Segara Widdhu Karsa

Di suatu hari awal Bulan Februari

Di sebuah Perpustakaan Kota Arpha. cuaca cukup cerah. matahari seolah mengintip dari berbagai atap genting tua berwarna merah. hiruk-pikuk kota tempat membangun atau justru mematikan harapan. lalu-lalang manusia yang gesit bergerak di jalan raya menghentikan otakku untuk melamun lebih lama. kebiasaan yang suka kupelihara. tetapi Kota Arpha tidak memberiku kesempatan berkhayal lebih sering terkecuali di perpustakaan kota. 

Selang beberapa saat, gerombolan remaja belasan tahun datang melaksanakan study tour ke perpustakaan. derap kaki dan suara mereka menggema di ruangan. terlihat para remaja itu mendapatkan pengarahan dari seseorang. kemudian satu persatu berhamburan menjelajahi barisan meja-kursi yang berpendar. kumpulan remaja itu membentuk kelompok kecil yang masing-masing berpencar di titik berbeda.

“Kupikir tempat ini tidak terjangkau. banyak tempat lain yang menawarkan keramaian”

Aku menoleh ke arah sumber suara. seorang pria berpawakan tinggi mengenakan kacamata. tampaknya dia guru muda yang bertanggung jawab membawa rombongan tadi. tanpa menanggapi ucapannya, kusumpalkan earphone ke telinga. melihatku tidak menggubris basa-basinya, pria itu tersenyum tipis.

“Maaf sudah mengganggu” lalu ia mengangguk sopan dan pergi.

Di esok berikutnya, pria itu datang lagi. mula-mula seorang diri. meletakkan ponsel-nya di meja dan mulai membaca buku. seorang kawan datang kepadanya dan mereka tampak berdiskusi. sementara aku sibuk membereskan tugas divisi dari tempatku bekerja, tanpa aku sadari pria tadi sudah berdiri di sebelahku dan mengetukkan jarinya di atas meja.

“Bisa tolong ambilkan potret kami?”

Merasa menggantung jawaban, kuambil ponsel-nya dan mulai membidik.

“Apa kau tidak kenal yang namanya selfie?” tanyaku setelahnya

“Kenal. yang tidak aku kenal mungkin dirimu. oh iya, izinkan aku memperkenalkan diri. namaku Gara”

 “Geni” jawabku seraya menjabat tangannya.

***

Hari ini langit gelap mulai mengundang gerimis kecil. sebentar lagi dipastikan turun hujan dan perpustakaan akan tutup. dengan tergesa, kubereskan laptop dan buku lalu menuruni anak tangga ke lantai dua. ketika hendak melaporkan buku yang ingin kupinjam kepada petugas, ternyata ruang sirkulasi kosong. 

Di tengah kebingunganku, tak lama kemudian pria yang sempat berkenalan kemarin dan mengaku bernama Gara muncul. melihatku duduk sendiri sambil tengok kanan kiri. Gara-pun pergi meninggalkan ruangan. beberapa saat kemudian tampak kembali bersama seorang petugas sirkulasi. Gara menungguiku menyelesaikan prosedur peminjaman. lalu kami turun bersama menuju lobi perpustakaan. 

“Kenapa kau datang saat perpustakaan akan tutup?” tanyaku penasaran.

“Hanya ingin memastikan sesuatu” jawabnya sambil tersenyum. manusia ini murah senyum. 

Sesampainya di bawah, ternyata hujan sudah mendahului terjun ke bumi. jalanan tampak sepi dan percikan air menerobos beranda perpustakaan.

“Aku terlambat !” gerutuku.

“Pakailah ini. apa tempat tinggalmu jauh?” Gara menyodorkan payung berwarna abu-abu yang ia ambil di tempat penitipan barang.

“Ah tidak perlu. pakai saja untuk dirimu” aku berusaha menolak dengan ramah.

“Tidak apa-apa. rumahku di dekat sini. itu di samping Sekolah Kriya Marga. kau pasti tinggal cukup jauh” Gara menunjuk rumah berpagar cokelat tua dengan banyak tanaman di sekitarnya. tebakannya benar. harus naik bus sekitar 30 menit dari sini untuk sampai ke tempat tinggalku.

“Perpustakaan sebentar lagi tutup dan hari semakin gelap. hujan juga deras. jika menunggu, kau mungkin akan pulang kemalaman”

Dengan sungkan kuterima payung dari tangannya. “Baiklah, terima kasih. bagaimana denganmu ?”

“Aku bisa berlari. sampai jumpa” 

Meskipun jarak dari tempat kami saling melambaikan tangan tidak begitu jauh, bisa dipastikan tubuhnya kuyup sampai di rumah.

***

Di hari cerah berikutnya, aku berkunjung sekaligus berniat mengembalikan payung yang kemarin kupinjam dari Gara. jadi, aku datang lebih awal dan kutunggu Gara di tempat penitipan. karena cukup lama menunggu dan Gara tidak kunjung muncul, akhirnya aku memutuskan untuk naik ke atas saja. sesampainya di atas, ternyata Gara sudah duduk takzim di hadapan bacaannya.

“Hei! terima kasih pertolonganmu kemarin. aku simpan payungmu di bawah” ujarku kepadanya.

“Sama-sama” jawabnya ramah.

“Mau mampir ke rumahku nanti?” ajaknya tiba-tiba. “aku punya bibit tanaman baru. jika kau tidak keberatan aku ingin mengajakmu menanamnya.” aku membalas dengan wajah menyetujui.

Rumah Gara memang tidak jauh dari perpustakaan. hanya berjalan sekitar lima menit. di depan pagar rumah tergantung miring papan nama keluarga KARSA. aku berhenti di pintu masuk bergaya georgia sembari memandang keunikan rumah klasiknya. dinding batu batanya dirambati tanaman ivy yang sudah dipangkas rapi. cat berwarna celery di jendela memberi kesan elegan yang menentramkan. namun tidak ada seorang pun di rumahnya. ingin kutanyakan di mana orang tuanya, tetapi sepertinya itu cukup lancang pada kunjunganku kali pertama.

“Jadi tanaman apa yang akan kita tanam?”

“Ini.” Gara menunjukkan bibit bunga angelonia di plastik putih transparan dan pot tanaman yang sudah diisi dengan tanah, pasir dan kompos. jenis angelonia yang dibawa oleh Gara toleran terhadap panas dan lembab. jadi cocok untuk daerah tropis. aku menggulung lengan blouse milikku dan mulai berkutat dengan proses menanam bibit angelonia bersamanya.

“Apa hobimu?” Gara membuka percakapan

“Seperti kebanyakan introvert. kegiatan yang bisa dilakukan sendirian.”

“Itu terlalu general. yang lebih spesifik dong” ujarnya sambil tertawa.

“Hahaha- baiklah, mungkin menulis.”

“Sudah kuduga. dari awal kau tampak seperti orang yang tak punya teman” guraunya sambil terbahak

“Hahahaha benarkah? aku tidak peduli.”

“Mengapa kau menulis?”

“Entahlah. mungkin aku lebih suka menderita dalam imajinasi”

“Sebenarnya, itu karena aku merasa tidak ada yang akan mendengarkanku.” batinku dalam hati

“Apa tidak terlalu membosankan?”

“Bagiku tidak. justru membaur membuatku kehilangan banyak energi. sesekali tidak apa, jika terus menerus aku merasa exhausted. bagaimana denganmu Gara?”

“Aku suka memasak”

Refleks akupun bertepuk tangan. “itu keren. kapan-kapan aku mau diajari olehmu.”

“Tidak mau mencicipinya dulu?” Gara menawari dengan nada serius.

“Boleh juga” jawabku bersemangat.

“Baiklah. setelah ini beres aku akan memasak untukmu. kita makan malam bersama.”

Selepas bertanam, Gara membersihkan diri dan mengajakku masuk ke dalam. ia memintaku menunggu di ruang keluarga sementara Gara akan mempersiapkan hidangan makan malam. namun, aku menolak karena ingin mengikutinya memasak di belakang. Gara tampak lucu mengenakan celemek sementara tangannya cekatan memotong bahan-bahan dapur.

“Siapa yang mengajarimu memasak?”

“Dulu, nenekku. lalu belajar sendiri setelahnya. sewaktu kecil aku bercita-cita menjadi chef”

“Lalu mengapa berakhir menjadi guru?”

“Keputusan ayah. hal mutlak yang tidak boleh diganggu gugat.”

“Apa kau tidak senang?”

“Awalnya tidak. akan tetapi ibu menyadarkanku. bahwa bukankah tidak baik menyalurkan ilmu kepada orang lain tanpa dilandasi ketulusan? jadi aku mencoba menikmatinya. menjadi guru juga mengajarkanku arti kesabaran.”

“Jadi, sekarang kau seorang penyabar?”

“Hahaha pertanyaan macam apa itu!”

“Ayolah! jawab saja”

“Tidak selalu. tapi terkadang juga bisa kehilangan kendali.”

Aku membantu Gara mengaduk tumisan cacpcay. aroma harum dari jamur, udang, sosis dan campuran sayur-mayur membuatku tidak tahan untuk bersin.

“Kau alergi makanan tertentu?” tanya Gara ketika membuka kulkas dan mengambil telur hendak merebusnya.

