Euphoria

Langit Surabaya gelap berawan. tak lama kemudian gerimis mengguyur dan segera mengabarkan kepada langit agar menjelma menjadi rintik yang besar dan berpola. empat ribu empat puluh lima hari, akhirnya ku beranikan diri menemui agony. di pintu kedatangan bandara, terlihat saudariku mengulurkan tangan. memeluk tubuhku yang lelah sehabis perjalanan panjang. wajahnya masih cantik, tiga puluh satu tahun. di samping kirinya, digandeng seorang anak laki-laki berusia tujuh mengenakan masker. di belakangnya berdiri seorang gadis sebelas tahun. aku mendorong troli menuju mobil, tempat suami saudariku sudah menunggu untuk membawa kami pulang.

Di dalam mobil kami lebih banyak berdiam. hanya sesekali suara dari keponakan yang bungsu bertanya kepada ibunya “Ma? ini tante ya ?" aku tersenyum tipis mendengarnya berbicara. sepertinya ia anak yang pemalu. si sulung juga lebih banyak diam. rambutnya tergerai lurus panjang dan perawakannya tinggi. ia melirik ke arahku sekali-kali saat asyik dengan gadgetnya. sisa cahaya matahari yang meredup sebentar lagi tenggelam. menyisakan bingkisan sendu dan menerpa rambutku yang terkena angin.

Aku tidak punya banyak kenangan bersama saudariku. sedari kecil kami sudah berpisah. aku ikut bapak dan ibu, sedang ia dibesarkan oleh kakek dan nenek. terakhir kali bertemu di Malang. saat aku mengikuti lomba debat bahasa indonesia tingkat nasional sewaktu menengah kejuruan. saat itu si sulung masih lima tahun dan si bungsu baru berusia tiga bulan. aku bertekad menuntaskan studi baru bisa kembali ke sini. 

Sesama saudari perempuan seharusnya berbagi rahasia. tetapi kami lebih banyak tidak. ia menyimpan rahasia miliknya, begitupula denganku. masing-masing dari kami hanya mencoba mengerti keadaan bapak dan ibu. sedari kecil, ia rajin menabung. kuingat saat usiaku tujuh. ia mengirimkan seperangkat alat menggambar dan tas ke tempatku yang jauh. kata ibu, itu dari hasil menyisihkan uang jajannya. ketika memiliki waktu bertemu dan menginap beberapa hari di rumah kakek dan nenek, ia selalu mendongengkan sebelum aku tidur. ibu pernah bercerita bahwa ketika ia masih SD dulu pernah dipukul oleh bapak karena membawaku ke rumah nenek dan kakek tanpa sepengetahuannya. 

Saudariku pandai menutupi kesedihannya. tetapi tidak ketika bersama ibu. pernah kulihat ia menangis tersedu-sedu dan ibu mengelus rambutnya. tetapi ketika di hadapanku ia tertawa ceria sambil menggodaku. saat aku masih sekolah dasar, sering kulihat ia menulis pada buku harian. rasa penasaranku juga tak terhenti kala kudapati ia berbalas surat dengan pacarnya. setelah lulus sekolah menengah atas, ia bekerja dan menikah. saat itu aku baru lulus sekolah dasar dan harus ikut orang tuaku untuk melanjutkan sekolah lagi. 

Kepulangan ini memberikan kesempatan pada langit untuk membangunkan realitasku. bahwasanya dendam yang kubawa hingga sekarang sudah waktunya dilepaskan. karena ketika aku menemui mereka satu persatu wajah yang melukai berusaha membenahi. tatapan sinis kini berubah jadi manis, satu persatu beranjak renta. menjemput segan, tetapi rindu akan pelukan. mendekap yang sudah lama jauh, karena selama ini mengawang dan sebatas mendengar nama. 

Beberapa hari kemudian kami ke pantai. kami tidak pernah ke pantai bersama sejak kecil dan inilah kali pertama. saat mataku memandang hamparan lautan dengan langit biru, aku bergumam;

"Laut dan langit siapakah di antara mereka paling biru, dan siapa yang akan mengalah karenanya?"

Sering sekali jika merindui orang-orang aku melihat laut. tempatku tinggal sangat mudah untuk menjumpainya. sebagaimana menjadi akrab bersua dengan samudera, laut berpesan;

"Jangan menyelami seseorang, meraihnya di dasar lautan sementara ia berusaha membuatmu tenggelam." 

Lalu aku teringat beberapa kejadian tidak mengenakkan di masa lalu dan sepertinya sudah harus aku temui;

"Hei tetapi benar bukan manusia itu dalam dirinya bisa diibaratkan lautan. kita tidak bisa mengenali kedalamannya hanya dengan melihat dari permukaannya"

Beberapa waktu kemudian aku ke pemakaman. tempat istirahat kakek dan nenek. kutaburkan kembang dan melangitkan doa. saat itu sepucuk kamboja jatuh tepat di bawahku. aku rasa mereka sedang menyambut kedatanganku. mereka pernah merawatku, menggantikan posisi bapak dan ibu sementara waktu. nenek adalah orang yang sangat royal dan dermawan. hobinya adalah memasak. masakannya selalu enak. kupinta apapun dan ia segera menurutinya. sedangkan kakek lebih hemat tetapi sangat bijak. ia menggunakan uang seperlunya tapi tak pernah lalai memperhitungkan kebutuhan. kakek itu orang yang cerdas, rapi dan berwibawa. mereka sungguh pasangan yang abadi. sekarang aku benar-benar rindu. maaf begitu terlambat menemui. 

Menghabiskan waktu tiga minggu menyelami palung luka meringankan hatiku. perasaan ini sudah kubawa sedari dulu. kutanamkan dalam benakku bahwa mereka adalah orang-orang jahat yang tak akan pernah ku maafkan. tetapi setibanya di sini, aku seperti pecundang yang menahan semua kalimat itu di kerongkongan. selama ini ragaku terasa kaku dikuliti kenyataan yang tidak pernah bisa aku redam. tetapi seketika luruh mendengar permintaan maaf dari orang yang kuyakini sebagai monster. ia memelukku, sangat erat sambil air matanya berlinang. 

Memperbaiki jalan terjal tidak serta merta mengubah baik. tetapi lebam ini seperti dibasuh oleh air hangat yang tidak lagi mendidih. perihal memaafkan masa lalu yang suram. tempat bernama neraka pernah kusematkan. memendam semua luka. membuatku mati rasa kadang-kadang. menangis yang tak seperti menangis, tertawa yang sepertinya tangis di dalamnya. memendam sangat kelam, mendendam sangat dalam. gelombang amarah yang selalu bertandang setiap malam kini mereda. 

Lalu.. tiba saatnya aku kembali berpamitan.

Tetapi menangisi kepergian adalah hal sia-sia yang telah lama aku pelajari. sedari kecil, hidup sudah mengajarkan kepadaku arti perpisahan. pada ruang, tempat maupun peluk hangat bahkan caci maki orang-orang. dan dewasa ini, kepergian tidak membuatku jatuh, patah atau hal terpuruk lainnya. aku bahkan sungguh sangat memaklumi orang-orang yang sudah selesai bertamu pada beranda hidupku. sedikit ironis, tetapi sejujurnya aku lebih senang mendapati kenyataan bahwa :

“ah… dalam hidup ini, berlakulah sebaik yang kau mampu sebelum kepergian sendiri itu tiba”

Karena kita semua akan berpulang, sayang !

Namun ke manapun hidup membawa; tumbuhlah dengan akar ketulusan dan mekarlah dengan kebajikan ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram