bapak atau menganggap bapak sudah tidak lagi ada ? bapak kini menjelang senja, tolong kunjungi bapak lagi. bapak selalu menunggu pengampunan. sungguh, bapak sayang sama kamu.
Jaga dirimu baik-baik, anakku.
Dan kini warna putih menyala benderang, kudengar diriku bercengkerama kepada langit :
Bapak sudah tidak seegois dulu. dua cucu membuatnya banyak berubah. dulu dia sangat keras kepala dan pemarah. sekarang lebih welas dan ramah. aku terenyuh, garis-garis di sekitar matanya sudah jelas terlihat. kulitnya semakin melepuh pertanda tidak lagi muda. tetapi ia semakin mahir menyembunyikan duka. mungkin ia sudah gagal menjadi suami dan ayah tetapi akan berusaha menjadi kakek untuk cucunya.
Aku dan bapak tidak pernah begitu dekat. ketika bertemu kemarin ia merangkulku. rasanya ganjil, aneh dan asing. seperti bertemu orang lain. tetapi suaranya mengetuk alam bawah sadarku. itu suara bapak, persis ketika kudengar dahulu. ketika larut malam, ketika pagi menjelang, ketika terang benderang, itu suara bapak. dan perasaan itu mengagetkanku, inikah orang yang selama ini berusaha selalu aku hindari?
Bapak? selama ini aku selalu berkutat dengan kesunyian dan kesendirian. rasa sepi adalah harga yang harus kubayar daripada menunggu sebuah nama memanggilku berkelana. aku bisa mengibaratkan kesakitan-kesakitan ketika sepi itu datang tiap malam. ketika sayapku dipatahkan dan beberapa menanyaiku kenapa tidak bisa terbang. ketika berada di suatu sangkar dan tak boleh keluar. ketika berada di dalam sebuah mobil tanpa amunisi, merasa ada tetapi tak pernah terasa. kesesatan itu tak pernah menemui titik terang sampai akhirnya aku memutuskan “pulang”. sekiranya pelukanmu menghapus amarahku. meski sebetulnya aku sering membenarkan kata Nadin yang menyebut hidup ini mirip seperti “bajingan”.
Bapak. ini seperti pertautan sederhana yang tidak berujung. menyiasati tangisan dengan melihat ke arah cakrawala. jangan mengkhawatirkan masa depanku meski aku sendiri bertanya dari mana harus memulai kadang-kadang. aku mencoba memprioritaskan kesehatan dan menata hidupku kembali setelah banyak berantakan.
Bapak. mari saling mengampuni masa lalu. karena dari hati bapak yang berwarna biru. akan kutambahkan pita berwarna putih, mengisinya dengan cinta kasih.
Dan warna
pada masing-masing garis akan terbang. bebas dan lapang. di
antara terang atau di gelapnya malam. karena selain sayap, kini mereka memiliki cahaya untuk
selalu menemukan jalan pulang.
Bapak. aku akan tumbuh ! menjadi cacian yang dulu kau balut dalam dendam. menjadi lagu usang yang selalu kau putar berulang. menjadi bau tanah selepas hujan. aku akan tumbuh menjadi hingar bingar yang pendiam.
Bapak? aku akan tumbuh. menjadi bunga yang mungkin tidak pernah kau rawat dengan peluk atau cium. tetap saja, aku akan selalu tumbuh dengan akar pengampunan ~

0 comments:
Post a Comment