“Iya. telur” Gara menoleh padaku seolah tidak percaya. ia lalu memasukkan kembali telur ke dalam kulkas dan mengambil kwetiau di kabinet atas dapur. kemudian Gara mengeluarkan daging ayam di freezer box mini. karena air sudah mendidih, Gara langsung memasukkan bahan-bahan untuk diolah menjadi menu kedua. Gara berniat menyajikan sup kwetiau ayam sebagai pengganti hidangan berbahan telur.

“Apa kau sering memasak seperti ini?”

“Beberapa bulan terakhir menjadi sering. ayah tidak suka melihatku memasak. jadi, aku melakukannya diam-diam. di luar atau ketika ia tak di rumah.

“Tampaknya tidak mudah bagimu”

“Ngomong-ngomong dia juga tidak suka pada perempuan mandiri dan bekerja di luar rumah. ibuku pernah menjadi salah satunya” bisiknya padaku.

“Wow ! ibumu layak mendapat trophy

“Hm... tidak berjalan baik.” Gara menarik napas panjang. “Nah. sudah siap. ayo kita makan!” ajaknya menyudahi pembicaraan.

***

Di akhir bulan Juni kami sudah semakin akrab. bibit angelonia yang kami tanam waktu itu tumbuh subur dan beberapa diantaranya sudah mekar. deretan tanaman yang dimeriahkan dengan warna biru tua dilengkapi kultivar serena purple itu menghias apik pekarangan kecil milik Gara. tanaman adenium swazicum berwarna merah muda dan bougenville bercorak magenta keunguan dengan aksen putih turut memperindah tampilan koleksi tanaman milik Gara. setelah menilik tanaman hari itu, Gara mengajakku piknik kecil di tepi danau.

"Kenapa kau memilih tinggal sendiri di kota ini Gara?" tanyaku sambil mereguk sebotol minuman kaleng yang rasanya organik. bisa kubayangkan rasa buah berry hitam yang ranum dan berkilauan ditempa sinar mentari. kelembutan rasanya serasi dengan langit sore itu.

“Mau mendengar kisahku?” jawabnya sembari menikmati kudapan kecil yang kami bawa. aku mengangguk “jika kau tidak keberatan membaginya.” imbuhku meluruskan.

"Baiklah. sejujurnya, aku sempat dirawat karena mengidap Post-Traumatic Stress Disorder.

PTSD? apa maksudmu, pengidap kondisi mental yang didominasi perasaan cemas berlebih akibat kejadian traumatis, insiden atau peristiwa tragis?”

“Benar Gen. karena terlalu lama berkecimpung di circle yang toxic.” tukasnya sambil menunduk. "keluargaku tidak harmonis dan ayahku mungkin penderita gangguan personality cluster BNarcissistic Personality Disorder tipe covert dengan tingkat keakuratan match 95%"

"Ayah sangat abusive. setiap hari harus ada pertunjukan drama panggung di keluarga kami. kakak pertamaku sebagai golden child, anak emas kebanggaan ayah. kakak keduaku diperlakukan sebagai scapegoat, anak yang selalu dikambinghitamkan. kakak keduaku yang sering menampung muntahan proyeksi kemarahan dan amukan dari ayah. sedangkan aku sendiri diperlakukan sebagai lost child, anak yang terpinggirkan.”

"Bagaimana dengan posisi kakak pertamamu?" 

"Posisinya sebagai golden child tentu saja menguntungkan. ia dimanja sejak lahir. setelah menuntaskan pendidikannya di kampus ternama, ia menjadi seorang dokter syaraf di Provinsi Kala. ayah sangat bangga kepadanya dan kini ia sudah berkeluarga. ayah mengatakan aku tidak berguna dan tidak sebaik kakakku yang pertama. hampir setiap hari kulalui dengan perasaan sepi dan rasa bersalah. kritik dan cacian membuat aku marah, bingung dan frustasi. kesehatan mentalku terganggu dan seorang kawan menyarankan agar aku ke psikiater.”

"Ayah adalah aktor yang hebat. ia seperti serigala berbulu domba. di hadapan orang lain ia terlihat peduli dan bijaksana tetapi pada keluarganya, ayah membunuh jiwa kami. siklusnya selalu sama. love bombing, devalue, discard, dan hoover. senjata manipulatif untuk memegang power dan kontrol dari kami mulai dari triangulation,  passive-aggressive, silent treatment, gashlighting, blame-shifting, intermittent reinforcement, false apology, toxic amnesia, breadcrumbing dan masih banyak lagi. tetapi di depan orang image, lakon ayah selalu playing victim.”

