Monolog

Ketika dinding pikiran saya menyembunyikan resah; percikan rintik gerimis samar-samar membisikkan pada gelap bahwa awan kini telah bermutasi menjadi paduan jingga dan perak merona. seperti akan menempuh jutaan tahun cahaya menuju galaksi semesta manusia lainnya. kemudian Hindia dan Rara Sekar menyanyikannya dalam sebuah lagu berjudul “Membasuh”.

Bisakah kita tetap memberi; walau tak suci?
Bisakah terus mengobati; walau membiru?
Cukup besar tuk mengampuni; tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?

Bukankah penggalan lirik “Membasuh” itu menyadarkan bahwa manusia adalah mahluk fana dan tidak sempurna? tapi berusaha ingin melakukan yang terbaik untuk sekitarnya?

Namun tidak dapat dipungkiri; meski kadang-kadang keputusan untuk membaur akhirnya menghidupkan chaos dan banyak pertanyaan di benak kita. 

Apa selama ini saya menjalani hidup dengan percaya diri atau penuh dengan keraguan? apa selama ini saya melakukan sesuatu dilandasi validasi dan pengakuan orang lain? apa selama ini saya percaya bahwa yang saya lakukan itu sudah benar? benarkah apa yang saya lakukan berdasarkan cinta kasih atau investasi timbal balik? benarkah saya sedang tidak menunggu perihal apa yang saya tabur? apakah saya akan baik-baik saja setelah ini?

Saya berusaha menginterogasi kembali tujuan dari setiap tindakan. meminta diri agar jangan terburu mendefinisikan makna pemberian. meminta hati agar selalu meluruskan niat tuk saling mengasihi.

Setelah kelulusan, saya rasa telah memasuki halaman baru. seperti kebanyakan orang pada umumnya, saya akan disibukkan mencari pekerjaan. tetapi, saya sudah berikrar membereskan beberapa hal sebelum chapter baru dimulai. maka saya memutuskan untuk jeda sejenak. menilik janggal dan sesal. menuntaskan beragam emosi yang lama terpendam.

Saya memiliki banyak ketakutan sebelumnya. tidak jarang membiarkan ketakutan itu menelan diri saya hingga kerapkali mendulang pahit dan getir. dan kini bisa saya katakan;

Hei.. itu tidak apa-apa karena kita manusia.” setiap ketakutan hadir sebab jauh dalam dirinya manusia sadar penuh ketidakberdayaan. sama ketika akan bertemu dengan kematian, kita tidak pernah memiliki kuasa penuh atas diri kita dan akan selalu gemetar bila waktu menjemputnya tiba.

Sembari melantunkan obituari; saya selalu percaya bahwa hujan di bumi dan perasaan kehilangan di hati itu saling mengikat. demikian kiranya ketika saya menggenggam begitu erat rasa kehilangan. tanpa sadar yang saya sakiti adalah diri saya sendiri. saya membiarkan diri saya meratapi kesendirian. mengasihani diri sendiri yang tidak becus berbahagia dan Semesta meminta saya melihat lebih dekat. melihat lebih pelan. sudah terlalu lama menyalahkan diri sendiri. dan sekarang saya bisa katakan;

Hei.. itu juga tidak apa-apa. semua yang bernyawa akan mangkat. kita boleh berduka beberapa saat dan itu tidak apa-apa.

Saya juga menggenggam kuat harga diri saya. karenanya, hal itu kerap membuat saya menderita. perasaan arogan itu membuat saya sulit menerima kebaikan dari orang lain dan merasa kesepian jauh di dalam. keterlemparan itu memaksa agar tidak pernah membiarkan diri saya berhutang apapun pada orang lain. lucunya, kesunyian yang lama bercokol dalam batin membuat saya membangun benteng yang kiranya berlebihan dan pada akhirnya hanya menawan kebas dan mati rasa.

Padahal sesekali meminta atau menerima bantuan dari orang lain itu tidak apa-apa. meski hubungan antar manusia merepotkan tetaplah kita tidak dapat hidup sendiri. kita perlu membahu karena realita kehidupan pun terkadang penuh dengan paradoks. justru salah satu tugas kita adalah saling membenahi dan mengampuni satu sama lain. kini, saya sadar bahwa setiap manusia adalah perihal ketidaksempurnaan. akan selalu penuh kekurangan dan kelemahan dalam merawat satu sama lain. namun, keseimbangan akan berangsur pulih dan saling mengait. semua mengakar pada pemahaman dan kehendak alam semesta.

Setelah belajar arti penerimaan tahun lalu, tahun ini pelan-pelan saya ingin lebih banyak belajar arti “melepaskan”. arti melepaskan sangatlah luas. melepaskan yang bukan hak saya, melepaskan rasa sakit saya. melepaskan kekhawatiran saya, melepaskan ke-sok-tahuan saya. melepaskan kepemilikan, melepaskan label dan atribut yang disematkan manusia lainnya. melepaskan perasaan superior dan inferior, melepaskan ekspektasi, melepaskan belenggu benci dan iri hati.

Ya. tentu tidak mudah. awalnya diri saya protes “kan sudah menerima, kenapa harus melepaskan? dengan begitu kau tidak akan punya apa-apa.

Saya jawab “Hei benar. saya hanya ingin mengalir dan bermuara menuju kebermaknaan. sesungguhnya kebebasan sejati akan selalu ada bersama kita.”

Sungguh Semesta adalah yang paling memahami. ia menempatkan kita pada situasi yang dibutuhkan oleh diri kita untuk bertumbuh. bukan sekadar keinginan yang dilandasi kesenangan pribadi. semuanya berjalan sesuai garis edarnya. bulan dan matahari, langit dan bumi, siang dan malam, planet di sistem tata surya. semua skenario benar-benar menciptakan harmoni. lalu kenapa cemas bahwa Semesta akan meninggalkan kita? tidak memperhatikan kita? bukankah kita sendiri yang kadang larut dan mengandalkan eksistensi manusia lainnya?

Saya memilih kedamaian diri. tidak mau lagi memaksakan diri jatuh pada rasa yang acapkali membenarkan kenyataan sepihak. saya memberikan waktu kepada diri saya untuk berduka. merasakan pengingkaran dan dusta. demikian warna yang ditunjukkan oleh manusia. saya memperbolehkan diri saya untuk merasa terhubung dalam artian yang sesungguhnya, melepas batas-batas ketika telinga saya menyimak kisah lainnya. saya memberi kesempatan kepada diri saya berbenah seutuhnya. menyadari bahwa sembuh atau tetap terluka adalah pilihan kita. saya mengizinkan diri saya untuk merasa dicintai. memperbolehkan keceriaan menghinggapi rongga hidup saya. 

Saya memberikan waktu kepada diri saya untuk berjarak. dari keinginan dan nafsu sesaat. memahami bahwa pengingkaran bukanlah bahasa cinta. ia hanya keegoisan mutlak yang dibalut oleh obsesi mengerikan. saya mengizinkan diri saya untuk memaafkan. mempersila-kan yang selesai untuk mengemasi diri. saya mengizinkan diri saya untuk berdamai dengan kekurangan dan ketidaksempurnaan. memberikan kesempatan arti pulang ke rumah pada cangkang milik sendiri.

Mungkin jejak luka itu sudah waktunya sembuh. melepaskan adalah bentuk doa terindah yang semesta anugerahkan kepada jiwa manusia. melepaskan adalah ruang tanpa sekat yang menuntun terik menuju oasis sempurna. melepaskan adalah harga yang diterima setiap elegi yang menyambangi. dan melepaskan adalah kekuatan terakhir untuk memulai awal yang bersih kembali. melepaskan dendam, melepaskan cinta, melepaskan amarah, melepaskan malapetaka, melepaskan ego, melepaskan penderitaan.

Dari sini saya menyadari bahwa melepaskan juga bagian dari wujud mencintai dan mengasihi.

Demikian, hidup terus berjalan ~

0 comments:

Post a Comment

My Instagram