“Ayah mempunyai sekumpulan orang yang mendukungnya. terapis-ku mengatakan mereka adalah kepanjangan tangan untuk melancarkan aksi manipulasi ayah, istilahnya adalah flying monkey. mereka berperan membantu narcissist mencapai tujuannya. jadi selama dua puluh delapan tahun pernikahan orang tuaku, sebenarnya siklus toxic itu sudah sedari awal terbentuk dan ibuku menjadi tawanan karena menderita cognitive dissonance, yaitu saat ia mempercayai dua hal yang bertentangan dari ayah.”

“Ayahku seseorang dengan standar ganda. reputasi dan nama baik adalah segalanya. dulu ketika kakak pertamaku lahir, ayah tidak suka melihat ibu bekerja karena akan mengancam posisinya untuk berkuasa. padahal ibu cerdas dan berbakat. jadi, ibu mengundurkan diri dan memilih merawat keluarganya. namun karena saat itu kondisi keuangan tidak stabil, ibu memutuskan untuk mencari kerja lagi guna membantu perekonomian keluarga. mengetahui hal itu, ayah marah besar dan mengatakan bahwa dengan ibu bekerja itu berarti ibu telah menghinanya. akhirnya, ibu memilih menjadi ibu rumah tangga saja sampai akhirnya aku lahir. akan tetapi hal itu sudah menimbulkan narcissistic injury bagi ayah dan ibu harus membayarnya dengan kesengsaraan. ibu berharap ayah akan menyayanginya dan tidak akan berbuat kasar kepadanya. namun selama puluhan tahun pernikahan, ibu justru sekuat tenaga menahan sakit fisik dan mental.”

“Ketika ibu mengatakan ingin berpisah dan pergi, ayah menyebarkan smear campaign kepada orang-orang agar kredibilitas ibuku hancur. dari perilaku itu, kolega dan kerabat mulai menjauhi ibuku dan menudingnya sebagai istri dan ibu yang tidak berbakti. jadi, berulang kali ibu kembali dan menjalani siklus hidup penuh derita. rasa yang dikiranya cinta, tak lebih dari jeratan trauma bond yang menyiksa hingga menjadikannya destruktif terhadap diri sendiri.”

“Ibuku lama bertahan dengan anggapan suatu hari cinta kasihnya membuat ayah berubah. ia menunggu sebentar lagi hingga berulang kali mendapati perilaku tidak setia ayah yang mendua dengan perempuan lain. ia juga mendapati kenyataan bahwa kakak kedua-ku yang diperlakukan seperti sampah memiliki pergaulan bebas dan harus mendekam beberapa tahun dipenjara karena terlibat kasus narkoba. ujungnya, ditemukan mati tenggelam di Sungai Raya. seseorang melihat katanya ia melompat dari jembatan. ibuku kemudian menderita depresi dan dirawat di shelter di Kota Tua.”

"Aku turut berempati" ujarku hati-hati

“Nyaris dua tahun ibuku dirawat. setelah ibu dinyatakan sembuh, ia memutuskan berpisah lalu kembali ke kampung halamannya. ayah kemudian menikahi perempuan simpanannya dan membeli kondominium di Kota Hatta. di sana, ia menjalankan bisnis properti. jadilah aku tinggal sendiri di sini."

"Ayah mungkin tahu ada something off dalam dirinya tapi diminimalisir sedemikian rupa. memuntahkan proyeksinya pada orang-orang di sekitarnya. penderita gangguan ini lack of object constancy dan whole object relations. jadi teramat sulit membuatnya bahagia. justru yang ada, para korbanlah yang ingin membunuh dirinya sendiri."

"Apa kau dendam pada ayahmu?"

"Dendam tidak menyembuhkan disordernya. aku juga yakin ia tidak memilih dilahirkan seperti itu. tetapi ia merusak kami. jadi pilihan kami satu-satunya adalah pergi. terapisku memberikan perumpamaan bahwa sebuah permainan catur tidak akan dimulai jika pion menolak untuk bermain. ibarat ayah yang selalu membutuhkan fuel dan drama, aku dan mungkin juga ibu memilih menutup mata dan telinga. bagaimanapun juga ia tetap ayahku, akan ku-doakan kesehatan selalu." 

Gara melanjutkan kalimatnya “Geni. kau tahu kalimat dari Paul Valery? Le vent se levé il faut tenter de vivre bahwa angin telah berhembus, dan kau harus berusaha tetap hidup.”

Aku menyimak penuh simpati. mata Gara tidak bisa berbohong. ia menyimpan lara sekaligus sayang untuk ayahnya. namun ia juga merasakan duka dari kemalangan ibunya. tak terasa, matahari akan tenggelam. kami menyudahi obrolan sore itu dengan menyaksikan sunset di tepi danau.

***

Geni. maukah tumbuh bersamaku?

Begitulah sepenggal kalimat yang terlontar dari Gara pada sore saat kami berkunjung ke danau yang sama sebelumnya. air danau yang begitu tenang melengkapi air wajahnya yang teduh. dengan setelan casual dan membawa sepuluh tangkai bunga aster putih. Gara duduk menghadap ke arahku dengan mimik serius sekaligus merona.

Kuingat bagaimana kerongkonganku serasa tercekik. mulutku terbuka tanpa mengeluarkan suara. di tengah berbagai pendapat yang berkelebat di benakku, satu pikiran mengemuka – apa seseorang baru saja memastikan hatinya kepadaku? seperti tidak percaya. karena selama ini, jika tertarik pada seseorang biasanya aku yang terlebih dahulu mengungkapkan rasa. tetapi Gara! aku bahkan tidak berencana mencintainya. aliran darah bergemuruh di telingaku. dan ia menunggu jawaban penuh arti. sore itu mata kami saling bertatapan. tidak bisa kusembunyikan perasaan haru-ku lebih dalam.

“Aku menyukaimu Gara. tetapi aku tidak berpikir bahwa rasa ini akan berubah menjadi cinta. kau bisa menemukan seseorang lebih baik dariku untuk tumbuh bersama."

Wajahnya yang semula berbinar menjadi muram. 

“Jika kau berpikir bahwa aku tidak sungguh-sungguh, maka kau salah. aku rasa bisa mengimbangi keunikanmu Gen.”

"Lebih baik kukatakan sedari awal. jangan mengharapkanku. jangan membuang waktumu. karena aku juga tak ingin membuang waktu  untukmu. jika akhirnya menjadi asing kembali bukankah kita berdua merugi ?”

“Apa kau takut aku merebut kebebasanmu Gen?”

“Kau tidak tahu apa-apa tentangku Gara. semua yang kau lihat dariku adalah saat aku merasa sedang baik dan berenergi saja”   jawabku memelankan suara. 

“Aku menyukai kesendirian Gara. kau akan kerepotan karena aku akan lebih sering sendiri dibanding bersama orang lain termasuk denganmu nantinya. jika suatu hari aku sedang tidak baik-baik saja dan ingin sendiri kau akan merasa aku sedang menjauhimu karena sesuatu. jika kau tidak memberiku ruang untuk menikmati kesendirianku dan aku harus bersamamu karena perasaan bersalah, bukankah itu juga menyakitimu ?”

“Aku tidak pandai menjalin hubungan dengan orang lain Gara. kau akan membenci betapa tidak pedulinya aku. jadi, jangan berusaha. aku tidak suka melihat seseorang menunggu sesuatu dariku.”

“Aku siap memaklumi jika suatu waktu kau akan menunjukkan betapa dinginnya hatimu Gen. aku tidak akan meragukan kemampuanmu menganggapku tidak pernah ada jika kau merasa itu perlu. aku tidak keberatan menunggumu karena hanya kamu yang aku mau Gen.”

“Mengabaikan orang lain memanglah keahlianku Gara. tapi aku tidak sanggup melakukannya padamu”

“Kau akan sanggup Gen. jika suatu hari aku sudah menyakitimu dengan sering. aku yakin kau memahami pattern seseorang dan kau punya boundaries yang tajam”

“Aku tidak siap berkomitmen Gara”

“Setidaknya, kau bukan anak kecil yang tidak siap berkomitmen tetapi membuat orang lain membuang waktu percuma Gen. maka dari itu, kau beritahu aku sebelum jatuh terlalu dalam kan? terima kasih untuk peringatanmu itu.”

“Kau membaca pikiranku dengan baik”

“Aku akan menunggumu Gen. kapan-pun.”

"Kau akan lelah Gara. aku akan membuatmu menyerah

Aku mengaitkan reruntuhan perasan itu dengan hari-hari ketika matahari menyinari bebatuan tua yang membentuk gerbang-gerbang lengkungan yang anggun di kawasan sunyi. batang-batang mulus pohon beech di depan danau seakan memancarkan sinar ethereal dan jauh di atasnya dahan-dahan berderak tertiup angin. 

Setelah kejadian sore itu, kukira Gara akan berhenti menghubungi atau enggan menemuiku. 

"Mungkin ia butuh waktu menyembuhkan luka dari ucapanku saat itu. tapi itu hal biasa. kenapa juga seseorang menjadi murka saat perasaannya tidak diterima?"

Pada kenyataannya tidak. Gara bukan seseorang dengan prinsip seperti itu. ia tetap bersikap biasa dan tidak canggung sama sekali ketika berbicara. entahlah, Gara terlihat lebih hidup dibanding sebelumnya agak redup.

“Geni. terima kasih ya?”

“Untuk apa?” tanyaku keheranan ketika kami kembali menghabiskan waktu di perpustakaan beberapa bulan setelah kejadian itu.

“Kau memberiku keberanian dan menemui titik kesadaran.”

“Maksudmu?”

“Keberanian menemukan kekalutan pikiranmu. kau membuatku menemukan dirimu dalam entitas sesungguhnya. bahwa kau tidaklah sempurna versi ide dalam pikiranku. dan memberiku lentera di ambang sadar bahwa saat kita jatuh cinta, kita hanya akan memikirkan tentang diri sendiri. bagaimana sebaik-baiknya diperlakukan, disayang, atau dibanggakan di hadapan orang lain. saat jatuh cinta, kita menjadi sibuk memastikan eksistensi kita berada di puncak rantai egoisme. semua harus tentang diri sendiri yang wajib dicintai seutuhnya.”

“Tetapi pernahkah saat jatuh cinta kita juga memikirkan perasaan empu di seberang sana? pernahkah berpikir apa ‘aku’ cukup baik bagi kesehatan mentalnya? apa ‘aku’ yang kekanakan dan egois ini tidak akan merepotkannya? apa perasaan yang aku sebut ide tentang cinta ini tidak akan melukainya? atau tentang tumbuh kembang kami berdua. apa kami akan mekar bersegera? apa hubungan yang kami bangun ini tidak berujung pada asing dan sia-sia?”

“Saat patah hati, kita hanya memikirkan diri sendiri. bagaimana dalamnya luka itu menyayat kalbu. bagaimana ia mengoyak kegigihan serta meremuk harapan kita. tapi pernahkah kita memikirkan empu di seberang sana? barangkali ia tidak tahu dan tidak sengaja. kita harus belajar mengutarakan pikiran dan perasaan. mungkin saja ia merasa bahwa ukuran dan model 'sepatu' milik kita tidak cocok atau tidak sesuai untuknya. bukankah sangat buruk bila memaksakan kehendak kita saja?”

“Saat kita bahagia. kita hanya memikirkan tentang diri sendiri. bagaimana seharusnya hak itu tidak boleh ada yang merampasnya. dan empu di seberang sana berhak terpuruk karena perlakuan kita. tapi pernahkah berpikir untuk berdoa pada Semesta agar melindungi dan memberikan kesehatan pada orang yang kita cinta?”

Aku tertegun. lama merenungi kata-kata yang diucapkan Gara. pemikirannya sejauh itu? ia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri setelah mengalami penolakan.

“Gara. apa kau sedang marah?”

Ia mengacak rambutku dan justru tertawa.

“Geni. di dunia yang bising dan serba sibuk ini, semua hanya ingin terlihat saja. masing-masing membenarkan penampilan diri yang mengusung kata sederhana dan apa-adanya. tetapi yang diperlihatkan justru usaha membentuk identitas ideal menurut sosial. tak lain hanya untuk mengais pengakuan dan validasi. hubungan antar culture dan individu didominasi adanya garis vertikal. sehingga muncul kompetisi yang menyesatkan. mereka merasa kalah dan jatuh ketika visualisasi tidak memuaskan sekitarnya. setidaknya, menunggu satu dua kalimat pujian atau pengharapan. tidak sepenuhnya salah, hanya saja aku hampir muak dengan itu semua.”

“Tetapi Geni, kau tidak ingin repot-repot menampakkan bahkan lebih sering menyembunyikan diri. telinga yang selalu kau sumpali dengan earphone membuatku menebak bahwa awalnya kau manusia egois yang selalu sibuk dengan duniamu sendiri. apatis terhadap lingkungan dan hanya memikirkan tentang kesenangan milik pribadi. namun aku salah. menyimpulkan segalanya terlalu cepat. padahal aku belum lama mengenalmu."

"Di angkasa raya yang dingin. kudengar angin menyapu anak rambut seorang Geni yang lama menimbun sepi. berpikir tidak seorang pun mampu memahami. kau takut ketergantungan dan mengandalkan orang lain selain dirimu sendiri. kau takut seseorang mengambil alih duniamu dan mengikis kekuatanmu untuk berdaya-cita. kau takut seseorang merebut kesenanganmu dan mencoba menyetir kehidupanmu sebagaimana pemahaman  miliknya. tetapi sebenarnya, kau juga takut salah dan membebani Gen. kau takut setiap tindakan dan ucapanmu melukai, jadi kau memilih untuk terus menyendiri. kau takut tidak cukup baik baginya suatu waktu. kau takut kekuranganmu membuatnya malu."

"Sesungguhnya tidak Geni. kau cukup. setidaknya bagiku hadirmu adalah 'cukup'. jadi  bernyanyi-lah, karena aku akan mendengarkannya. mengeluh-lah, karena aku akan mendengarkannya. menangis-lah, karena aku juga akan mendengarkannya. dan berceritalah, aku dengan senang hati akan mendengarkannya.”

“Berikan aku kesempatan mendengarmu lebih sering Gen. berikan aku kesempatan menemukan ceritamu di sudut bumi yang sunyi. berikan aku kesempatan turut serta memeluk pilumu yang sering kau basuh sendiri. berikan aku kesempatan mendengar lirik sedihmu di malam hari. aku tidak akan pergi.”

***

Gara berhasil meyakinkanku untuk tumbuh bersama.

Seiring berjalannya waktu, aku merasa Gara bisa mengimbangi keanehanku. saat aku merasa perlu sendiri, Gara mempersilakanku mengambil jeda. hal itu tidak serta merta membuatku egois selalu ingin diperlakukan istimewa. seperti kata Gara, hubungan yang sehat selain konsistensi adalah saling melihat akibat dari dua sisi. baik untuk pertumbuhannya, baik juga untuk pertumbuhan diri kita.

Gara memberikan telinganya. ia membuatku percaya bahwa ceritaku juga layak didengar. keluh-kesahku juga hal yang wajar. kesenangan yang seperti ekstasi bukanlah sesuatu yang patut aku kejar. nyanyian dengan nada sumbang ternyata tidak mengapa jika ditertawakan. kerapuhan menjadi indah di matanya karena ia mau menerima bahwa aku tidak sempurna. Gara mencoba menunjukkan jalan baru menuju bahagia dengan canda dan tawa. keraguan menjadi tipis karena Gara berkomitmen mengutamakan sikap jujur dan setia. ia membuatku yakin bahwa aku juga manusia biasa, yang tak lepas dari kurang, lemah juga salah. dan Gara adalah seseorang yang bersedia melengkapinya.  

Lama mengenal Gara membuatku tahu kebiasaan kecilnya. aku bisa menyebut sederet panjang benda-benda yang Gara beli tetapi hampir semuanya hanya diletakkan di almari buffet rumahnya. Gara terkadang mendatangi sebuah toko lalu membawa pulang sepasang tempat lilin beraroma yang sudah diawetkan. di lain kesempatan, Gara membeli wadah ciamik yang dihiasi aneka fauna dari logam dan kotak tinta mengilat dengan laci kecil yang mempesona. di kunjungannya yang entah ke berapa, ia membeli perahu layar dalam botol dengan bercak biru tua di sekitaran penutupnya. 

Di hari yang lain, setelah menghabiskan akhir pekan di pantai kami singgah ke toko buku antik. mata Gara tertuju pada sebuah buku yang dipajang di rak paling belakang. bukunya setebal ensiklopedia dengan sampul berhuruf perak. kertasnya terasa halus dan licin. halamannya serasi dengan ilustrasinya yang indah. gambar-gambar itu dilapisi lembaran transparan. dan didepannya tertulis “cetakan kedua, 1855 - limited edition” dengan harga yang fantastis. aku melihat Gara berdiri terpaku mengamati buku itu dan membawanya pulang. aku sendiri tidak bisa melarangnya, karena Gara terlihat sangat bahagia.

Di suatu malam, aku memperhatikan Gara bekerja di bawah lampu terang dan dikelilingi dinding berlapis ubin putih beserta setumpuk buku di meja kamarnya. Gara senantiasa menerapkan kecerdasannya dalam setiap situasi dengan cara tersendiri. caranya bereaksi pada kecelakaan-kecelakaan kecil membuatku percaya bahwa Gara menjalani kehidupan penuh arti. 

Gara membaca tulisan-tulisan konyol milikku dan aku tidak keberatan ia menertawainya. di waktu luang, Gara mengajariku memasak makanan kesukaan ibunya dan menghidangkannya di bawah langit berbintang. kami menikmatinya sambil bertukar cerita. di hari-hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami menyempatkan diri berdiskusi di perpustakaan kota. sejak ada Gara, aku sering berkonsultasi terkait masalah dalam pekerjaanku. Gara memberi saran tanpa memerintah. hingga suatu hari ku-kabarkan kepindahanku dan ia berusaha memaklumi. 

“Aku masih mengikuti pendidikan profesi. maaf tidak bisa mengantar ke tempat kepindahanmu.” ujarnya setenang mungkin. ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan menjadi cengeng di hadapanku. 

“Jaga kesehatanmu di sana! jika ada cuti pasti akan langsung kukabari”. peluknya hangat sekali. aku mengangguk. tidak mampu membendung air mata.

“Gara! terima kasih untuk semuanya” batinku lirih. aroma dari wangi jaket kulit yang sering kudekap ini akan selalu kurindu.

***

Ini bulan ke-duaku di Distrik Ruga.

Cuaca di langit mempertontonkan awan berarak dan di sela-selanya tampak sepenggal klise berwarna biru muda. aku berpaling menaiki anak tangga. tangan kananku membopong laptop. sementara pipiku diterpa angin abadi yang bertiup dari balik jendela. sesampai di ruangan. mataku menatap jajaran rak buku yang terbentang. di sana-sini kursi masih rapi. dalam beberapa saat, tembok bernuansa beige dalam ruangan ini bermandikan cahaya matahari.

Aku menarik kursi paling pojok. berencana menikmati semilir angin. dari kejauhan sayup-sayup terdengar sebuah nyanyi persembahan riang dengan nada-nada yang menuntut sendu, lembut, juga penuh dengan pengharapan dan kasih sayang.

Bagaimanapun, akhirnya tiupan angin membuatku mengantuk. Distrik Ruga ini terletak jauh di pinggiran kota. dikelilingi oleh area persawahan. kebanyakan warganya berprofesi sebagai petani. aku sangat bersyukur ada perpustakaan di sekitar sini. walau berupa bangunan tua yang terlihat keramat. tetapi tempat sunyi seperti ini membakar kesepianku. tempat ini nyaris kosong. suasana terasa hening sekaligus muram. hanya diselingi bunyi angin. seolah hendak menina-bobokkan pengunjungnya yang hanya aku saja.

Aku mulai membuka laptop dan menulis beberapa baris. pikiranku melayang pada Gara. 

SEGARA WIDDHU KARSA.

Segara ! namanya berarti lautan.

Kau bisa memanggilnya dengan sebutan kebebasan. tetapi ia lumpuh digerogoti penderitaan.

Saat hatimu sudah mengeras. lautan akan terlihat begitu menawan. karena pada relung dari segala rahasia, laut memberi pesan agar jangan lupa jalan pulang ke rumah. 

Tetapi jangan jatuh cinta kepada lautan. cinta mereka sangat dalam. mereka akan merawatmu lewat ombak dan karangnya. kemudian mengaliri nadimu dengan euphoria. 

Jangan jatuh cinta kepada lautan. ia hanya mempunyai pilihan penuh. apa yang kau sebut bermain di pesisir adalah usahanya membasuh. 

Jangan jatuh cinta kepada lautan. deburnya adalah pelipur. ia akan mengasihimu lewat doa meski kau mengutukinya lewat sumpah serapah. 

Jangan jatuh cinta kepada lautan. karena dia hanya memberimu dua pilihan; menyelami keindahan ataukah mendapati diri mati tenggelam.

Jangan jatuh cinta kepada lautan. karena jika manusia memiliki kebijaksanaan yang ganjil, kau akan terpukau karena lautan menggenapinya. jika dunia begitu bising dan pilu membunuh asa, lautan akan berkata ;

“Tidak apa-apa, kau masih belajar menjadi manusia”

Jangan jatuh cinta kepada lautan. karena dia adalah tempat pulang bagi semua kemalangan. tetapi, aku sendiri sudah mencintainya.

Dia pengasih, sama seperti Tuhan alam semesta. 

Usai menulis, aku membereskan buku sekaligus laptopku dan bersiap pulang. jalanan menuju tempatku tinggal mengikuti tepian lembah. aku berjalan-jalan sejenak menuruni jalan setapak yang tersembunyi. dari sinilah aku bisa melihat dataran Distrik Ruga terbentang luas. petak-petak lahan pertanian dan hutan tampak jelas. di bawah sana tidak ada pabrik seperti di Kota Arpha yang mengepulkan asap dari cerobongnya. di tengah udara yang dingin dan bersih, jarak seakan diperpendek dan aku dapat mengulurkan tangan menyentuh benda-benda jauh di bawah sana.

Seolah tak bosan memandang takjub bukit putih yang berdesakan di kejauhan dengan puncak-puncaknya yang berkilauan. tembok batu kapur terbentang di sepanjang lereng bukit membelah jalan padang hijau berselimutkan tanaman heather. bunga-bunga daffodil bermekaran di antara semak-semak dan tanaman wisteria yang merambat  tinggi menutupi batu-batu di tepi jalanan. aku mendongak ke arah burung gagak yang bersarang di dahan pohon elm. sambil melangkah menantang angin, aku berdiri dengan hening diantara bunga berwarna ungu dan lumut hijau di bawah bentangan langit biru.

Di sini, aku menemukan damai dan sejahtera.

Perpustakaan di atas bukit? itu sempurna.

Gara-! kau harus melihat secara nyata pemandangan ini bersamaku secepatnya

***

0 comments:

Post a Comment

My Instagram